Mohon tunggu...
Lusy Mariana Pasaribu
Lusy Mariana Pasaribu Mohon Tunggu... Dosen

Melalui tulisan ada beberapa hal yang dapat tersampaikan tentang apa yang dirasa dan dipikirkan

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Berdamai dengan Keadaan dan Tidak Lagi Berprasangka Buruk

7 Juni 2020   07:17 Diperbarui: 7 Juni 2020   07:35 187 56 43 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Berdamai dengan Keadaan dan Tidak Lagi Berprasangka Buruk
Pixabay

Beberapa malam yang lalu, tepat pada tanggal 3 Juni 2020 saya melihat postingan salah satu warga Kompasiana yang mengeluarkan kegelisahan hatinya di dalam artikel yang ditayangkan di platform blog K. Kers tersebut merasa mengalami ketidakadilan, karena menerima email atas tuduhan melakukan kecurangan perihal viewers dan Nilai tertinggi di K.

Saya tidak tahu seperti apa yang sebenarnya terjadi. Hanya berharap kers tersebut mendapatkan pencerahan dari pihak K. Kalaupun tidak, kers tersebut harus berdamai dengan keadaan. Agar hal itu tidak merusak suasana hatinya perihal tulis-menulis.

Seperti yang saya lakukan, berdamai dengan keadaan dan tidak membiarkan diri terus berprasangka buruk. Sebab jika saya terus berprasangka buruk, yang ada saya selalu memiliki pikiran negatif dan merasa tak nyaman untuk mengurai tulisan yang ada di dalam benak saya.

Sebagai rujukan, saya menuliskan arti prasangka menurut KBBI. Prasangka adalah "pendapat kurang baik mengenai sesuatu, sebelum mengetahui sendiri".

Sulit memang untuk berdamai dengan keadaan dan tidak berprasangka buruk di saat kita merasa mengalami ketidakadilan, tapi bukannya tak bisa dilakukan untuk berdamai dan menerima keadaan.

Sejauh ini, saya pribadi mengalami hal serupa "ketidakadilan" sebanyak 2 kali d K.

Kenapa saya katakan begitu?

Yang pertama:
Tanggal 16 Mei 2019, saya menayangkan artikel puisi. Saya tidak akan menuliskan judul puisinya di sini. 

Awalnya saya biasa saja, tapi selang beberapa waktu, puisi yang saya posting tadi jadi Artikel Utama. Saya merasa bahagia, karena sebelumnya puisi saya belum pernah dilabeli AU oleh pihak K. Dan buru-buru saya kirim link puisi saya tadi k WAG literasi yang saya ada di dalam grup itu dan menuliskan bahwa puisi ini artikel utamaku di K.

Tapi rasa senang itu hancur berkeping-keping, pihak K membatakan label AU tadi dan parahnya jadi artikel pilihan pun tidak. Saya merasa malu terhadap teman WAG, karena artikel utama yang batal dan mau tidak mau menahan rasa malu itu.

Memang pihak K berhak atas keputusan itu, mereka yang lebih tahu mana artikel yang layak menjadi artikel pilihan dan artikel utama. Tapi kekeliruan mereka bisa menyebabkan warga Kompasiana merasa kecewa dan berprasangka buruk terhadap pihak K.

Dan untuk kedua kalinya saya mengalami hal serupa:
Tanggal 4 Juni 2020, saya menayangkan artikel puisi. Beberapa menit berlalu, artikel puisi itu menjadi artikel pilihan dan saya bagikan linknya di WA. Dan hal yang rumit terjadi, artikel fiksi itu batal menjadi artikel pilihan. Dan saya memutuskan untuk menghapus artikel puisi itu dari platform blog K.

Entah apa yang merasuki pihak K,  saya pun tidak tahu jawabannya. Saya memilih berdamai dengan keadaan dan tidak lagi berprasangka buruk terhadap pihak K. Karena pihak K memiliki hak mutlak atas seluruh tulisan yang sudah ditayangkan.

Mungkin, ada juga warga Kompasiana yang mengalami hal serupa. Hingga kers berprasangka buruk terhadap pihak K, entahlah.

Pada akhirnya, apa pun yang akan saya alami ke depannya. Baik di dunia nyata atau maya. Sedapat mungkin saya akan mengontrol diri dan hati, dan tak membiarkan prasangka buruk bertahta dalam hati saya.

Karena bersama K, banyak cerita dan kisah menyenangkan yang saya alami, ada pula hal yang menginspirasi terjadi dalam hidup saya. Jadi 2 kekeliruan yang pernah saya alami, tak akan membuat saya selalu berprasangka buruk terhadap pihak K.

***
Lusy Mariana Pasaribu

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x