Maman A Rahman
Maman A Rahman Peneliti, Penulis Lepas

Alumni Filsafat dan Mistisisme IAIN Jakarta dan Mengkaji Islam dan Psikologi di UI. Menyukai sastra. Tinggal di Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Angel Si Gadis Bercahaya Biru

14 September 2018   08:29 Diperbarui: 14 September 2018   12:48 581 3 1
Angel Si Gadis Bercahaya Biru
Ilustrasi (Foto: pixabay.com)

Namanya Angel. Ia lahir 17 tahun yang lalu di sebuah klinik bersalin di kota J. Sejak kecil ia mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan anak seusianya. Ia mampu mendengar suara yang tidak didengar orang lain. Ia mampu mencium sesuatu yang orang lain tidak menciumnya. Ia bisa melihat makhluk-makhluk halus disekitarnya bahkan ia mampu menerawang apa yang bakal terjadi.   

Satu sisi kemampuannnya itu membuat dirinya menjadi orang spesial. Sering orang-orang menyebutnya sebagai "anak ajaib" atau "titisan dewa" atau orang yang mempunyai kelebihan. Kemampuannya itu seringkali dimanfaatkan temen-temannya untuk dimintai tolong, mencari barang yang hilang atau dicuri atau menerawang kehidupan temannya. Tapi biasanya ia menolaknya dengan halus. "Ma'af ya, aku gak bisa apa-apa kok."

Angel baru kelas 1 SMAN di kota Kabupaten tempat kelahirannya. Angel juga mempunyai kemampuan membaca pikiran orang lain dan mempengaruhinya. Suatu hari buku catatan pelajarannya dipinjam oleh teman sekelasnya. Waktu itu ia sangat butuh dengan bukunya itu. Ia hanya konsentrasi meminta temennya itu segera mengembalikan bukunya. Tidak butuh waktu lama, temennya itu datang mengembalikan bukunya itu tanpa ia sadar telah dipengaruhi pikirannya.

Begitulah kehidupan Angel. Ia mempunyai kemampuan yang luar biasa. Tapi satu hal yang mengganjal dihatinya adalah ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya yaitu sosok seorang ayah. Selama ini ia hidup hanya bersama Ibunya dan seorang laki-laki yang ia panggil Pak De. Suatu waktu, ia pernah bertanya kepada Ibunya apakah Pak De itu ayahnya? Ibunya hanya diam. "Suatu sa'at Ibu akan menceritakan segalanya. Tapi bukan sekarang," Kata Ibunya waktu itu.

Jawaban Ibunya itu justru membuat gadis yang mulai menginjak puber itu semakin penasaran dan memendam rindu pada sosok ayah biologisnya.

***

Reni, Ibunya Angel,  adalah sahabat karibku waktu aku kuliah di Kota J. Dia perempuan mandiri diusianya yang masih belia. Ia berhasil menyelesaikan kuliahnya sampai jenjang Master. Dengan pendidikan yang  lumayan tinggi itu dia dapat bekerja sesuai dengan keahliannya. Ia gadis luwes yang mudah bergaul. Tidak heran temannya  banyak. Terutama  dari kalangan pebisnis. Ia sendiri, selepas kuliah menekuni enterpreneurship.   

Kami sering kemana-mana berdua: membeli buku, makan bakso, kemana pun. Kadang aku ngobrol dengannya sampai berjam-jam. Tak terhitung aku menginap di kontrakannya. Begitu pun Reni. Sampai suatu ketika kejadian yang mengenaskan menimpanya.  Sebenarnya aku tidak tahu sebelumnya kalau Reni tidak bercerita di suata malam di kontrakannya.

"Rat, aku lagi bingung."  Dia memulai membuka mulut.
"Bingung kenapa Ren." Tanyaku penasaran.
"aku sudah sebulan gak mens."
"Kenapa Ren? Kamu lagi sakit? atau..."
  aku tidak tega melanjutkan.
"Sepertinya..... aku....."
"Apa?"
"kamu melakukannya dengan pacarmu?"
ia menggeleng lemah.
"lalu sama siapa?"
Aku seperti seorang Ibu yang marah pada  anaknya yang gak mau makan atau  main hp tak tahu waktu.
aku memberondong Reni dengan peluru pertanyaan.
Reni akhirnya memelukku dengan erat. Air matanya tak sanggup lagi dibendung. Membasahi bajuku. Pundakku.
Kami terdiam beberapa saat. Hanya nafas kami yang memburu.      

Setelah tenang. Ia melepas pelukannya. Ia menyeka air matanya dengan tisu. Sementara TV di kamarnya sedang menyiarkan berita sebuah bom meledak di Kedubes Malaysia di Jakarta. Granat meledak di kompleks Kedutaan Besar Malaysia di Kuningan.  

Reni tak memperdulikannya. Ia mematikan TV. "muak aku melihat berita kekerasan  itu." Ketusnya.
"Rat, aku ingin cerita kejadian yang sebenarnya.  Aku yakin kamu adalah sabahat terbaikku. Aku ingin berbagi  rahasiaku agar aku tidak terlalu berat menanggungnya."
aku hanya mengangguk pelan.

Dia mulai bercerita.

Di sebuah hotel, aku dipaksa melayani nafsu bejadnya. Pintu kamar di kunci, aku tak berdaya untuk lari. Kejadian nista itu pun terjadi padaku. 

Ia menarik nafas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.

Kisah berawal dari pertemuanku dengan teman bisnisku, sebut saja namanya B. Ia menungguku di stasiun kereta di kota J. Aku tidak  menyangka dia akan menunggu kedatanganku di stasiun. Meski sebelumnya kami berkomunikasi. Aku tidak mengira dia ada di kota yang sama, karena selama ini dia tinggal di kota K. Ini mungkin salah satu kesalahanku. 

Wajahnya memperlihatkan penyesalan yang dalam.

Awalnya, aku berencana menuju kota J dengan BUS, tetapi ternyata aku tidak mendapatkan kendaraan itu. Terpaksa aku menggunakan transportasi kereta.  Saat itu aku sesungguhnya punya janji dengan pacarku: bertemu di terminal BUS. Aku sengaja tidak mengabari perubahan ini kepada pacarku, ingin membuat surprise, pikirku.  

Ketika aku sampai di stasiun, B sudah menunggu dengan keadaan terlihat sakit dan kemudian ia pingsan di hadapanku. Aku sangat bingung saat itu. Alam pikiranku membisikan, aku tidak mungkin membawanya ke tempat kontrakanku. Akhirnya aku putuskan dia kubawa ke sebuah hotel. Putusanku itu ternyata salah, ia menjebakku. Ia pura-pura sakit dan kemudian memaksaku melakukan perbuatan yang dilarang agama.  

Dengan kejadian itu, aku sangat terpukul. Aku merasa sudah tidak pantas lagi bersama pacarku yang sudah siap meminangku. Dia begitu baik dan terlalu baik untukku. Aku merasa tidak adil kalau pacarku harus menanggung keadaan ini. Aku berterus terang kejadian yang menimpaku pada pacarku. Sampai pada keadaanku dinyatakan positif hamil.  Pacarku tetap bersedia untuk menikah denganku. Aku sendiri yang tidak bersedia. 

Kehamilanku semakin membesar. Aku bertekad meneruskan kehamilanku dengan keadaanku yang jauh dari keluarga. Aku tidak mau keluargaku mengetahui masalah yang menimpaku.  Bukan aku tidak tahu, kalau ada banyak layanan yang siap membantu menggugurkan kandunganku. Tapi itu aku tidak lakukan. 

Aku ingin menjadi Ibu dari janin yang ada di rahimku.  Banyak juga orang yang bersedia menjadi orang tua dari calon bayiku. Bahkan ada "orang pintar" yang mendatangiku dan menghubungiku berulang kali untuk menanyakan kemungkinan aku berubah pikiran, memberikan calon bayi untuknya. Tetapi aku  mantap untuk meneruskan kehamilanku dengan rahimku sendiri dan akan membesarkan bayi tersebut kelak kalau lahir.  

Aku tetap merahasiakan kehamilanku pada orang tuaku. Bagiku, bukan hanya persoalan kehormatan keluarga tapi lebih dari itu yaitu amanah Tuhan atas bayi itu.  Untuk bisa bertahan hidup, aku bekerja keras dengan kondisi kehamilanku terus membesar.  

Kehamilanku terus membesar. Meski aku bertekad untuk meneruskan kehamilanku. Tapi ada saat-saat aku merasa down dan sempat punya pikiran untuk mengakhiri kehamilanku dengan meminum obat peluntur. Namun akhirnya aku sadar dan kembali menyelamatkan janinku dengan meminum air kelapa hijau muda. Syukur, janinku selamat dan aku semakin kuat untuk meneruskan kehamilanku. 

Aku semakin kuat untuk meneruskan kehamilanku setelah ada kejadian yang berbau mistis terjadi padaku. Ketika aku pulang kampung, karena ayahku sakit keras, aku sangat khawatir kehamilanku diketahui keluargaku. Tapi aneh, kehamilanku tidak terlihat sama sekali, perutku kempes.  Namun ketika aku masuk kamar, perutku perlahan membesar kembali layaknya orang hamil. 

Kejadian berbau mistis lainnya terjadi ketika ketika usia kehamilanku semakin mendekati kelahiran. Di kamarku terlihat cahaya biru melingkupi tempat istirahatku itu. Aku sendiri tidak memahami kejadian itu.  Sampai ada "orang pintar" yang memberi tahu bahwa janin yang aku kandung adalah orang yang ratusan tahun yang lalu menunggu untuk dilahirkan melaluiku.  Sekali lagi, aku tidak memahami keanehan-keanehan ini. Tetapi aku terus mencoba bertanya pada orang yang lebih tahu dan membaca berbagai literatur tentang kejadian mistis yang aku alami.    

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2