Afifuddin lubis
Afifuddin lubis Pensiunan PNS

Selalulah belajar dari siapapun

Selanjutnya

Tutup

Fesyen Artikel Utama

Apakah Anda Memakai Batik Hari Ini?

2 Oktober 2018   08:00 Diperbarui: 2 Oktober 2018   11:06 2414 9 7
Apakah Anda Memakai Batik Hari Ini?
Ragam motif batik kudus.(KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWAN)

Sewaktu remaja ketika masih tinggal di Padangsidimpuan, kota berukuran sedang di Sumatera Utara, saya menganggap batik identik dengan pakaian "orang Jawa". Pada masa sekitar tahun enam puluhan itu, masih sangat jarang orang memakai baju batik di kota tempat saya tinggal.

Seingat saya, pada masa itu kalau menghadiri berbagai acara seperti resepsi perkawinan yang digunakan adalah "baju biasa", misalnya kemeja tangan panjang berwarna polos. Kalau ada acara di sekolah, para guru pun tidak memakai baju batik.

Munculnya anggapan di pikiran saya, bahwa batik pakaian orang Jawa karena di kota tempat tinggal saya itu hanya warga kota yang berasal dari etnik Jawa lah yang memakai baju batik. 

Pakaian batik yang mereka gunakan sangat berbau Jawa dengan motif lurik lurik dan penutup kepala yang mereka gunakan, yaitu blangkon juga bermotif batik.

Sesudah tahun tujuh puluhan dan sudah tinggal di Medan, saya melihat baju batik sudah semakin banyak digunakan dan coraknya pun sudah beragam. Corak beragam itu sekaligus meninggalkan kesan bahwa batik sangat identik dengan Jawa.

Para pejabat pun saya lihat mulai banyak yang menggunakan batik. Pada masa itu terkenal istilah "Batik Ali Sadikin", walaupun saya tidak tahu persis seperti apa corak atau motif batik yang digunakan Gubernur DKI itu. Lama kelamaan baju batik semakin banyak digunakan dan kemudian menjadi busana resmi.

Pada berbagai surat undangan dengan jelas tertera ,pakaian yang digunakan pada acara itu adalah batik. Beragam corak dan warna batik juga muncul dengan berbagai motif yang semakin menarik. 

Sangat cantik terlihat batik dengan motif lokal seperti motif "ulos", yaitu kain adat yang identik dengan suku Batak. Begitu juga halnya batik dengan bercorak Melayu sangat cantik dipandang mata ketika dipakai.

Para pejabat maupun para pengusaha banyak yang mengenakan batik sutra yang harganya jutaan.

Tidak dapat dimungkiri bahwa semakin massalnya pemakaian baju atau kain batik itu tidak dapat dilepaskan dari adanya kemauan pemerintah untuk menjadikan batik sebagai pakaian nasional.

Pemerintahan Suharto juga sangat giat berusaha memperkenalkan batik pada tingkat internasional.

Sewaktu Konperensi Tingkat Tinggi Pemimpin negara negara APEC tahun 1996, ada sesi foto bersama di Istana Bogor. Semua kepala negara anggota APEC mengenakan batik pada sesi foto itu. Suharto, Bill Clinton, Presiden Amerika Serikat dan kepala negara lainnya juga menggunakan baju batik.

Menurut Wikipedia, teknik batik kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke 7 atau ke 6 (pendapat G.P.Rouffaer). Namun arkeolog Belanda, J.L.A. Branders dan F. A. Sutjipto yang merupakan sejarawan Indonesia, percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera dan Papua. Daerah-daerah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme, tetapi diketahui memiliki tradisi kuno membuat batik.

Batik juga dipercaya sudah ada pada masa Majapahit dan sudah populer pada akhir abad XIII. Dalam literatur Eropa, teknik batik pertama kali diceritakan dalam buku History of Java yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles. Tokoh yang masyhur ini pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa.

Dikisahkan pada 1873 seorang saudagar Belanda, Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam Belanda.

Kemudian pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman ketika dipamerkan di Exposition Universelle Paris.

Dengan berbagai informasi yang demikian, sangat jelaslah bahwa batik adalah bahagian dari budaya Indonesia. Mengingat batik adalah bahagian dari kekayaan bangsa, maka Pemerintah RI pada tahun 2008 mendaftarkan batik ke dalam jajaran daftar Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi ke UNESCO.

Sejalan dengan pendaptaran tersebut maka Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi serta pengembangan motif dan budaya yang terkait pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO, telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the oral and Intangible Heritage of Humanity).

Kemudian melalui Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009, tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional. Sejak penetapan itu, kita menyaksikan beragam cara masyarakat untuk "merayakannya". Misalnya kafe yang memberi potongan harga bagi pengunjung yang mengenakan baju batik. Ada juga toko toko batik yang memberi potongan harga spesial.

Untuk tahun ini, Pusat Perbelanjaan Thamrin City, Jakarta merayakan Hari Batik Nasional dengan menggelar pameran baju batik selama empat hari, yaitu 29 Sepember hingga 2 Oktober 2018. Kemudian menggembirakan juga di berbagai daerah juga bermunculan batik dengan motif daerah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2