Mohon tunggu...
Lusy Indria
Lusy Indria Mohon Tunggu... planologi student

tidak boleh kosong

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah dan Keterkaitannya dengan Kependudukan

10 November 2019   19:12 Diperbarui: 10 November 2019   19:38 416 0 0 Mohon Tunggu...

Ditinjau dari segi akademis, teori pertumbuhan ekonomi wilayah merupakan bagian penting dalam analisis ekonomi wilayah dan perkotaan (Sjafrizal, 2017 : 88). Alasannya, pertumbuhan merupakan salah satu unsur utama dalam pembangunan ekonomi wilayah dan mempunyai implikasi kebijakan yang cukup luas. pembangunan wilayah jelas memerhatikan segi ekonomi sebab ada manusia yang hidup di dalamnya. Terlebih, tanpa terjadinya perputaran uang maka pasar-pasar akan mati dan pemenuhan kebutuhan masyarakat pun akan terkendala. Pada masa kini tidak dapat dipungkiri bahwa pertumbuhan ekonomi yang masif adalah salah satu cita-cita yang ingin diraih dalam penyusunan rencana pembangunan nasional maupun daerah, tanpa mengesampingkan aspek fisik dan sosial.

Pertumbuhan ekonomi yang meningkat merupakan harapan setiap kelompok masyarakat jauh sebelum abad ini, dapat dilihat dari teori-teori ekonomi yang banyak lahir dari pemikir ekonomi di masa lampau. Teori-teori ekonomi yang dapat dihubungkan dengan pembangunan wilayah adalah Teori ekonomi neo-klasik (Teori yang menjabarkan mengenai pembentukan harga, produksi, dan distribusi pendapatan melalui mekanisme permintaan dan penawaran pada suatu pasar), teori ekonomi geografi (teori ekonomi yang menitikberatkan pada aspek keruangan, tempat, dan batasan atau skala dari aktivitas ekonomi manusia), serta teori basis ekonomi yang dikemukakan oleh Harry W. Richardson (Teori ini menyatakan bahwa faktor penentu utama pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah berhubungan langsung dengan permintaan akan barang dan jasa dari luar daerah (Arsyad 1999:116)).

Pertumbuhan ekonomi begitu jelas dampaknya kepada kependudukan. Hal ini dapat dilihat pada saat kenaikan harga-harga bahan pangan maupun kelangkaan jumlah bahan pangan akan selalu menimbulkan gejolak sosial di masyarakat baik yang tidak disalurkan maupun yang disalurkan melalui aksi unjuk rasa. Kembali ke masa lalu, unjuk rasa Tritura yang terjadi di era pemerintahan Soekarno pun berisi tuntutan mengenai penurunan harga pangan dan sandang yang membumbung tinggis sebab keadaan sosial-ekonomi Indonesia yang terguncang akibat konfrontasi dengan Malaysia dan persoalan Irian Barat (Muhammad Umar Syadat Hasibuan  (2008) dalam artikel https://tirto.id/gelora-tritura-menggulung-riwayat-orde-lama-cCMJ). Keterkaitan antara ekonomi-kependudukan ini juga dapat dilihat dalam teori Malthus yang berbunyi "Laju pertumbuhan penduduk itu seperti deret ukur, dan laju pertumbuhan pangan seperti deret hitung." Yang artinya setiap kali terjadi pertumbuhan penduduk tidak dibarengi dengan kenaikan jumlah bahan pangan untuk mengimbangi kebutuhan pangan. Hal terburuk dari fenomena itu adalah kelaparan dan kemiskinan.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x