Mohon tunggu...
Margaretha
Margaretha Mohon Tunggu... A passionate learner - Ad Astra Abyssoque.

Margaretha. Pengajar, Peneliti, serta Konselor Anak dan Remaja di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Saat ini sedang menempuh studi lanjut di the University of Melbourne.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Pornografi Mengancam Pribadi, Relasi, dan Komunitas (Bagian I)

24 Januari 2021   00:07 Diperbarui: 19 Februari 2021   10:24 1415 18 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pornografi Mengancam Pribadi, Relasi, dan Komunitas (Bagian I)
ilustrasi kasus pornografi. (Foto: KOMPAS/WAWAN H PRABOWO/APP)

Semakin banyak persoalan relasi yang terjadi, baik dengan diri sendiri, juga antar pribadi, seperti antar kekasih, suami-istri, bahkan antara manusia di dalam komunitas. 

Biasanya, saya mencoba memahami persoalan satu-persatu, serta faktor-faktor unik yang mempengaruhi kondisi masing-masing. 

Namun, setelah melihat dan membaca berbagai riset tentang pornografi, saya memahami, bahwa ketergantungan pornografi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi munculnya persoalan pribadi dan antar pribadi. 

Salah satu ancaman di kehidupan modern dan global ini adalah pornografi. Pornografi dapat merusak kemampuan individu menjalin koneksi/keterhubungan dengan manusia lain yang menjadi tulang punggung lahirnya keluarga dan komunitas. Artinya, pornografi beresiko menghancurkan pribadi, relasi dan komunitas kita.

Pornografi adalah supernormal stimulus
Pada tahun 2016, dilaporkan sekitar 92 milyar video porno di tonton, dan tahun 2018 naik menjadi lebih dari 109 milyar video dari satu situs pornografi bernama Pornhub (Fight the new drugs, 2020). 

Tahun 2019, akses pornografi di Pornhub terhitung sekitar 5,8 milyar jam. Pada saat ini, pornografi adalah bagian hidup manusia modern.

Pornografi adalah gambar, media, tulisan yang membangkitkan rangsangan seksual. Secara khas, pornografi akan menampilkan stimulus seksual dibuat secara berlebih-lebih (lebih intensif, lebih lama, lebih kuat, lebih bervariasi, disertai dengan fantasi yang mungkin sulit dilakukan oleh pasangan tipikal). 

Tampilan seksual berlebih-lebih ini dibuat dengan edit dan rekayasa tertentu, atau seks yang ditampilkan adalah tidak alamiah, tidak sebenarnya. Pornografi adalah stimulus supernormal (supernormal stimulus) yang sangat menarik bagi manusia kebanyakan.

Tahun 1950an, peneliti Nikolaas Tinbergen melihat di alam, ada burung betina yang lebih memilih mengerami telur yang besar dan warna yang lebih cantik-menonjol walaupun itu bukan telur miliknya; bahkan akhirnya si burung meninggalkan telur miliknya yang warnanya kurang bagus dan tidak dierami. Si burung lebih memilih merawat dan mengasuh (caring and parenting) telur yang supernormal.

Lalu, Tinbergen melakukan eksperimen dampak stimulus supernormal pada perilaku kawin kupu-kupu. Ia membuat kupu-kupu kertas dengan warna yang kuat menonjol, lalu menaruhnya di antara kupu-kupu jantan dan betina. 

Ia menemukan bahwa kupu-kupu jantan beramai-ramai lebih memilih kawin dengan kupu-kupu kertas dengan warna yang menonjol dan mengabaikan kupu-kupu betina alami yang ada di sekitarnya. Kupu-kupu jantan lebih memilih supernormal stimulus untuk kawin (mating).

Melanjutkan dari riset Tinbegern ini, peneliti Deirdre Barrett menyimpulkan stimulus supernormal adalah versi stimulus yang dilebih-lebihkan sehingga memiliki kemampuan yang lebih kuat untuk memunculkan respon/perilaku instingtual jika dibandingkan dengan kemampuan stimulus alami/normal. Dampak penggunaan stimulus supernormal adalah stimulus normal menjadi kurang/tidak diminati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x