Mohon tunggu...
MAMA GAGA
MAMA GAGA Mohon Tunggu... Wiraswasta - MOMPRENEURSHIP

Hanya wanita biasa yang selalu ingin belajar hal yang baru, bukan wanita pekerja kantoran namun punya office hour 9 am till 9 pm, wanita yang lebih memilih makan bakso tetelan dibanding korean bbq

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Para Wanita Pendosa

5 Maret 2024   17:45 Diperbarui: 5 Maret 2024   17:47 148
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Place de la revolution, 16 Oktober 1793

"Penggal kepala wanita itu!! Wanita pengkhianat!! Wanita penzina!!" Seruan-seruan keluar dari mulut-mulut para manusia suci merasa tanpa dosa. Di hadapan mereka, tertunduk sesosok wanita dalam balutan gaun putih bersiap menaiki panggung eksekusi. Hatinya risau, memikirkan bagaimana nasib kelima anak-anaknya kelak. Dan tanpa sadar, kaki kurusnya menginjak kaki besar sang penjagal."Pardonnez moi, Monseur. Je ne l'ai pas fait express," suara lembut wanita dari balik kain penutup kepala itu meminta maaf. Tak pernah sang penjagal mendengar permohonan maaf setulus itu seumur hidupnya. Namun tugas tetap harus ditunaikan. Di bawah pisau guillotine yang berkilat, wanita itu dibungkukkan, dengan sekali tebasan pisau itu meluncur cepat. Sedetik kemudian riuh suara kemenangan bersorak gegap gempita. "Viva la nation, la victorie du peuple!!" Merayakan terpenggalnya kepala seorang wanita.

Dan di atas sana, malaikat terheran-heran menyambut ruh wanita itu melayang-layang penuh kesedihan."Dosa apa yang telah kau perbuat, hingga manusia menghukum mu begitu kejam?" tanya mereka ingin tau. Wajah linglungnya berpikir merenung, "Mungkin saja aku terlalu mencintai keindahan dan terlalu bernafsu mendapatkannya." Para malaikat menghela nafas sambil membatin. "Sedari dulu, dosa kalian selalu saja sama." Masih tak lekang di ingatan para malaikat suci ini, bagaimana Eve dilemparkan dari surga dulu.

Semarang, 06 Maret 2024 

"Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga..." Tiupan lembut putri kecilnya, memadamkan pijar lilin yang berpendar. Evita mencium lembut pipi anak itu, memeluknya erat seraya mengucapkan selamat ulang tahun. Tiba-tiba saja derap langkah mengepung mendekat, orang-orang berwajah beringas muncul dari segala penjuru, mengacungkan microphone dan alat perekam.

"Gimana Bu Evita, enak nggak makan uang rakyat?" tanya seorang lelaki melecehkan. "Siapa saja yang terlibat Bu, apa anak ketua partai juga ikut menikmati?" tanya lainnya.

Evita terpekur, sambil memeluk anaknya ia berlari menghindar, namun tak bisa, kungkungan orang-orang itu seakan tak mau melepaskannya. Hingga pada satu titik, dirinya menangis dan berteriak. "Tolongg!!!" Lolongan Evita memecah kesunyian, Ia terbangun, berpeluh. Nafasnya menderu, dipandanginya sekitar, dirinya masih ada di tempat yang sama, di atas sebuah karpet lusuh, berhimpitan dengan para tahanan wanita lainnya. Perlahan, udara pengap penjara menarik kesadarannya, membangunkannya dari mimpi buruk.

Mungkin saja Ia sedang sangat-sangat merindukan Sofie, putri kecil yang ditinggalkannya hanya dengan pembantu. Terbayang senyum manis gigi susu anak itu, membuat dadanya semakin perih. Sebentar lagi anak itu akan berulang tahun, dan Evita tak bisa menemaninya untuk sekedar meniup lilin.

"Terkutuk kalian." Lagi, makian penuh amarah terlontar dari bibirnya. Mengingat bagaimana rekan-rekannya dulu telah menjerumuskannya dalam lembah dosa suap-menyuap, dan bak lingkaran setan dirinya tak mudah keluar. Namun sesungguhnya, Ia tau, makian itu ditujukan untuk dirinya sendiri, wanita bodoh yang terbuai tipu daya dunia, menggadaikan idealismenya demi segepok uang dan jabatan. "Aku wanita bodoh, wanita pendosa," ratapnya penuh penyesalan. Evita tak lagi mengantuk, dan malam ini, kembali Ia terjaga, merenungi kealpaannya.

"Belum tidur Jeng?" sapa seorang wanita di sebelahnya, wanita itu menatapnya dengan mata nyaris terpejam. Evita menggeleng. Dari balik terali, sinar lampu di lorong memantulkan air matanya. Wanita yang sedang berbaring itu menangkap kegusarannya, perlahan Ia beringsut bangun. "Apa yang anda sedihkan Jeng?" Evita tak menjawab, Ia malas mengobrol, lagipula mereka berdua tak saling kenal. Sebuah kebetulan semata, mereka bertemu dalam penjara ini.

Wanita itu lalu duduk tepat di sebelahnya, memandangnya iba. "Pasti rindu anak ya?" tanyanya penuh ingin tau. Evita mengalihkan pandangan, menghapus air matanya dan mengelak. "Memang berat, tapi nanti terbiasa, asal bukan untuk selamanya," gumamnya seolah mengerti.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun