Mohon tunggu...
Mahawikan Akmal
Mahawikan Akmal Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Tulisanku sebagai warisan abadi

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Artikel Utama

Target Vaksinasi Jokowi, Realistis atau Delusi?

26 Januari 2021   09:18 Diperbarui: 28 Januari 2021   11:43 1815
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Presiden Joko Widodo. (Foto: Biro Pers Setpres)

Tentu ini hal yang sangat penting. Khususnya jika kita menghadapi iklim tropis lembab dan panas seperti di Indonesia. Maka persiapan harus dilakukan bukan hanya dalam hal pengadaan vaksin. Namun juga hal-hal seperti pengadaan kontainer khusus, dan item-item penunjang lain seperti jarum suntik, tempat pembuangan wadahnya, dan lain-lain.

3. Kapasitas Distribusi Vaksin
Setelah membahas logistik, kita harus membahas distribusi vaksin. Bagaimana grand design pelaksanaan vaksinasi di Indonesia? Jujur saja saya kurang tahu. Informasi di media online belum banyak membahas tentang ini. Artinya memang sosialisasi dari pemerintah sendiri pun masih kurang.

Belum diketahui secara jelas bagaimana pemerintah akan mendistribusikan vaksin-vaksin covid-19 dari tempat produksi hingga ke puskesmas di desa-desa. 

Penting untuk memperhatikan dan menyiapkan cold chain (rantai dingin) distribusi vaksin covid-19. Bagaimana cara vaksin didistribusikan dengan tetap memperhatikan suhu penyimpanan vaksin dari pusat produksi atau port penerima vaksin jadi ke tempat penyimpanan vaksin di tingkat provinsi. Kemudian dari provinsi ke kabupaten/kota. Lalu ke kecamatan dan sampai ke rumah sakit, puskesmas, atau tempat vaksinasi lainnya tanpa terputus. 

Jika target 1 juta vaksinasi ingin tercapai, maka setidaknya pemerintah harus mempersiapkan tempat-tempat penyimpanan vaksin covid-19 di daerah. Tempat penyimpanan berupa cold storage yang cukup besar dan setidaknya diprioritaskan untuk vaksinasi covid-19. Kemudian mempersiapkan alur distribusi hingga pengedaran/distribusi bisa mencapai lebih dari 1 juta dosis/hari dan keperluan distribusi vaksin lainnya.

4. Kapasitas Tempat Vaksinasi
Pesoalan ini membahas bagaimana pemerintah lewat pemda dan dinas setempat bisa memberdayakan tempat-tempat yang potensial menjadi tempat vaksinasi. Tempat-tempat seperti puskesmas, rumah sakit pemerintah, balai desa/balai RW, kantor dinas kesehatan, dan bahkan kantor kecamatan merupakan tempat yang potensial bagi proses vaksinasi.

Hanya tinggal bagaimana pemerintah bisa menyiapkan dan memberdayakannya. Kantor kementerian misalnya. Bisa saja gedung kementerian kesehatan digunakan untuk pusat program vaksinasi penduduk setempat. Mengingat ia terletak di kawasan padat penduduk, kebutuhan fasilitas vaksinasi tentu meningkat. 

Maka dari itu, pemda yang memegang program vaksinasi di daerah padat penduduk harus memutar otak bagaimana caranya menyelenggarakan vaksinasi di tempat-tempat yang dapat digunakan. Jangan dilupakan juga masalah distribusinya. Bakal jauh lebih rumit mengatur distribusi vaksin ke ratusan tempat vaksinasi daripada untuk mengatur hanya puluhan tempat saja. 

5. Kapasitas Sumber Daya Manusia Pemberi Vaksin
Tanpa petugas pemberi vaksin, maka vaksin tidak bisa digunakan. Dengan begitu, persoalan SDM Vaksinator ini menjadi sangat penting untuk dibahas. Terlebih di saat pandemi covid-19 menuntut banyak petugas medis, para nakes untuk berjibaku merawat pasien covid-19.

Saat ini saja mereka kewalahan bertahan di tengah derasnya pasien covid-19. Bagaimana alokasi tenaga pemberi vaksin ini dari tenaga medis yang ada? Bagaimana pemerintah bisa memberdayakan sumber daya manusia yang ada dan belum ada? Sebab sumber daya manusia yang ada reserved untuk penanganan pandemi, dll.

Maka, pemerintah perlu merekrut relawan yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia dengan jumlah yang begitu banyak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun