Mohon tunggu...
Mahbub Setiawan
Mahbub Setiawan Mohon Tunggu... Mencoba untuk lebih walau selalu gagal

1/2 kemanusiaan, 1/2 ketidaktahuan

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Membumikan Kembali Kata "Akademik"

25 Februari 2019   14:31 Diperbarui: 5 Maret 2019   01:55 951 18 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Membumikan Kembali Kata "Akademik"
Sumber ilustrasi: britannica.com

Konon, istilah akademik berasal dari kata Academus, seorang pahlawan dari Attic (zaman Yunani Kuno) pada masa perang Troya dahulu kala.

Untuk menghormati pahlawan tersebut, kata "Academus" kemudian dipakai untuk nama sebuah plaza atau taman publik (istilah itu mungkin sekarang mirip dengan alun-alun). Tempat itu berada di sebelah Barat Laut Kota Athena Yunani.

Beberapa filosof seperti Socrates dan Plato sering menggunakan plaza tersebut sebagai tempat untuk berdialog membicarakan persoalan-persoalan pada masa itu. Pada akhirnya, nama tersebut dikenal dengan nama Academia yang kemudian dilembagakan oleh Plato menjadi tempat berdialog dan mempelajari masalah-masalah filsafat. Orang-orang yang terlibat di dalamnya kemudian disebut Academist.

Sebagai tempat umum, Plaza Academus atau Academia tersebut, pada awalnya tentu saja tidak eksklusif diperuntukkan hanya bagi orang-orang terpelajar. Ibarat alun-alun dan taman belajar, di dalamnya terdapat interaksi antara semua lapisan masyarakat yang tidak hanya terbatas pada kaum terpelajar.

Ini selaras dengan misi dari para filosof awal di atas yang bertujuan untuk mendidik dan mengajak masyarakat untuk mencari kebenaran dan kebijaksanaan melalui dialog.

Sejak awalnya, spirit utama dari plaza tersebut adalah dialog secara bebas, jujur, transparan dan tanpa kepentingan apapun kecuali kebenaran dan kebijaksanaan.

***
Namun, pada masa sekarang, fenomena Plaza Academus ini justru malah kehilangan spiritnya. Orang yang dianggap terpelajar dan akademis sering diasosiasikan dengan lembaga pendidikan seperti sekolah atau kampus yang tidak mudah diakses oleh publik. Padahal awal mulanya, Academus atau Academia tersebut adalah tempat publik berkumpul dan berdiskusi seperti alun-alun masa sekarang.

Saat ini, jika ada sebutan akademisi, lembaga akademik, bersifat akademis atau terlalu akademis, selalu mengacu kepada produk perguruan (tinggi) di mana hanya orang-orang terpelajarlah yang boleh memakai status tersebut. Hal ini seolah memberi kesan bahwa betapa mahal dan eksklusifnya informasi-informasi yang bernilai akademik itu.

Akibatnya muncullah gap antara informasi yang bersifat akademis dan non akademis. Gap tersebut seakan-akan menganggap bahwa informasi yang satu berbeda bahkan mungkin bertentangan dari informasi lainnya. Lebih jauh lagi, akibat dari gap tersebut seakan timbul kesan bahwa kebenaran pengetahuan dan informasi hanya ada dalam lingkaran akademik semata.

Padahal yang sebenarnya, kemunculan istilah tersebut bertujuan untuk lebih banyak melibatkan publik dalam dialog. Bukan dalam rangka memberi label bagi sebuah produk pengetahuan atau informasi yang terisolasi. Akademik harusnya bermakna bahwa publik terlibat dan punya akses terhadap informasi tersebut.

***
Academus dan Academia pada mulanya lahir dari semangat berkumpul di tempat umum untuk mendialogkan beragam persoalan (terutama filsafat). Ia bukan tempat yang terisolasi dari realita yang terjadi di tengah-tengah publik. Ia bukan tempat yang berdiri di atas menara gading yang tak tersentuh masyarakat awam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x