Mohon tunggu...
M. Ali Amiruddin
M. Ali Amiruddin Mohon Tunggu...

Ingin tetap menulis seperti bayi yang belajar merangkak kemudian berlari

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Nggak Tenar di Kompasiana. Nggak Ngaruh Tuh!

20 Oktober 2014   20:39 Diperbarui: 17 Juni 2015   20:21 0 8 12 Mohon Tunggu...

Menjadi sosok yang tenar di dunia nyata memang sebuah kebanggaan. Apalagi menduduki jabatan penting dan menjadi pesohor di negeri ini juga amat diminati hampir semua kalangan, karena dengan dirinya dikenali oleh banyak orang tentu saja apa yang dilakukan, dikatakan maupun yang ditulis dalam status pun memancing perhatian banyak orang. Meskipun tak semua ketenaran membuat orang bahagia, lantaran kehidupan privacy menjadi terusik. Jangankan bisa menikmati saat-saat bedua dengan pasangan ketika ber-honey moon, di saat ingin dibiarkan sendiripun rasa-rasanya sudah tidak mungkin lagi. Dunia ini menjadi sempit karena setiap waktu disorot media dan menjadi berita. Masih mending kalau berita baik, nah kalau buruk dan mem-bully tentu lain ceritanya. Apalagi jika terdapat unsur fitnah, sudah dapat dipastikan kehidupan ini menjadi tak lagi nyaman namun berujung siksaan batin. Sudah cukup banyak sosok yang tenar ternyata kehidupannya tak bahagia. Begitu pula tenar di Kompasina, ketika tulisannya seide maka ia akan mendapatkan pujian setinggi langit. Tapi coba kalau tulisannya mengundang kontra, maka tak sedikit hujatan dan cibiran datang silih berganti. Bak gayung bersambut, meski tak diundang berpuluh-puluh kompasianer langsung ikut mengadili tanpa menimbang sisi keadilan dan hak dalam menyuarakan ide atau gagasan dalam sebuah tulisan. Itulah fenomena tenar di jagat media. Tak hanya di kompasiana, di media lain pun demikian. Benarkah menjadi kompasianer karena ingin tenar dan dianggap "wah"? Tentu jawabannya akan berbeda satu sama lain. Tapi saya di sini hanya ingin menggarisbawahi penilaian secara personal, bahwa di kompasiana adalah sebagai ajang belajar. Belajar menulis pada mulanya, kemudian berbagi meski hanya tulisan sepele seperti menjadi motto saya ingin berbagi meskipun bukan uang. Itulah keinginan saya sebagai wong ndeso yang tak memiliki banyak kekayaan. Terlepas dari niatan belajar dan berbagi, yang membuat saya tertawa geli adalah stempel biru dalam verifikasi. Dan dijelaskan oleh admin serta kompasianer bahwa stempel biru sebuah nilai plus dan pangkat tertentu bagi kompasianer yang dianggap oleh admin benar-benar jadi kompasianer ulung atau sejati. Alasannya, si kompasianer tersebut konsisten dalam membuat tulisan dan tulisannya dapat dipertanggung jawabkan. Selain itu tentunya juga baik. Dengan demikian, member yang masih berwarna hijau atau tak terverifikasi berarti tulisannya habul, hoax dan kelasnya odong-odong. Saya merasa berada dalam kelompok yang ini tentunya. Karena apapun ingin saya tulis meskipun saya hanyalah seorang pendidik bagi anak-anak abk. Apakah saya sedih gak mendapatkan predikat istimewa dan pangkat biru sebagai sosok yang profesional? Gak lah. Saya kan memang bukan sosok penulis profesiona. Tapi saya konsisten ingin menulis dan berbagi di medsos ini meskipun tak sedikit pun ada kompensasinya. Terserah saja bagi admin untuk menilai kualitas tulisan orang desa ini. Karena inilah kemampuan saya. Tapi saya terus belajar bagaimana bisa menyajikan tulisan yang aktual, bernas dan tentu saja benar bukan tulisan hoax. Tapi bagi saya tulisan itu adalah ekspresi jujur dan gak dibuat-buat. Dan bagi saya tak perlu orang lain mengatur gaya dan jenis tulisan yang ingin saya sajikan pada para pembaca. Karena menulis itu seni dan curahan hati demi memperoleh kepuasan batin. Ayo kompasianer, apakah masih mikir dapat pangkat dan kehormatan dengan verifikasi biru? Jalau hanya itu cita-cita Anda pasti suatu saat akan kecewa. Salam

KONTEN MENARIK LAINNYA
x