Mohon tunggu...
Marhento Wintolo
Marhento Wintolo Mohon Tunggu... Arsitek - Pensiunan Dosen

Ayurveda Hypnotherapist

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Ini Penyebab Kita Tidak Bahagia

30 April 2024   06:30 Diperbarui: 30 April 2024   06:54 106
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber gambar: https://www.merdeka.com/

Kebahagiaan terjadi ketika kita bisa bebas dari Kondisi yang diciptakan oleh masyarakat sekeliling kita. Ini sebabnya bias tercipta istilah Fear of Missing Out (FoMO). Istilah yang diciptakan oleh generasi Z (GenZ). Seakan bila tidak mengikuti suatu trend, kita kehilangan sesuatu. Ini penyebab kita menderita. Kita hanya korban perasaan terombang - ambingkan oleh pendapat masyarakat. Tanpa sadar kita menjadi budak masyarakat. Kita belum seutuhnya menjadi diri sendiri. Kita telah menyerahkan remote control perasaan pada orang lain.

Kita sulit melepaskan diri dari keadaan ini. Mengapa? Sejak kecil kita hidup dalam alam jaga. Seperti itulah keadaan masyarakat ini Pada umumnya. Inilah yang disebut sebagai kesadaran jaga, bukan alam kesadaran.

Alam jaga adalah ketika kita bangun tidur kita melakukan kebiasaan rutin. Hanya mengikuti perasaan lapisan luar tubuh kita, Inilah yang disebut kesadaran fisik. Kesadaran yang hanya mengikuti kenyamnana tubuh atau indrawi. Mandi atau sarapan tanpa menyadari seutuhnya apa yang kita lakukan. Kebiasaan rutinitas yang telah diciptakan oleh masyarakat sjeik lama. 

Seringkali kita makan sesuatu yang sesungguhnya tidak membuat badan kita sehat. Semata hanya memperturutkan kenyamanan lidah, bukan ditujukan untuk kesehatan tubuh. Dengan kata lain yang kita makan bisa merusak tubuh kita. Seperti burger merupakan makanan overcook.  Jenis makanan yang sudah mengalami proses berulang kali telah kehilangan gizi. Bukan makanan yang sehat. Mie instant juga termasuk, makanan yang hanya mengenyangkan, tetapi tanpa gizi.

Misalnya, kita makan daging. Makan sate atau steak ataupun burger. Atau jenis makanan yang sedang viral karena banyak orang yang memburunya, belum tentu makanan sehat. Hanya karena banyak orang yang makan, kemudian membicarakan bahwa makan tersebut enak, kita juga ikutan. Kebanyakan makanan yang tampaknya enak belum tentu sehat. Kita lupa merenungkan bahwa makanan jenis daging sesunggunya bukanlah makanan manusia.

Coba perhatikan susunan gigi manusia. Hanya ada 2 taring di bagian atas gigi manusia, kanan dan kiri. Bandingkan dengan susunan gigi harimau atau ikan hiu. Seluruh gigi mereka runcing. Dan kita kenal mereka sebagai pemakan daging atau carnivora. Panjang usus kita juga bd dengan hewan pemakan daging. Usus hewan carnivora jauh lebih pendek.


Mereka yang dalam alam jaga, tidak perduli hal ini. Mereka makan karena enak. Itupun seringkali mengikuti pendapat orang. Bila tidak mengikuti tren yang diciptakan masyarakat, kita tertinggal. Sama sekali tidak memiliki kebebasan untuk menyatakan pendapat. Atau kita takut disebut ketinggalan. Kita lupa lahir dan mati sendiri.

Lain halnya jika kita makan dengan kesadaran. Di sinilah kita menggunakan pemikiran kritis atau critical thinking. Saat kita akan berpikir, ada pertanyaan : "Apakah makanan ini membuat jiwa saya semakin sehat?'

Banyak penelitian dari pengalaman bahwa memakan daging tidak menjadikan emosi semakin baik. Karena dalam daging mengandung sifat reaktif hewan. Sifat cepat pemarah dan langsung reaktif adalah sifat hewan. Inilah sifat asli hewan yang belum memiliki neocortex, mereka masih menggunakan otak mamalia, sehingga mereka yang cepat marah dan sangat reaktif.

Ada suatu pengalaman yang menarik. Beberapa tahun yang lalu, saya bertemu dengan seseorang. Ia bercerita, ketika dahulu tidak makan daging, ia memiliki sifat yang sabar. Sekarang ia makan daging. Dan ia merasakah gampang cepat naik darah. Akibatnya bisa diduga, ia menderita karena diperbudak oleh hawa nafsu amarah. Ia menjadi tidak bahagia.

Seseorang yang tidak bahagia karena ia diperbudak oleh hawa nafsunya. Ia belum menjadi diri sendiri. Ketika seseorang bebas dari nafsu yang memperbudak dirinya, ia bisa merasakan kebahagiaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun