Cerpen Pilihan

Cinta Diam-diam

14 September 2018   10:00 Diperbarui: 14 September 2018   10:21 442 2 0

Kisah ini saya alami saat saya masih duduk di bangku perkuliahan. 

Perempuan itu bernama Indira, berhijab, ibadahnya rajin serta memiliki wajah rupawan yang merupakan nilai tambah dalam dirinya. Awal pertama bertemu Indira, saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Ya, kesan petama memang sangat membekas, namun patut disayangkan karena saya tidak pernah memiliki keberanian untuk berbicara ataupun bertegursapa langsung dengan-nya. Hanya melihat wajahnya saja sudah membuat mulut saya membisu dan salah tingkah. Sulit rasanya, untuk berkenalan pun rasanya sulit. Bahkan untuk mendapatkan pin BlackBerry-nya saja saya harus menunggu sampai ada temen yang mempromote dia, karena hanya itu satu-satunya cara agar saya bisa memiliki kontaknya.

Hal yang membuat saya tidak PD adalah penampilan saya sendiri yang membuat saya merasa bahwa untuk berkenalan dengannya sangat sulit. Saya itu sederhana, bahkan sampai sederhananya saya sering cuma pakai sandal ke kampus. Sebenernya bukan persoalan ekonomi saya takut untuk mendekati Indira, tetapi soal apa yang pernah saya alami di masa lalu. Saya takut hal itu akan terulang jika saya mendekati Indira. Maka saat itu saya putuskan, saya akan mencintainya dalam diam dan jika ada kesempatan buat saya itu tidak akan pernah saya sia-siakan.

Seperti kebanyakan orang yang cinta diam-diam, mereka pasti akan mencari tahu hal apapun yang disukai oleh orang yang mereka taksir. Seperti halnya saya, mencari-cari seperti apa kepribadian dia yang sebenernya? apasih yang dia suka? Walaupun saya tau bahwa dia tidak akan pernah memikirkan saya sama sekali. Sesulit inikah cinta diam-diam? Saya hanya bisa berkhayal dan memikirkan apa yang akan terjadi jika cinta yang selama ini saya pendam tersampaikan. Apakah kita akan menjadi sepasang kekasih seperti halnya dengan remaja lainnya? Kemudian saya bangun dari lamunan itu dan yakin bahwa khayalan saya sudah terlampau jauh. Iya jauh, bahkan kenalan saja saya tidak berani, apalagi menyatakan perasaan? Kenapa sih menyatakan cinta itu sulit? Bahkan bisa menyiksa siapapun yang memang memendam perasaannya. Seperti halnya saya dan orang-orang lain yang cinta secara diam-diam.

Sampai pada suatu malam, handphone saya berdering dan terpampang notifikasi dari "Indira". Saya senang bukan kepalang, sampai-sampai sudah membayangkan hal-hal yang mungkin dibilang sudah kejauhan.

"Hi sorry ganggu" sapanya yang kemudian langsung saya balas dengan cepat "Hi juga, engga ganggu kok. Ada apa? Tumben chat gw?"

Indira pun membalas "Lu Luthfie yang anak Multimedia kan?"

"Iya, bener gw Luthfie anak Multimedia"

"Bisa minta tolong ga? Flashdisk gw masa gabisa kebaca, lu bisa benerin ga?" balas Indira

Disaat itu pula saya sangat senang sekali, perasaan tersebut menggambarkan seperti "WOW GILA". Ya memang walaupun dia hanya meminta tolong untuk memperbaiki flasdisk-nya yang rusak, tetapi kalian akan tahu betapa bahagianya jika seseorang yang kalian taksir men-chatting kalian duluan. Permintaan tolong tersebut pun dengan mudah saya iya-kan.

"Oke kebetulan besok gw libur, ketemuan besok ya di kantin kampus jam 10!" jawab saya dengan semangat.

***

Keesokan harinya saya sengaja datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Alasannya sederhana, karena saya tidak ingin membuat perempuan yang saya taksir menunggu. Sudah lewat 15 menit dari waktu yang dijanjikan, tetapi dia belum kunjung datang juga. Mungkin buat kebanyakan orang menunggu adalah hal yang paling membosankan, tetapi menunggu bisa menjadi hal yang sangat menyenangkan jika yang di tunggu adalah sesuatu yang bisa membuat hati bergema. Akhirnya setelah menunggu hampir setengah jam dia pun tiba. Dia terlihat berjalan dari kejauhan dan setiap langkahnya membuat jantung saya berdetak kencang.

"Hai .." sapa Indira

"Ha.. haii.." jawab saya dengan nada gugup, karena ini adalah pertamakalinya saya bertatapan muka dengannya.

"Sorry ya lama, macet soalnya. Nih flashdisk gw, tolong di benerin yaa. Sorry nih gw gabisa nunggu, soalnya gw ada kelas. Gapapa kan?" Tanya Indira sambil menyerahkan flasdisknya.

"O.. okee.. iya, gapapa kok"

"Okedeh, makasih yaa" balas dia sambil tersenyum yang kemudian langsung bergegas untuk ke kelas.

Senyuman itu seperti membekas hingga membuat saya semakin bahagia dan membuat saya bertanya kepada diri saya sendiri "apakah ini kesempatan buat gw?"

Waktu pun berlalu, flasdisk miliknya juga sudah selesai saya perbaiki dan hal yang saya lakukan selanjutnya adalah menunggu dia menyelesaikan pelajaran pada hari itu. Saya pun men-chatting dia untuk memastikan kapan selesainya mata kuliah tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2