Tri Lokon
Tri Lokon karyawan swasta

Suka fotografi, traveling, sastra, kuliner, dan menulis wisata di samping giat di yayasan pendidikan https://www.instagram.com/trilosnito

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Kehujanan Saat Mendaki Puncak Bukit Wayag Raja Ampat

21 November 2017   11:16 Diperbarui: 21 November 2017   15:42 2526 8 6
Kehujanan Saat Mendaki Puncak Bukit Wayag Raja Ampat
Indahnya Wayag dari Puncak Bukit (Dokpri)

Liburan sekolah Juni 2017 yang lalu, saya dan beberapa siswa saya, berlibur ke Raja Ampat. Liburan ke Raja Ampat itu kami atur sendiri tanpa bantuan agen wisata. Sudah lama saya bermimpi ke Raja Ampat. Entah kenapa, Raja Ampat yang mendapat julukan "surga terakhir dunia" seperti menghipnoptis saya untuk dikunjungi. Berikut cerita liburan saya ke Raja Ampat.

Menuju ke Raja Ampat, tidak sulit. Wings Air menyediakan penerbangan langsung dari Sam Ratulangi, Manado ke bandara Marinda, Waisai, Raja Ampat. Tapi, saya dan rombongan memilih rute berbeda. Dari Manado langsung ke Sorong. Ada orang tua siswa yang ingin bergabung dengan rombongan saya dari Sorong.

Manado -- Sorong -- Waisai, Raja Ampat

Pelabuhan Kapal Sorong (Dokpri)
Pelabuhan Kapal Sorong (Dokpri)
Pagi itu (15/6) burung besi bertuliskan Explore Jet milik maskapai Garuda, mendarat di Domine Eduard Osok Airport Sorong dengan mulus. Senyum kemegahan Bandara Sorong menyambut kedatangan setiap penumpang yang mendarat. Di parkiran bandara, taksi plat hitam yang kami sewa, sudah menunggu kedatangan kami. Tak lama kemudian mobil berjalan menembus panasnya udara Sorong.  

Tiket Kapal (Dokpri)
Tiket Kapal (Dokpri)
Jam 12.00 kami bergegas menuju ke pelabuhan rakyat Sorong. Kapal feri cepat Bahari Express sudah bersandar di dermaga. Tiket ekonomi seharga Rp. 130.000,- yang saya pegang, diminta petugas dan satu lembar disobek setengah saat kami sudah duduk sesuai dengan nomor yang tertera di tiket. Kapal berangkat pukul 13.10 dan tiba di Waisai sekitar pukul 15.00.

Tempat duduk penumpang (Dokpri)
Tempat duduk penumpang (Dokpri)
"Bersih juga kapal ini. Ada TV dan AC-nya cukup dingin. Tempat duduknya empuk seperti naik Bus Eksekutif" kata saya kepada Elisabeth Korwa, asal Timika. Lalu dia menjawab, sekitar dua jam kita tiba di pelabuhan Waisai.

Ombak laut di bulan Juni, tidak terlalu besar. Kapal feri cepat yang kami tumpangi berlayar dengan tenang. Beberapa siswa tampak menikmati perjalanan itu dengan tidur pulas tanpa diganggu oleh derunya suara mesin.

Pelabuhan Waisai (Dokpri)
Pelabuhan Waisai (Dokpri)
Pelabuhan "Hope" Waisai, Pulau Waigeo, Kabupaten Raja Ampat sudah terlihat di depan mata dan melambaikan tangannya menyambut kedatangan seluruh penumpang. Kesibukan bongkar muat dan lalu lintas naik turun penumpang mulai terdengar meramaikan suasana pelabuhan.

Sebuah mobil pick up, yang kami cater, sudah menunggu. Semua barang bawaan kami langsung dinaikkan ke dalam bak mobil.

Di dekat pelabuhan Waisai (Dokpri)
Di dekat pelabuhan Waisai (Dokpri)
"Jangan naik mobil dulu. Foto-foto dulu di tulisan Raja Ampat di sana. Buat foto untuk bukti bahwa kalian sudah sampai di Raja Ampat. Di sini signal telpon dan internet masih ada. Nanti kalau udah di pulau-pulau, hampir tidak ada signal" kata Pak Samuel Korwa, pemandu sekaligus yang mengatur wisata kami. Pak Sam adalah ayah Sabet Korwa.

Tugu Selamat Datang (Dokpri)
Tugu Selamat Datang (Dokpri)
Kami serentak pergi ke lokasi tulisan "Raja Ampat" dan tugu selamat datang. Di situlah kami berfoto ria. Setelah itu, kami menuju ke penginapan. Foto ini akan dijadikan bukti bahwa kami sudah sampai di Raja Ampat dengan selamat.

Pantai WTC -- Waisai Torang Cinta

Setelah check in di penginapan, kami keliling kota Waisai untuk mencari makan dan singgah ke Pantai WTC (Waisai Torang Cinta). Ternyata jarak antara penginapan ke pantai WTC, hanya beberapa menit saja.

Pantai WTC (Dokpri)
Pantai WTC (Dokpri)
Memasuki pantai WTC terasa lapang. Beberapa orang tampak duduk santai di pinggir lapangan sambil memandang ke laut menanti senja tiba. Saya dan rombongan menuju ke jembatan kayu di sebelah kanan yang menghubungkan pantai sebelah. Sambil menunggu matahari tenggelam di balik rumpun pohon kelapa kami berlarian dan besendagurau di atas jembatan kayu.

Kesan saya pantai WTC kurang terawat dengan baik. Coretan vandalisme pada dinding tiyang lampu taman pantai, seperti dibiarkan saja. Namun demikian, bau air laut pantai Waisai, menguatkan kami untuk melanjutkan wisata Raja Ampat esok hari.

Berfoto di Pantai WTC (dokpri)
Berfoto di Pantai WTC (dokpri)
Selepas dari pantai WTC kami singgah ke toko souvenir untuk membeli oleh-oleh. Tersedia kaos dan gelang karet bertuliskan Raja Ampat, ukiran kayu etnik Papua, dan aneka macam topi unik. Sedangkan, masakan ikan laut dan nasional banyak ditemukan di rumah makan. Setelah kampung tengah terisi, kami kembali ke penginapan untuk istirahat. Besok pagi jam 06.00 kami berangkat menuju Wayag.

Peta Raja Ampat (Sumber: Google Maps)
Peta Raja Ampat (Sumber: Google Maps)
Kampung Selpelei -- Pos Wayag -- Trekking Wayag

"Kita nanti menggunakan speedboat bermesin 400 PK terbagi dalam dua mesin. Untuk bahan bakar selama perjalanan, dibutuhkan 8 drum bensin. Speedboat ini biasa saya pakai untuk membantu pemerintah dalam pemetaan wilayah. Rutenya, dari Waisai menuju ke ikonnya Raja Ampat yaitu Wayag. Sebelum ke Wayag, singgah dulu di Kampung Selpelei untuk minta surat jalan dan nanti melapor di Pos Wayag. Di pos itu kita istirahat sejenak untuk makan siang. Setelah itu kita trekking ke salah satu Bukit di Wayag" kata Pak Sam dalam perjalanan menuju ke pelabuhan.

Pelabuhan khusus speedboat (Dokpri)
Pelabuhan khusus speedboat (Dokpri)
Jumat pagi, pukul 05.30 cuaca di pelabuhan tampak cerah. Sinar mentari pagi terasa hangat menerpa badan. Pak Sam bersama 4 awak kapal asli Papua, sudah siap membawa kami ke Wayag hari ini.

Suka fotografi (Dokpri)
Suka fotografi (Dokpri)
"Pagi ini perjalanan menuju ke Wayag memakan waktu sekitar 3 hingga 4 jam, tergantung cuaca. Mamanya Sabet sudah menyiapkan untuk makan siang dalam kotak dan air mineral, teh kotak, susu kotak, permen dan aneka camilan untuk bekal di perjalanan. Makan minum ini penting disiapkan karena jarang ada warung" jelas pak Sam sambil menyuruh kami naik speedboat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2