Mohon tunggu...
Tri Lokon
Tri Lokon Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Suka fotografi, traveling, sastra, kuliner, dan menulis wisata di samping giat di yayasan pendidikan

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Warga Arborek Raja Ampat Menjaga Laut agar Bebas Sampah

3 Desember 2017   11:07 Diperbarui: 10 Desember 2017   21:00 0 10 6 Mohon Tunggu...
Warga Arborek Raja Ampat Menjaga Laut agar Bebas Sampah
Papan Larangan Wisatawan, di Kampung Wisata Arborek (Dokpri)

"Indonesia membuang limbah plastik sebanyak 3,2 juta ton, dan berada di urutan kedua sebagai negara penyumbang sampah plastik ke laut setelah Cina" ungkap Dr. Jenna Jambeck, peneliti dari Universitas Georgia, di Jurnal Science, 12 Februari 2015. (lihat di sciencema.org),

Tak mudah bagi saya untuk melupakan keindahan alam Wajag dan Piaynemo. Terus terang, sampai sekarang, saya masih terbayang pada warna lautnya yang bergradasi biru, hijau, putih, tosca di sekitar gugusan pulau kars dan pantainya. Saking bersihnya air laut di sekitar pulau kars, saya bisa melihat terumbu karang dan biota laut, moluska di dasar bawah laut.

Piaynemo, tempat kami menginap semalam, kami tinggalkan. Om Papua sudah menyalakan mesin kapal berkapisitas 400 PK dan siap menderukan kapalnya ke tempat wisata berikutnya.

Welcome to Arborek (dokpri)
Welcome to Arborek (dokpri)
Pagi itu, matahari tersenyum hangat dari ufuk Timur. Langit biru menemani lajunya speedboat yang kami tumpangi. Sebelum berangkat Pak Sam, tour leader kami, mengatakan bahwa tujuan selanjutnya adalah Kampung wisata Arborek.

Pelayaran dari Piaynemo ke Arborek terasa nyaman. Ombak laut relatif tenang. Sesekali saya terlihat ikan terbang seperti mengimbangi lajunya speedboat kami. Tak kurang dari satu jam, om Papua sudah mengurangi kecepatan. Di depan mata sebuah dermaga dihiasi umbul-umbul dan penjor menyambut kedatangan kami.

Demi anak cucu kita (dokpri)
Demi anak cucu kita (dokpri)
Memberi makan ikan (dokpri)
Memberi makan ikan (dokpri)
Tanpa disuruh, saat kapal merapat, awak kapal lansung melompat ke dermaga. Lalu, tali kapal ditambatkan pada salah satu tonggak kayu di dermaga. Sementara itu, saya terpesona oleh banyaknya ikan-ikan cukup besar berkumpul di sekitar anak tangga dermaga.

"Masih ada roti? Bole minta dang" teriak saya kepada siswa saya. Tak begitu lama saya Holly menyerahkan sebungkus roti.

"Pak sebelah sini, dekat anak tangga. Di sini banyak ikan berkumpul," ujar Yansen sambil menudingkan telunjuk jari kanannya. Kami pun memberi makan ikan-ikan dengan remukan roti. Ikan-ikan itu berebut menyambut dan melahapnya setiap remukan roti yang kami jatuhkan. Asyik.

Sambil "bermain" dengan ikan-ikan itu, Terbesit dalam pikiran saya, warung-warung ikan bakar yang lagi menjamur di muka Rindam, Tomohon. Menjamurnya warung kuliner ikan bakar itu, saya amati, belum ada setahun.

Slogan Warga Arborek (Dokpri)
Slogan Warga Arborek (Dokpri)
"Saya Senang Karena Bersih"

Terusik dalam benak saya, apakah munculnya warung kuliner ikan bakar di kota bunga itu akibat dari kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Ibu Susi Pujiastuti, seperti yang diplesetkan warganet, "yang tidak mau makan ikan akan ditenggelamkan". He he he meski kami warga gunung dan jauh dari pantai, kami siap mengkonsumsi ikan karena ikan adalah lauk pauk kami sehari-hari. Kami sudah terbiasa makan ikan Cakalang, ikan Roa, ikan Tude, ikan Nike, ikan Mujaer dan ikan lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
KONTEN MENARIK LAINNYA
x