Mohon tunggu...
Ludiro Madu
Ludiro Madu Mohon Tunggu... Dosen

Mengajar di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UPN 'Veteran' Yogyakarta.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Ketika "Link" Invitasi Zoom adalah Kunci

25 Oktober 2020   17:03 Diperbarui: 25 Oktober 2020   17:05 51 15 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ketika "Link" Invitasi Zoom adalah Kunci
Ilustrasi: pikiran-rakyat.com

Normal baru tidak lagi baru, tetapi sudah menjadi kebiasaan. Menjadi kegiatan atau sesuatu yang biasa dilakukan. Tidak ada lagi kebaruannya. Situasi dan kondisi itu yang terjadi sekarang ini. Banyak hal baru terjadi di awal virus Corona menyebar di Maret dan April lalu. Setelah delapan bulan berlalu, kebaruan itu telah berubah menjadi biasa.

Tulisan ini mengajak melihat salah satu aspek normal baru yang tidak baru lagi itu, namun telah menimbulkan perubahan yang tidak disadari. Perubahan itu memiliki dampak yang berbeda. Artinya, perubahan ini tidak berlaku umum di seluruh Indonesia. Syarat dan ketentuan berlaku.

Salah satunya adalah link invitasi  (invitation link) zoom. Orang memerlukan undangan dalam bentuk link atau tautan ke zoom untuk bisa bertemu secara daring atau tatap layar. Begitu pula dalam perkuliahan.

Saya mengamati bahwa otoritas kuliah onlen tampaknya tidak lagi berada di tangan kampus, tetapi telah berpindah ke tangan dosen atau guru, atau pendidik. Kampus tidak memberikan otorisasi khusus mengenai tautan ini. Ibaratnya sebuah kafe tidak memiliki produk jualan khas yang menjadi identitasnya. Walaupun dosen memiliki keleluasaan dalam mengatur perkuliahan (mungkin ini bagian dari kampus merdeka dan merdeka belajar), otoritas tetap perlu hadir dalam bentuk yang paling sederhana.

Kondisi ini seolah merupakan sebagian kecil dari perpindahan kantor ke rumah melalui work from home. Walau sekarang kegiatan kantor sebagian sudah dilajukan di kantor dengan protokol kesehatan yang ketat, kegiatan belajar tetap berlangsung dengan pusat di rumah-rumah dosen. Bukan kampus atau sekolah.

****
Semua berawal dari kuliah onlen. Setiap mau kuliah onlen, mahasiswa selalu meminta saya mengirimkan link invitasi zoom ke grup WhatsApp (wa). Kebetulan aplikasi zoom dipakai untuk video conference perkuliahan. Awalnya saya biasa saja, tetapi lama-lama saya merasakan ada yang aneh dengan permintaan itu.

Iya, aneh saja. Mengapa mahasiswa minta link zoom itu ke saya? Bukankah seharusnya mereka minta link itu ke kampus, bukan ke dosen? Kampus lah yang seharusnya menyediakan link itu. Link invitasi zoom itu kan ibaratnya kunci ke ruang kuliah atau kelas. Kunci kelas itu disimpan di kampus dan tentu saja harus diambil di kampus. Link itu ibaratnya representasi kampus.

Ini seperti ketika perkuliahan berlangsung di kelas-kelas di gedung kampus. Kunci kelas disimpan di kampus. Ketika ada kuliah, kunci kelas diambil di kampus pula. Mahasiswa tidak meminta kunci kelas ke dosennya.

Lalu, tiba-tiba listrik mati. Kuota internet habis. Kuliah onlen selesai begitu saja. Mau pindah ke tempat lain, seperti kafe, demi mendapat koneksi internet tidak bisa. Pagi hari baru saja membuka diri. Masih jam 7.15 WIB. Kafe dan tempat internet gratis masih tutup. Ternyata mau melanjutkan kuliah onlen malah ribet. Di luar rumah pun mulai hujan. Ya sudah, kuliah tak perlu dilanjutkan dan diganti lain waktu.

Kondisi ini tentu saja akan berbeda apabila perkuliahan berada di kampus. Listrik mati di kampus bisa ditunggu hingga hidup lagi atau diganti hari lain dengan tetap menjalankan perkuliahan di kampus.

***
Begitulah sekelumit repot dan ribetnya kuliah onlen sekarang. Empat minggu sudah onlenisasi kuliah berjalan. Di semester ini, persiapan dan pelaksanaannya sudah lebih baik ketimbang semester lalu yang mendadak. 

Waktu itu kuliah sudah menjelang ujian tengah semester. Pada saat itu, kuliah onlen malah tanpa persiapan dan serba tiba-tiba. Ada lebih banyak masalah pada semester lalu ketimbang sekarang. Namun begitu, yang namanya masalah ternyata tetap ada. Walau kecil dan sepele masalahnya, tetap saja mengganggu.

Selama work from home, hampir semua kegiatan belajar dan mengajar berpindah ke rumah. Seakan perpindahan itu hanya fisik semata, tanpa keikutsertaan roh atau nilai belajar-mengajar. Nilai atau values belajar-mengajar itu pun bergantung kepada dosennya.

Akibatnya, kampus kosong-melompong, tanpa mahasiswa. Gedung-gedung sekolah dan kampus secara terstruktural, sistematis, dan masif tidak lagi ramah dengan mahasiswa. Ada pegawai datang ke kampus, tapi dibatasi. Protokol kesehatan menghadang mahasiswa dan pegawai menyapa tempat belajar dan bekerja mereka.

Work from home tentu saja tidak sekedar berisi keluh kesah. Ada manfaat dan kelebihannya juga. Situasi normal baru ini mendorong dosen dan mahasiswa belajar banyak hal baru. Berbagai aplikasi video conference, audio, dan media sosial harus dipelajari lagi untuk mendukung perkuliahan menjadi menarik dan tidak membosankan.

Ada motivasi baru. Ada gairah baru untuk belajar banyak hal baru. Walau tertatih-tatih mengejar ketertinggalan teknologi, ada tambahan informasi dan ketrampilan baru untuk variasi cara mengajar memakai aplikasi baru itu.

Peningkatan kemampuan belajar perangkat digital itu ternyata juga mengubah perilaku belajar dan mengajar. Baik dosen maupun mahasiswa mulai memahami persoalan struktural dari kuliah onlen, yaitu listrik dan kuota internet. Dengan cara itu, dosen dan mahasiswa dapat mencari cara-cara solutif. Ketika zoom tidak tersedia secara premium, misalnya, maka solusi kreatif dan inovatif perlu dicari tanpa mengorbankan perkuliahan.

Dengan work from home, otoritas kuliah onlen ternyata dipegang dosen, entah disadari atau tidak. Dosen memang pegawai kampus dan menjadi representasi kampus dalam kegiatan belajar-mengajar onlen itu. Anehnya, otoritas itu mewujud pada link invitasi zoom. As simple as that. Sesederhana itu ternyata.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x