M. Ali Amiruddin
M. Ali Amiruddin PNS

Ingin tetap menulis seperti bayi yang belajar merangkak kemudian berlari

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Pilihan

Mendut, Jajanan Tradisional yang Hampir Punah

6 Maret 2014   16:55 Diperbarui: 24 Juni 2015   01:11 1058 0 0

Mayoritas masyarakat Indonesia amat sangat kental dengan jajanan tradisional. Meski dapat dibilang kuno, ternyata cita rasa yang dihadirkan dari jajanan kuno tersebut justru tidak dapat hilang begitu saja dari ingatan penikmatnya.

Jika hendak menilai betapa makanan yang asli hadir dari budaya dan kreatifitas olah rasa, sejatinya makanan tradisional tidak pernah akan lekang oleh waktu. Meskipun saat ini justru masyarakat sudah sangat dibui dan dininabobokkan oleh makanan siap saji (fast food) dan makanan instant yang berbahaya lainnya, akan tetapi keberadaan aneka makanan tradisional masih saja layak untuk dipertahankan.

Indonesia, sebagai bangsa yang memiliki akar budaya yang kuat, hakekatnya memiliki beraneka ragam kuliner dan hasil olahan yang sangat alami dalam arti tidak dicampuri dengan bahan-bahan pengawet yang justru amat berbahaya dalam jangka waktu yang lama jika penggunaannya tidak memperhatikan takaran yang layak untuk konsumsi. Karena lambat laun bahan kimiawi tersebut akan merusak organ-organ penting dalam tubuh manusia.

Selain karena berbahaya, hakekatnya makanan modern itu secara tidak langsung akan mematikan warisan leluhur yang ciamik dan nikmat ini lantaran tergulung oleh derasnya ombak kemajuan jaman yang cukup mengkhawatirkan.

Sampai detik ini, saya masih teringat dan sepertinya tak kan pernah melupakan si Mendut, jajanan yang menurut para tetua desa berasal dari masyarakat Jawa, meskipun secara detil asal-usul makanan ini masih dipertanyakan dari mana sebenarnya kudapan nikmat ini berasal.

Mendut, panggilan makanan tradisional yang dibuat dari bahan tepung ketan yang didalamnya berisi parutan kelapa dicampur gula aren atau gula jawa tersebut dan kemudian dibungkus daun pisang muda berbentuk seperti prisma segi empat yang cukup ciamik dan menarik.

Makanan ini kira-kira 30 tahun yang lalu adalah makanan wajib sebelum saya berangkat ke sekolah. Karena saat itu sang nenek memang penjual makanan tradisional satu-satunya di sekolah kami. Makanya wajar saja sampai saat ini memori nikmatnya si Mendut tidak dapat terlupakan.

Selain dijual bebas di pasar dan disekolah-sekolah, kudapan ini sering pula menghiasi piring-piring penduduk yang tengah mengadakan hajatan (bahasa jawanya ewoh) alias resepsi pernikahan atau acara khitanan. Bahkan ketika mengadakan kenduri dan slamatan makanan nikmat ini tidak pernah lekang dan selalu hadir berjajar dengan makanan tradisional lain.

Jika menengok lebih mendalam makanan tradisional ini, dan ketika saya mulai mencari-cari di mana saya dapat menemukannya, ternyata saat ini cukup sulit diperoleh. Baik di acara kondangan maupun di acara-acara rutin penduduk desa pun sudah tidak saya temukan. Saya beranggapan bahwa makanan ini mungkin mulai ditinggalkan oleh generasi muda lantaran karena banyaknya makanan siap saji dan modern yang meniru gaya luar negeri. Sehingga lambat laun makanan tradisional ini semakin ditinggalkan. Boleh jadi juga karena rumitnya cara membuatnya dan membutuhkan waktu yang lama.

Menurut pengalaman saya ketika mengamati cara pembuatan si Mendut ini, mulanya ketan digiling hingga halus (saat ini sudah ada tepung ketan yang beredar di pasaran) di campur air dan dibuat adonan untuk kemudian hingga pulen (kalis). Langkah selanjutnya menyiapkan parutan kelapa secukupnya dan cirampur gula merah yang digiling halus dan dicampur hingga merata warna menjadi merah. Setelah itu adonan tepung ketan tersebut dibuat bulat-bulat kecil. Kemudian adonan kelapa dan gula dimasukkan ke dalam adonan tepung ketan yang sudah tersedia. Setelah adonan ketan berisi campuran parutan kelapa dan gula kemudian dibungkus dengan sehelai daun pisang. Daun pisang sebelumnya sudah dijemur sebentar agar lebih lemas dan mudah digunakan. Agar adonan tidak lengket pada daun terlebih dahulu daun dilapisi minyak kelapa.

Jika proses tersebut sudah cukup, kemudian beberapa bungkus Mendut tersebut di masukkan ke dalam panci kukus selama kurang lebih 30 menit agar adonan benar-benar matang.

Pembuatan Mendut memang mudah bagi yang sudah terbiasa, akan tetapi memang tergantung membutuhkan waktu yang cukup lama dari proses hingga dapat dihidangkan. Boleh jadi karena proses yang rumit inilah jajanan yang gurih dan manis ini sudah mulai ditinggalkan.

Selain karena cara membuatnya cukup riweuh, bahan baku seperti ketan, kelapa sudah cukup mahal karena harga-harga yang melonjak tajam. Lain halnya dengan daun pisang dan gula aren, selain langka, harganyapun tak kalah mahal. Sebab inilah mungkin yang mengakibatkan sebagian penerus negeri ini yang sudah tidak berminat lagi melestarikan makanan tradisional ini.

Sedih juga sih jika mengingat nikmatnya ketika menikmati jajanan tradisional yang sehat dan tanpa bahan kimia ini.

Namun demikian, sejatinya rasa si Mendut tidak akan pernah dikalahkan oleh makanan modern. Sehingga sudah sepantasnya generasi muda melestarikannya sebagai kekayaan budaya dan tradisi negeri ini.