Mohon tunggu...
Marissa Tika Dian Niswara
Marissa Tika Dian Niswara Mohon Tunggu... Mahasiswa - Menempuh pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Prodi Sastra Indonesia

Nama saya Marissa Tika Dian Niswara, saya sedang menempuh pendidikan S1 di Universitas Ahmad Dahlan Prodi Sastra Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Sastra Indonesia dalam Prespektif Islam

30 Juli 2022   08:46 Diperbarui: 30 Juli 2022   08:50 70 2 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Sejak dulu sastra merupakan pendamping perjalanan sejarah Indonesia. Sastra sendiri merupakan salah satu media yang dijadikan wadah untuk menuliskan kisah-kisah yang terjadi pada saat perkembangan Indonesia. Selain itu, sejarah perkembangan Islam sering dikisahkan dalam bentuk puisi atau syair. Karya sastra cenderung pada keindahan dan estetikanya, sebab sastra merupakan ungkapan perasaan dan pemikiran manusia yang kemudian direpresentasikan menjadi berbagai macam karya sastra yang berbeda-beda. 

Pengaruh kepercayaan atau agama terhadap sastra dapat dilihat dari bagaimana sastra itu berperan dan berfungsi di dalam lingkungan masyarakat. Jika kita lihat dari segi fungsi sastra di dalam masyarakat masih terbilang normal terlebih dalam hubungan fungsi estetik dengan fungsi lain seperti sosial dan agama.

Keberadaan sastra Islam di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal tersebut dapat ditandai dengan banyaknya fiksi bernuansa keslaman yang sedang membanjiri dunia penerbitan dan penulisan di dalam negeri. Setiap tahun bahkan setiap bulan dapat dikatakan selalu muncul nama penulis baru dengan karya-karya terbarunya yang diterbitkan dalam bentuk buku atau karya sastra sejenisnya. 

Buku-buku fiksi yang bernuansa Islam saat ini banyak diminati oleh masyarakat, karena dapat kita ketahui bahwa isi dari buku sastra Islam tersebut tidak hanya sekedar sebagai hiburan semata, namun memberikan motivasi religius dan pencerahan jiwa pada pembacanya. Hal tersebut dapat memberikan manfaat, khususnya untuk meningkatkan wawasan ilmu pengetahuan, memberikan pemahaman, dan keyakinan dalam hidup beragama.

Agama dan sastra merupakan dua hal yang dapat dikatakan saling berkaitan. Atmosuwito mengatakan bahwa sastra merupakan bagian dari agama. Di dalam agama terdapat nilai-nilai yang dapat diambil pelajarannya oleh masyarakat khususnya para pecinta sastra. Apalagi kaitan hal ini sastra membutuhkan ilmu lain dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas isi sebuah karya di dalamnya. Sebuah karya sastra akan lebih bermakna dan bermanfaat Dengan demikian, kaitan sastra dan nilai-nilai ajaran keagamaan yang sering diistilahkan sebagai pesan moral. Hubungan sastra dengan Islam sendiri seperti dalam isi Alquran yang telah memberikan banyak inspirasi sastrawan maupun ulama pada masa itu untuk menulis kitab dan karya sastra.

Keindahan bahasa di dalam Alquran memang tidak dapat diragukan lagi. Alquran juga mengandung banyak kisah yang memiliki unsur sastra di dalamnya. Sastra memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan dan nilai kepada pembaca dalam tradisi pendidikan Islam. Bangsa Arab dari zaman dahulu sudah sangat akrab dengan syair-syair. Syair merupakan salah satu bentuk karya sastra. Syair biasanya digunakan sebagi alat atau media untuk dakwah dan menyebarkan agama Islam. Bukan hanya itu, syair juga merupakan sebuah cerita pelipurlara pada saat itu.

Di dalam Alquran menceritakan banyak kisah seperti kisah sahabat, cerita para nabi, kisah hari akhir, dan masih banyak lainnya lagi. Berbagai kisah tersebut benar adanya dan harus diyakini. Kaitannya dengan peran sastra di dalamnya dapat kita lihat dari estetika bahasa yang digunakan. Dapat dikatakan bahasa dalam berbagai kisah yang terdapat di Alquran merupakan sastra tingkat tinggi. Hubungan antara Alquran dan sastra dapat dilihat dari tiga hal. Pertama, yaitu dari pandangan estetika, hubungan karya sastra dengan keindahan ruang keislaman. 

Kedua, yaitu pada pembelajaran yang mengarah terhadap etika dalam konteks humaniora. Ketiga, yaitu berkaitan dengan ekspresif dalam konteks keislaman. Dilihat dari perspektif Alquran, tujuan utama sastra adalah untuk membangun dan membangun kembali kerinduan manusia kepada Tuhan sebagai bentuk spiritual. Bukan hanya itu, sastra juga bertujuan menyadarkan manusia atas diri dan lingkungannya sebagai dimensi moral. kisah-kisah yang berada dalam Alquran tersebut memiliki unsur sastra di dalamnya.

Menelaah mengenai karya sastra juga harus berpedoman pada peranan teori sastra, karena teori sastra memiliki unsur-unsur yang terdapat di dalam teks sastra. Hal tersebut tentu tidak dapat dilepaskan dari proses analisis sastra baik secara intrinsik maupun ekstrinsik. Kedua aspek tersebut dapat saling membantu dan menjelaskan. Dengan mengabaikan beberapa aspek tersebut, maka kesimpulan- kesimpulan yang didapatkan hanya berupa kemungkinan saja. Sebaliknya, jika tidak mengindahkan aspek intrinsik, susunan struktur karya sastra akan berantakan dan sulit dijelaskan. Selain itu, peranan biografi pengarang juga tidak kalah penting, yang berguna untuk memberikan data tentang asal mula karya sastra itu dibuat dengan latar belakang penulisnya. Pemparan tentang biografi pengarang dapat membantu memeberikan sejumlah data untuk mengatasi kesulitan yang mungkin dijumpai dalam proses pemahaman mengenai isi dari karya astra tersebut.

Karya sastra dan pengarangnya tentu memiliki hubungan batin yang sangat kuat. Hubungan batin yang dimaksud merupakan cerminan dari segi pendidikan, kejiwaan, filsafat, pandangan sosial, dan keagamaan. Bahasa dalam teks sastra terutama pada sastra Islam tidak hanya dominan sebagai sarana komunikasi saja, karena bahasa dapat digunakan untuk berbagai hal tanpa batasan. Hal itu mengakibatkan kalimat yang ada di dalam karya sastra sering bersifat ambigu, simbolik, abstrak, dan inkonvensional. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dalam membentuk estetika, bahasa tersebut sering digunakan dalam permaianan kata yang direfleksikan dengan ungkapan makna yang bersifat imajinatif dan inspiratif. Makna tersebut yang berfungsi memberikan keindahan pada isi sebuah karya sastra.

Sudah sejak dulu kita mengenal aadanya tokoh-tokoh sastrawan yang juga adalah seorang muslim, pelaku tasawuf, dan juga merupakan wali Allah. Beberapa sastrawan itu adalah Jalaluddin Rumi, Mohammad Iqbal, Fariduddin Attar, Abdul Hadi WM, Emha, Kangjeng Sunan Kalijaga, lainnya. Para sastrawan islam tersebut berupaya mengembangkan nilai keindahan pada sastra Islam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan