Mas Yunus
Mas Yunus Dosen

Writer. Menulis untuk mengapresiasi. Menyukai seputar ekonomi komunitas, trip wisata, edukasi, dan ragam potensi lokal. Tinggal di Kota Malang.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Bukan "Code Mixing" Anak Jaksel, Ini Tentang Kosakata "Upa"

14 September 2018   16:19 Diperbarui: 14 September 2018   20:05 2074 27 17
Bukan "Code Mixing" Anak Jaksel, Ini Tentang  Kosakata "Upa"
Illustrasi|Nasi Lalap Ikan Asin|Ahsanfile.com

Perkembangan kosakata baru, terkait dengan sistem budaya, cara berkomunikasi dan berinteraksi where is mereka tinggal. Di tengah masyarakaat multikultural seperti Jakarta, gaya bahasa code mixing"Anak Jaksel" yang heboh belakangan ini misalnya, juga dipengaruhi oleh faktor-faktor itu.

Kosakata Inggris seperti which is,like, dan literally mereka campur dengan bahasa Indonesia. Jadinya terkesan unik, seperti kicauan pemilik Twitter yang mengaku sebagai Petani Jaksel di media ini:

"...padinya ditumbuk which is bijinya lepas gitu. Nah moreafter, dikumpulin deh itu hence masi ada kulitnya its fine, baru abis itu ditumbuk2 like biar jadi beras literally" (Sumber: Twitter Nga @iyajgybg)

Wkwk! Saya tak akan membahas lebih lanjut topik itu. Tapi ini tentang kosakata lama dalam bahasa Jawa. Kosakata ini belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia, tidak juga dalam bahasa Inggris. Kosakata itu adalah "upa" (baca upo, Jawa).

*****

Kamis malam itu (13/09/2018), saya diajak kawan-kawan untuk menemani makan bersama tamu, seorang professor dari kota Makassar. Untuk kepentingan privasinya, saya sengaja tak menyebutkan namanya.

Sembari menunggu hidangan makanan, kami ngobrol ringan di warung makan yang berlokasi di pojok ujung jalan, tepatnya di Jl. Jakarta No. 51, Kota Malang.

Sang tamu berbagi pengalaman banyak hal dengan kami. Tak lama kemudian, makanan datang. Kami menikmati kerenyahan gorengan "kepiting soka" dan kehangatan "wedang jahe kelapa muda".

*****

Nah, di sela-sela menikmati hidangan itu, tiba-tiba dia nyelethuk menghangatkan suasana seraya berkata:

"Bahasa Jawa itu kaya akan perbendaharaan kata, bahkan lebih kaya dari bahasa Inggris. Misalnya untuk menyebut nasi, dalam bahasa Inggris kan cuma ada "rice"... Tapi dalam bahasa Jawa, katanya banyak sebutan untuk penggunaan yang berbeda-beda, padahal bendanya sama, nasi. Apa betul begitu?"

Spontan, saya yang berada di dekatnya merespon begini.

"Saya kira betul. Misalnya untuk menyebut nasi sepiring, disebut sego. Tapi jika nasinya hanya sebulir, disebut upo. Untuk nasi sebanyak satu jimpit, disebut sak puluk. Kalau makan nasi sebanyak itu tanpa sendok (dengan tangan), disebut muluk. 

Tanpa jeda, lalu saya melanjutkan...

"Jika nasinya sebanyak satu genggam, dikatakan "sak kepel". Untuk nasi kering, dinamakan karak. Untuk nasi yang dilembutkan, dinamakan bubur. Apabila sudah jadi kue, dinamakan "rengginang...". 

Kwkwkwk!

Belum cukup. Masih ada kosakata lain sejenis yang artinya makan dengan peruntukan yang berbeda-beda, seperti mangan, madyang, menthong, dan dahar. Nah, ada kosakata yang artinya "makan" namun terkesan kasar, maaf... kosakata itu adalah mbadhok".

Memang begitu, kan? Wkkkk! Kawan-kawan terkekeh-kekeh, merespon jawaban spontan saya :)

Ada lagi yang tak kalah serunya. Jika nasi itu disajikan sebagai tumpengan untuk disantap beramai-ramainamanya sego bancakan. Lanjutkan sendiri, hehe :)

*****

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2