Mohon tunggu...
MAD KHATULISTIWA
MAD KHATULISTIWA Mohon Tunggu... muhammad al dilwan

pelajar

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Jalan Terjal Memahami Geografi

26 Juli 2018   07:40 Diperbarui: 26 Juli 2018   08:23 0 0 0 Mohon Tunggu...
Jalan Terjal Memahami Geografi
Sumber: pxhere.com

Perjalanan seribu langkah dimulai dari (niat) selangkah. Cara mudah memahami kompleksitas Geografi dimulai dengan mengerti definisi.

Definisi adalah sesuatu yang tidak pernah usai dibahas. Kalau sesuatu itu telah selesai, ia menyalahi esensinya sebagai definisi, karena "de" berarti "tidak" dan "finish" berarti "akhir".

Definisi yang telah kita pahami selama ini tidak bermaksud"membatasi". Dia tidak absolut atau membuat penggunanya menjadi otoriter kebenaran. Definisi "memberikan" kesempatan agar orang-orang terus memperbincangkannya.

Perbedaan definisi terjadi karena manusia memiliki interpretasi dan kepentingan yang beragam. Definisi yang berbeda-beda kerap memantik perdebatan. Sepanjang perjalanannya, definisi Geografi adalah sesuatu yang terus memantik pergulatan epistemik.

Pergulatan itu tercermin dan "pisau analisis" apa yang harus digunakan ketika menelaah suatu problematika. Apakah keruangan, kelingkungan, atau kewilayahan? Apakah "pisau" itu digunakan secara parsial atau justru kolaboratif?

Hasil SEMLOK 1988 di Semarang memutuskan bahwa "definisi Geografi" adalah sebagaimana yang sering digunakan oleh pakar Geografi di UGM: Ilmu yang memelajari persamaan dan perbedaan fenomena "geosfer" dengan sudut pandang "kelingkungan" dan "kewilayahan" dalam konteks "keruangan".

Definisi tersebut menyiratkan bahwa apapun masalahnya, entah masalah kelingkungan atau kewilayahan, selalu dikaji dalam dekapan konteks keruangan. Begitukah?

Keruangan diletakkan pada strata terbaik karena Geografi adalah science of spatial. Tapi, pendapat ini dibantah oleh Lobeck. Ia mengatakan bahwa apapun masalahnya "ekologi" adalah kaca mata yang tepat. Ekologi selalu melihat relasi antara manusia dan lingkungan. Pendapat ini juga dapat dibantah dengan menggunakan konsep Hartshorne. Menurutnya, setiap masalah harus bersandarkan pada "realisme diferensiasi area". Pendekatan ini populer dengan istilah"kewilayahan".

Bagaimana, sudah paham? Kalau begitu mari kita lanjutkan.

Geosfer adalah objek kajian universal Geografi. Komposisi penyusun Geosfer adalah Biosfer, Hidrosfer, Antroposfer, Litosfer, dan Atmosfer, di buku Supertrik Geografi SMA tersingkat menjadi "BH ALIA", buku ini pasti ditulis oleh lelaki.

Setiap bagian dalam Geosfer memiliki ilmunya tersendiri. Misalnya Atmosfer yang menjadi objek kajian dari Klimatologi dan Meteorologi; atau Antroposfer yang ditelaah dalam Antropologi. Begitu seterusnya.

Lalu apa yang membedakan Geografi dari ilmu lainnya dalam menelaah objek yang sama? Atau siapa yang lebih berkapasitas dalam membahas objek yang sama?

Kita akan berargumen "geografi itu mengkaji relasi manusia dan lingkungan." Ketika mengkaji "A"ntroposfer, BH LIA juga akan diperbincangkan. Ketika mengkaji "A"tmosfer, BH ALI juga akan terseret. Artinya adalah Geografi membutuhkan uluran tangan ilmu lain.

Inilah penyakit dalam Geografi yang sering disebut sebagai "luas" namun "tidak mendalam". Ia dapat menelaah apa saja, tetapi kurang detail bila tidak bersahabat dengan ilmu lain. Lalu di mana jati diri keilmuannya?

Kita akhiri dulu pembahasan ini dengan memberikan dua kesimpulan. Pertama, Geografi bukanlah satu-satunya Ilmu yang menjadikan Geosfer sebagai objek kajian. Ke dua, Geografi adalah ilmu "gado-gado" atau "Ilmu pasti bercambur" kata Bernard Varen, pakar Geografi abad 17.