Mohon tunggu...
Luthfiyah Nurlaela
Luthfiyah Nurlaela Mohon Tunggu... -

Pendidik di Universitas Negeri Surabaya

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Kabar dari Maluku Barat Daya (MDB) 2

24 Juli 2013   13:48 Diperbarui: 24 Juni 2015   10:06 224
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gadget. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

Malam ini, saya kembali membaca surat dari Romlah. Surat yang diemailkan oleh adik Romlah kemarin malam. Entah kenapa, Romlah tidak langsung mengirimnya ke saya, tapi melalui adiknya.

Romlah merupakan salah satu peserta SM-3T yang bertugas di Romkisar (Nanda, rekan Romlah yang bertugas di Sermata, Mdona Hyera, menyebutnya Rumkisar). Sebuah wilayah yang disebut-sebut Nanda sebagai tempat yang lain daripada yang lain. Berada di ujung pulau, dalam kondisi apa pun lautnya selalu bergelombang, akses ke sana harus menembus hutan yang 'samun', dan unsur magic yang masih terasa sangat kuat melingkupi desa beserta masyarakatnya.

"Sebelumnya saya mohon maaf bu atas kedatangan surat ini. Ini saya Romlah bu. Saya ketik surat ini di Mahaleta (kebetulan listrik dari jenset lebih memadai daripada di Romkisar). Keberadaan saya di Mahaleta bukan kebetulan bu. Kami bertiga (saya, Mbak Yuni dan Mbak Vina) sengaja dilarikan ke Mahaleta untuk kebutuhan pengobatan. Saya dan Yuni membutuhkan medis untuk membantu kami yang ternyata positif terkena malaria valcivarum karena di Romkisar (desa tempat kami ditugaskan) tidak ada tenaga medis sama sekali. Alhamdulilah keadaan kami sedikit lebih baik setelah mendapat penanganan para mantri, semoga kesembuhan dan kesehatan selalu menyertai kami, amien."

Itulah alinea pembuka surat Romlah. Sosok manis berjilbab yang ramah itu terbayang di mata saya. Beberapa waktu yang lalu, di awal-awal penugasannya, dia pernah menelepon saya dari Ambon. Waktu itu, dia dan beberapa temannya sengaja menumpang kapal ke Ambon untuk mengambil beasiswa di rekeningnya, serta berbelanja berbagai keperluan untuk bekal selama di Romkisar. Saat itu kami juga sedang melakukan pengiriman pelampung, sehingga keberadaan Romlah dkk di Ambon sangat membantu kami. Pelampung kami kirimkan ke Ambon, dan Romlah dkk membawanya menyeberang Laut Banda menuju tempatnya bertugas,  untuk dibagikan kepada semua rekannya di MBD.

Dalam suratnya, Romlah tak hendak bercerita tentang sakit yang dideritanya. Dia ingin bercerita tentang kondisi pendidikan di Romkisar. Dia dan kedua temannya ditugaskan di SDN Romkisar. Di sekolah itu, hanya ada dua guru PNS, yaitu kepala sekolah dan guru agama. Kepala sekolah sering ada urusan dinas atau keperluan kuliah, sedangkan guru agama juga sering izin tidak masuk. Bahkan baru-baru ini, guru agama izin melahirkan sejak bulan Februari, dan sampai sekolah sudah masuk libur semester dua, dia belum kembali.

"Kami sangat menyayangi murid-murid kami yang menurut kami kemampuannya tidak kalah dibanding anak-anak di kota. Mereka cukup cepat menangkap apa yang kami sampaikan, apalagi ketika kami beri mereka pelajaran dengan bermain dan bernyanyi. Mereka semangat sekali bu. Mereka tidak kekurangan fasilitas, saya rasa perlengkapan sekolah yang orang tua mereka berikan berkategori cukup jika dibanding kondisi anak-anak Sumba yang pernah ibu ceritakan waktu prakondisi. Hanya saja ibu, mereka masih kurang kesadaran untuk belajar. Mereka harus dipaksa untuk sekedar datang les (sungguh keadaannya tidak sejalan dengan cerita yang saya baca di buku "Ibu guru, saya ingin membaca", Sumba Timur). Tpi bu, justru itu kami sangat 'mengemani' itu.

Romlah mengaku, dia dkk sangat khawatir dengan 'ancaman' kepala sekolah kepada murid-murid, bahwa beliau akan keluar dari SDN Romkisar bila guru-guru SM-3T habis masa kontraknya. Ibu guru agama pun kabarnya juga akan pindah tempat mengajar. "Terus nanti siapa yang akan mengajar murid-murid kami?" Begitu tanya Romlah.

Saya jadi ingat persoalan yang sama yang terjadi di Pulau Salura, Sumba Timur. Di SMP Satap, waktu kami melakukan monev Juni yang lalu, tidak ada satu pun guru yang bertugas di sana. Maka para peserta SM-3T itulah yang 'ngurusi' sekolah itu. Sama halnya dengan Romlah, Heri dkk di Salura juga mengkhawatirkan sekolah itu akan tutup karena tidak ada gurunya, selepas kepergian mereka karena masa tugasnya telah berakhir.

Romlah dkk memohon agar Romkisar tetap digunakan sebagai tempat tugas peserta SM-3T angkatan ketiga nanti, agar anak-anak ada yang mengajar. Seperti itu jugalah yang diminta Heri dkk di Salura.

Kondisi Romkisar persis seperti apa yang diceritakan Nanda dalam SMS-SMS-nya. Romlah menggambarkan, desa kecil yang dihuni oleh sekitar 64 KK dan hanya memiliki satu-satunya sekolah, yaitu SD itu, memiliki laut yang ombaknya....'masa ampun, bu, besar dan kencang sekali...', begitu katanya.

"Kami tidak punya akses untuk berlayar ke desa sebelah, apalagi speed milik desa sedang rusak. Jalan darat yang menghubungkan desa Romkisar dengan Elo (tempat tugas Rio dkk) dan Romkisar dengan Lelang (tempat tugas Eko dkk) juga tidak dekat dan tidak mudah. Jarak ke Elo sekitar 7 km, dan jarak ke Lelang sekitar 13 km.  Perjalanan pun cukup melelahkan dan membahayakan karena harus menerobos padang ilalang dan menyeberang sungai, dan saya sudah merasakannya."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun