Mohon tunggu...
Mahardhika Zifana
Mahardhika Zifana Mohon Tunggu... Just an ordinary man

I'm a Sundanese who love my people, culture, language, and religion.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa

Sunan dan Walisongo: Secuil Jelajah Etimologi-Linguistik-Historis

21 Juli 2013   23:55 Diperbarui: 24 Juni 2015   10:14 3459 0 1 Mohon Tunggu...

Beberapa hari terakhir, saya rajin mencermati infotainment. :-D

Bukan untuk menyaingi para ibu, yang merupakan pemirsa setia infotainment (menurut survey AC Nielsen), lebih sekedar ingin tahu, bagaimana sesungguhnya para pesohor negeri ini melewatkan waktu di bulan Ramadhan. Ternyata memang beragam: ada yang berhenti total dari pekerjaannya, ada juga yang malah kebanjiran order, katanya. Sudahlah, itu urusan mereka.

Satu hal yang menarik, dalam beberapa kesempatan, saya (baru tahu loh! Asli!) melihat ada pengacara pesohor yang bernama ‘Sunan Kalijaga.’

Saya pikir: WOW! Huebbat nian namanya! :-D

Asli, bukan palsu, Sunan Kalijaga yang disebut di dalam acara-acara infotainment itu ternyata nama orang di zaman sekarang!!! Ouw, eM, Gji!!! (teriak sambil ayunkan dua tangan ke pinggir kanan, kiri, terakhir lurus ke atas!)

Akan tetapi, setelah saya jelajahi internet, tampaklah bahwa Sunan Kalijaga, SH, itu nama aslinya Muhammad Nur Sunan. Entah apa yang membuatnya berpikir untuk menggunakan nama Sunan Kalijaga.

Okelah. Tulisan ini tentunya tidak akan mengomentari Sunan Kalijaga yang pengacara beberapa artis seksi terkenal itu. Tidak, tidak. No, no. Nei, nei. La, la.

Di sini saya ingin mengajak anda untuk sedikit melakukan jelajah etimologis kata Sunan dan Walisongo.

Kenapa Sunan? Dan kenapa Walisongo?

Dua istilah ini dipahami masyarakat awam sebagai dua istilah bertali-temali. Maksud saya, berkaitan satu sama lain. Sampai saat saya adakan sedikit survey kecil-kecilan, ada mahasiswa saya yang berkata kepada saya, “Walisongo itu isinya para sunan, dan seorang sunan itu pasti anggota Walisongo.”

Benarkah demikian? Let’s check it out.

Istilah Sunan adalah sebuah gelar. Kalau kita ketikkan kata sunan di KBBI elektronik, kita akan temukan dua makna di sana. Seperti ini:

1 sebutan raja untuk keraton Surakarta (di Jawa); 2 penyebutan nama untuk para wali: -- Kalijaga.

Kata sunan dalam KBBI ini punya satu lema turunan di bawahnya, yaitu kasunanan, artinya:

n daerah sunan

Oke. See?

Baiklah. Sekarang kita mulai jelajah etimologis kita. Dalam bahasa Indonesia modern yang kita tuturkan dewasa ini, ada mekanisme yang disebut kontraksi –persis istilah perempuan yang hendak melahirkan. Dalam khazanah istilah linguistik, kontraksikurang lebihbermakna “proses atau hasil pemendekan suatu bentuk kebahasaan.”

Contohnya begini.

1.tidak => tak

2.dahulu => dulu

3.sahaya => saya

Syahdan, kontraksi ini juga dikenal dalam bahasa-bahasa rumpun Austronesia lainnya, termasuk dalam bahasa Sunda dan Jawa. Misalnya, dalam bahasa Sunda, orang-orang palemburan biasa menyebut permainan sepakbola dengan kata mengbal atau menbal, kontraksi dari frasa maen bal. Sementara dalam bahasa Jawa modern, saya menemukan contoh kata rah, dari kata darah.

Lanjut. Secara etimologi, Sunan adalah kontraksi dari kata ‘susuhunan,’ kata dasarnya adalah suhun. Kata suhun ini masih dapat kita jumpai dalam bahasa Sunda dan Jawa moderen, artinya dijunjung di atas kepala. Dalam konteks kemasyarakatan, susuhunan memiliki makna yang kurang lebih sama dengan junjungan. Sebagaimana kita tahu, menjunjung itu artinya juga menempatkan sesuatu di atas kepala kita.

Dalam konteks ini, gelar Sunan merupakan gelar yang disandang oleh seseorang yang dianggap penting di tengah masyarakat. Kalau dalam istilah kerennya, Primus Interpares, bukan Primus Yustisio. Seorang Sunan biasanya adalah pemimpin dari suatu komunitas (baik adat, politik, maupun agama). Gelar itu bisa beralih atau diwariskan.

Para Raja Jawa modern (Mataram dan Pascamataram) pun ada yang bergelar Sunan. Misalnya, Sunan Amangkurat (Raja Mataram), dan Sunan Pakubuwono (Raja Surakarta).

Wah? Berarti…, sunan-sunan yang lain pun begitu? Bisa jadi ada lebih dari satu orang menyandang gelar Sunan Kalijaga, misalnya?

Jawabannya: Bisa.

Contohnya ada di padepokan Giri Kedaton. Giri Kedaton adalah sebuah otoritas keagamaan Islam yang menjadi rujukan seluruh kerajaan dan pesantren Nusantara selama 2 Abad ( Abad ke-14 s.d. 15). Giri Kedaton ini didirikan dan dipimpin oleh Syaikh ‘Ainul Yaqin, beliau diberi gelar ‘Sunan Giri,’ artinya orang yang di-suhun di Giri (Kedaton).

Saat Syaikh ‘Ainul Yaqin ini wafat, kedudukan beliau sebagai pemimpin Giri Kedaton digantikan oleh puteranya, Raden Dalem. Beliau kemudian disebut Sunan Giri II. Demikian gelar Sunan Giri itu beralih dan berpindah dari generasi ke generasi hingga Giri Kedaton akhirnya hancur dan tamat dari lintasan sejarah karena intrik Belanda.

Nah, para Sunan yang serupa Sunan Giri ini (otoritas Agama di beberapa tempat) diyakini tergabung dalam sebuah kelompok yang disebut sebagai Walisongo.

Oke. Sip Markisip. Kita beralih ke bahasan selanjutnya: Walisongo.

Pada umumnya, masyarakat Indonesia cenderung memahami bahwa Walisongo berarti ‘Sembilan Wali’ – dari kata Wali dan Songo dalam bahasa Jawa. Dalam buku-buku sejarah kanon yang dipakai di sekolah-sekolah SD sampai SMA, Walisongo biasanya didefinisikan sebagai kelompok “sembilan wali” yang terdiri atas Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Syekh Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel), Syekh Ainul Yakin (Sunan Giri), Maulana Mahdum Ibrahim (Sunan Bonang), Qasim Syaifudin (Sunan Dradjad), Raden Joko Said (Sunan Kalijaga), Syaikh Jaffar Shaddiq (Sunan Kudus), Maulana Ishak (Sunan Muria), dan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Itulah yang dipahamkan kepada peserta didik dalam mekanisme pendidikan formal kita.

Faktanya, istilah ‘Walisongo’ itu sebenarnya masih menjadi kontroversi dalam ranah Sejarah (murni) maupun Linguistik Historis. Tidak ada dokumen resmi (tertulis) yang bisa dijadikan rujukan yang relevan tentang apakah definisi dari Walisongo itu sesungguhnya.

Istilah Walisongo dan definisinya sebagai ‘sembilan wali’ baru muncul dan dikemukakan pada abad ke-19 oleh Pujangga Jawa, Ronggowarsito. Sementara para Sunan yang sering disebut-sebut sebagai Walisongo yang saya sebut di atas hanya hidup sampai maksimal Abad ke-16.

Kemudian, yang unik begini, anehnya, ada lebih dari sembilan orang yang disebut-sebut sebagai anggota Walisongo. Ini sebenarnya menunjukkan definisi Walisongo sebagai ‘sembilan wali’ tidak terlalu kuat.

Faktanya, di zaman para Sunan itu hidup tidak ada istilah ‘Walisongo.’ Satu-satunya kaitan dengan istilah Walisongo adalah sebuah kitab berjudul Serat Walisana yang ditulis oleh Sunan Giri II.

Catat bahwa kitab itu berjudul Serat Walisana, bukan Serat Walisongo.

Pada mulanya, ini lumayan membingungkan saya. Sumpah, bingung! Sebingung orang yang ga punya duit saat menghadapi Lebaran.

Selain ‘sembilan wali,’ Pendapat lain menyebutkan bahwa kata songo/sanga berasal dari kata tsana yang dalam bahasa Arab berarti mulia. Jadi Walisongo artinya ‘Wali yang Mulia.’ Pendapat lainnya lagi menyebut kata sana berasal dari bahasa Jawa, yang berarti tempat. Jadi Walisongo artinya ‘Wali tempat.’

Setelah beberapa tahun berkutat dalam kebimbangan jawaban (ciee...), akhirnya saya menemukan jawaban yang dapat memuaskan saya. Jawaban itu yang kemudian menjadi kunci penyelesaian novel Magus: Thriller di Masjid Menara Kudus.

Jadi begini sodarah...

Kita mulai dari narasi ini dari tahap prequel-nya dulu.

Sebagaimana kita ketahui, Islam lahir pada Abad ke-7. Sejak kelahirannya, Islam cepat sekali berkembang karena banyak faktor. Selain jihad dan dakwah, perdagangan memegang peran penting. Ini dijelaskan oleh sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara dalam buku Edisi Khusus Tinta Emas Islam di Indonesia yang dirilis Majalah Sabili.

Oyah... Perelu dikemukakan oleh saya yang.... (Silakan isi sendiri),

Berbeda dengan keyakinan mainstream, bahwa Islam baru masuk Indonesia di Abad ke-14, fakta menunjukkan bahwa jauh sebelum itu sudah banyak komunitas Islam di Indonesia. Beberapa bukti yang sering dinukil adalah adanya makam Fathimah Binti Maimun di Leran, Gresik yang titimangsanya (kalau saya tidak salah) menunjukkan Abad ke-12. Kemudian Kronik Cina menyebut bahwa pada Abad ke-7, sudah ada perkampungan Arab di Barus, Sumatera Utara.

Jadi, penyebaran Islam di Pulau Jawa sebenarnya telah terjadi langsung sejak Nabi Muhammad Saw masih hidup, dengan menggunakan alur perdagangan internasional yang telah ada jauh sejak masa Sebelum Masehi dan terus berlangsung hingga Abad ke-14. Namun sepanjang tujuh abad itu, perkembangan Islam di Jawa tetap stagnan. Secara kuantitas pemeluk Islam kalah dengan jumlah pemeluk agama lama yang telah ada sebelumnya, dalam hal ini Hindu dan Budha. Nah, kondisi ini dilihat oleh para pedagang Islam dari berbagai negeri yang pulang-pergi ke Pulau Jawa.

Lebih lanjut, dalam buku Misteri Syekh Siti Jenar: Peran Wali Songo dalam mengislamkan tanah Jawa, karya Prof. Dr. Hasanu Simon, dinukil beberapa kutipan dari kitab Kanzul Ulum yang ditulis Ibnu Bathuthah. Kitab ini masih tersimpan dengan baik di museum Istana Topkapi di Istambul, Turki.

Markiberjut. Mari kita berlanjut. Berdasarkan catatan Kanzul Ulum, karena prihatin dengan dakwah yang stagnan itu, sekelompok pedagang Muslim asal Gujarat (Sebuah kawasan di India selatan) menemui Sultan Muhammad I. Muhammad I atau Mehmet I ini dikenal dengan nama Muhammad Chalabi (Muhammad the Restorer) di Barat, dia adalah Sultan Ottoman yang naik tahta menggantikan ayahnya, Bayazid I (selengkapnya silakan googling sendiri).

Kelompok pedagang Muslim asal Gujarat itu lalu menceritakan keadaan Pulau Jawa kepada Sultan Muhammad I. Muhammad I merasa tertantang setelah mendengar penjelasan para pedagang itu. Ia ingin memperluas kekuatan politiknya hingga ke Jawa. Pada zaman tersebut, Imperium Ottoman sedang mencoba memperkuat eksistensinya dan mengklaim posisi sebagai pemimpin dunia Islam (Khalifah). Apalagi, Muhammad I juga mendapat laporan bahwa keadaan politik di Pulau Jawa saat itu sedang tidak stabil akibat Perang Paregreg, perebutan posisi Raja Majapahit antara Wikramawardhana dan Suhita.

Berdasarkan laporan para saudagar Gujarat itu, Sultan Muhammad I lalu mengirim surat kepada para Amir (Gubernur) di Afrika Utara dan Timur Tengah, isinya meminta agar mereka, masing-masing, mengirim seorang ulama yang mempunyai karomah. Definisi karomah di sini adalah kelebihan yang diberikan Allah kepada orang saleh seperti ulama atau wali. Seringkali orang salah menafsirkan karomah dan hanya memandangnya dalam konteks mistik, seolah kelebihan itu setara dengan mukjizat nabi. Padahal ilmu (pengetahuan) yang tinggi pun sesungguhnya bisa dianggap sebagai karomah.

Dari surat-menyurat itu, ternyata hanya sembilan Gubernur yang dapat memenuhi permintaan Muhammad I. Muhammad I kemudian memilih sembilan orang yang paling linuwih di antara semua kandidat. Akhirnya, Muhammad I membentuk sebuah tim yang beranggotakan sembilan orang tersebut. Sembilan orang itu dipilih dan disyaratkan memiliki kemampuan di berbagai bidang, tidak hanya bidang ilmu agama saja, tapi juga bidang-bidang lain seperti kemasyarakatan, pertanian, astronomi, dan bangunan. Maka pada tahun 1404, tim tersebut diberangkatkan ke Pulau Jawa. ‘Timnas’ Dakwah Ottoman yang akan ‘bertanding’ di Pulau Jawa itu ‘dikapteni’ oleh Maulana Malik Ibrahim, beranggotakan:


1. Maulana Malik Ibrahim, dari Turki, ahli tatanegara.
2. Maulana Ishaq, dari Samarkand, Uzbekistan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrabi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isra’il, dari Turki, ahli kemasyarakatan.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh Subakir, dari Persia, ahli rukyah.

Setiba di Pulau Jawa, kesembilan orang anggota tim itu sepakat untuk berpencar menurut arah mata angin. Delapan orang berpencar menurut arah mata angin, sementara satu yang tersisa diam di tengah pulau. Filosofi dakwah menurut mata angin ini kemudian terabadikan dalam ungkapan idiomatik Jawa dengan istilah keblat papat limo pancer.

Dalam perkembangan selanjutnya, tim ini bersifat fix. Setiap kali satu anggota tim ini meninggal, maka satu anggota lain akan masuk menggantikan, sehingga jumlahnya tetap sembilan orang. Masing-masing dari mereka, kemudian menjadi semacam pengasuh untuk wilayah dakwahnya. Kemungkinan, dari sinilah istilah Wali muncul –ingat istilah Wali Nangroe di Aceh, wali berarti wakil, dalam hal ini orang yang mewakili suatu wilayah (kewalian).

Dalam catatan Prof. Hasanu Simon, inilah formasi tim sembilan wali ini, selepas generasi pertama yang tiba tahun 1404.

Periode kedua, tahun 1435 – 1463 M, setelah wafatnya Maulana Malik Ibrahim terdiri atas:

1. Bong Swi Hoo (Sunan Ampel), berdarah Hui, Cina, namun lahir di Campa (Kamboja), menggantikan Maulana Malik Ibrahim
2. Maulana Ishaq
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi
5. Syekh Jafar Shadiq (Sunan Kudus), asal Palestina, menggantikan Maulana Malik Isra’il tahun 1435
6. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), asal Palestina, menggantikan Maulana Muhammad Ali Akbar
7. Maulana Hasanuddin
8. Maulana ‘Aliyuddin
9. Syekh Subakir

Tim Sembilan Wali periode ketiga, 1463 – 1466 M, terdiri atas

1. Sunan Ampel
2. Syekh Ainul Yaqin (Sunan Giri), menggantikan Maulana Ishaq (ayahnya)
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi
5. Sunan Kudus
6. Sunan Gunung Jati
7. Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), ialah putra Sunan Ampel, lahir di Surabaya, menggantikan Maulana Hasanuddin
8. Qasim Syarifuddin (Sunan Drajat), ialah putra Sunan Ampel, lahir di Surabaya, menggantikan Maulana ‘Aliyyuddin
9. Raden Syahid (Sunan Kalijaga), asal Tuban, menggantikan Syaikh Subakir yang pulang ke Persia. Beliau ialah orang jawa asli pertama yang bergabung dalam tim ini.

Tim Wali periode keempat, 1466 – 1513 M, terdiri atas:

1. Sunan Ampel
2. Sunan Giri
3. Raden Fattah, Putra Raja Brawijaya V dari Majapahit, menggantikan Maulana Ahmad Jumadil qubra. Di kemudian hari, beliau didorong para wali yang lain untuk mengambil alih kepemimpinan Majapahit dari ayahnya, hingga melahirkan Kerajaan Islam pertama di Jawa: Demak.
4. Fathullah Khan, asal Gujarat, menggantikan Maulana Muhammad Al-Maghrabi. Beliau adalah menantu Sunan Gunung Jati, di kemudian hari menjadi sangat terkenal di kalangan orang Portugis yang menyebut namanya Falatehan. Beliau juga  dikenal dengan nama Fatahillah.
5. Sunan Kudus
6. Sunan Gunung Jati
7. Sunan Bonang
8. Sunan Drajat
9. Sunan Kalijaga

Tim wali periode kelima, 1513 – 1533 M, terdiri atas

1. Syaikh Siti Jenar, asal Persia, Iran, menggantikan Sunan Ampel. DI kemudian hari, orang ini menjadi sangat terkenal karena filsafatnya tentang makrifat dan hakikat. Sekaligus pemicu intrik besar pertama di antara para wali.
2. Raden Faqih (Sunan Ampel II) menggantikan kakak iparnya, yaitu Sunan Giri
3. Raden Fattah
4. Fathullah Khan (Falatehan)
5. Sunan Kudus
6. Sunan Gunung Jati
7. Sunan Bonang
8. Sunan Drajat
9. Umar Syahid (Sunan Muria), dari Muria, menggantikan ayahnya yaitu Sunan Kalijaga.

Wali Songo periode keenam, 1479 M, terdiri atas

1. Syaikh Abdul Qahhar (Sunan Sedayu), asal Sedayu, menggantikan ayahnya, yaitu Syaikh Siti Jenar yang dihukum mati karena filsafatnya yang nyleneh.
2. Raden Zainal Abidin (Sunan Demak), menggantikan kakaknya, yaitu Sunan Ampel II.
3. Sultan Trenggana, menggantikan ayahnya yaitu Raden Fattah.
4. Fathullah Khan (Falatehan).
5. Sayyid Amir Hasan, menggantikan ayahnya, yaitu Sunan Kudus.
6. Sunan Gunung Jati.
7. Raden Husamuddin (Sunan Lamongan), asal Lamongan, menggantikan kakaknya, yaitu Sunan Bonang.
8. Musa bin Qasim (Sunan Pakuan), asal Surabaya, menggantikan ayahnya, yaitu Sunan Drajat.
9. Sunan Muria.

Mengacu kepada kronologi ini, maka pendapat yang kuat kemungkinan ialah pendapat yang menyatakan bahwa Walisongo atau Walisana kemungkinan berasal dari kata Wali Tsana, artinya ‘wali yang mulia’. Soal penyimpangan pelafalan dari Wali Tsana ke Walisongo ini bisa dijelaskan dengan fenomena lain yang serupa. Di dalam bahasa Jawa, ada beberapa kata yang pada mulanya adalah pionjaman dari bahasa Arab. Berikut ini contohnya.

1.Sekaten, dari Syahadatain.

2.Kalimosodo, dari kalimah syahadah

Walisongo ini tergolong sukses dalam tugasnya gitu loh. Mereka menciptakan semacam big bang dalam menarik minat penduduk Jawa untuk masuk Islam. Lompatan besar dalam jumlah penganut Islam. Pada enam periode Walisongo inilah penduduk Jawa beralih total, hingga mayoritas memeluk agama Islam.

Para anggota Walisongo adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada zamannya. Mereka mengenalkan pelbagai bentuk peradaban baru –mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan, hingga pemerintahan. Semua ini bisa terwujud karena kedudukan para Wali ini yang dimuliakan masyarakat sekitarnya, di-suhun sebagai para susuhunan (sunan-sunan) yang dicintai.

Nah. Demikianlah sodarah....jelajah singkat kita soal Sunan dan Walisongo.

Selanjutnya, silakan berpikir sendiri-sendiri, karena berpikir itu gratis, belum dikapitalisasi oleh konglomerat-konglomerat kapitalis.

Barakallaahu fiikum.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x