Mohon tunggu...
MomAbel
MomAbel Mohon Tunggu... Mom of 2

Belajar menulis untuk berbagi... #wisatakeluarga

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Artikel Utama

Kurangi Perilaku Konsumtif dengan "Beberes"

15 Juni 2019   07:00 Diperbarui: 15 Juni 2019   22:08 0 7 2 Mohon Tunggu...
Kurangi Perilaku Konsumtif dengan "Beberes"
Gambar ilustrasi : gulftoday.ae

Hobi belanja sungguh sangat menyenangkan dan memuaskan hati. Tapi jika tidak di rem, akibatnya rumah menjadi "gudang" tumpukan barang-barang. Lemari pakaian makin penuh dengan baju-baju, sepatu berderet hanya sesekali pakai, tanaman banyak macam menjadikan rumah serasa hutan.

Hmmm... itu yang terjadi sama saya. Beneran! Tapi waktu itu tetap saya adalah Mrs. Always Right. Saya tetap merasa dan mengaku sebagai perempuan yang jarang belanja hahaha Mungkin suami sudah maklum dan capek dengan kebiasaan saya. Sering membeli barang yang nggak perlu, printhilan kecil, bahkan hanya sekedar membeli tanpa tahu kapan dipakai.

Tiap kali kakak saya datang ke rumah, selalu berkomentar : "banyak banget barangmu". Saya sahut saja wong dia juga banyak barang.  Tapi saya pikir-pikir mungkin benar juga ya. Hal itu memicu saya untuk beres-beres barang.

Sejalannya waktu, saya merasa beres-beres saya kok nggak pernah beres ya? Selalu saja ada yang tidak beres dan rapi. Sepertinya ada yang salah dengan cara beberes saya. Akhirnya saya menemukan buku di situs online toko buku besar. Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up yang ditulis oleh Marie Kondo.

Dengan buku tersebut, saya beberes seluruh rumah ala orang Jepang. Itu dua tahun lalu. Tapi sungguh ada perubahan dalam diri saya setelah beberes dan bebenah ala KonMari ini. Memang belum 100% serapi Marie Kondo. Namun beberes ini memberikan saya manfaat lebih.

Menjadi Lebih Bijak

Perubahan yang menyolok adalah gaya hidup, bagaimana saya menjadi lebih bijak dalam membeli sebuah barang. Contoh sederhananya, sepatu atau baju. Sebagai perempuan terkadang tergoda membeli barang yang hits, sale, atau diskon. Nah, sekarang tidak langsung latah beli.

Saya mulai berpikir berguna tidak, kapan saya pakai, dan seterusnya. Begitu halnya dengan makanan, sering ada diskon buy 1 get 1, pay day dan lain-lain. Saya akan berpikir dulu siapa yang akan makan. Kalau dulu sih, pokoknya beli dengan alasan : mumpung diskon! Akhirnya makanan terbuang atau hanya tersimpan di kulkas.

Merasa Cukup

Ketika menginginkan sepatu sneaker hits dan lagi turun harga, saya coba beberes kembali. Saya lihat satu-persatu sepatu di rak. Disitu saya akan merasa saya cukup dan tidak perlu membeli lagi. Wong sneaker yang ada masih bagus. Lagipula yang dipakai juga itu-itu saja.

Komitmen saya akan membeli barang jika yang lama sudah rusak atau tidak bisa dipakai. Jika memang bosan, lebih baik disumbangkan. Hal ini sangat menantang karena tidak semudah mengucap kata.

Merasa cukup itu susah-susah gampang. Banyak perempuan, termasuk saya, suka mengatakan : "tidak ada baju, tidak punya baju", padahal lemarinya penuh hehehe... Apalagi jaman sekarang, bilangnya nggak pernah ngemall tapi paket belanja online datang tiap hari hihihi

Lebih Bersyukur

Dengan rajin beberes, saya lebih mudah bersyukur karena mencintai apa yang saya punya. Setidaknya rasa galau berkurang dan tidak mencari apa yang tidak ada.

Jika kemudian ada yang tanya : "terus untuk apa uangnya? Belanja kan cara menikmati hidup juga?" Hmmm...Kalau itu tergantung orangnya. Standar kebahagiaan masing-masing orang tidaklah sama.

Dengan berubahnya perilaku konsumtif saya, sejauh ini saya merasa banyak manfaat. Salah satunya bisa untuk alokasi jalan-jalan keluarga. 

Memang terkadang saya masih khilaf juga sih. Namanya manusia tak ada yang sempurna, yang ada terus belajar untuk menjadi lebih baik.

Ada yang sependapat dengan saya?

(RR)