Sulistyo
Sulistyo Buruh Dagang

Buruh Dagang

Selanjutnya

Tutup

Regional Pilihan

New Yogyakarta International Airport (NYIA) Jangan Lupakan Kearifan Lokal

7 Desember 2017   22:47 Diperbarui: 7 Desember 2017   22:59 558 8 5

Pembangunan fasilitas publik seperti halnya New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang berlokasi di pesisir selatan Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, D.I Yogyakarta kini telah memasuki awal pelaksanaan.

Proses pembebasan tanah/lahan serta pemagaran kawat sudah berlangsung dan sekarang mulai memasuki pembongkaran bangunan atau pemerataan tanah yang bakal menjadi bangunan mega proyek atas nama PT Angkasa Pura I bekerjasama dengan investor.

Dalam catatan perkembangan, perlu diketahui bahwa masalah yang sempat mencuat diberitakan media bahwa pembebasan tanah pada awalnya berjalan alot, muncul pro kontra disusul demo warga sekaitar yang terkena dampak proyek tersebut. Namun lambat laun pemahaman melalui komunikasi berkelanjutan mengenai pembangunan fasilitas publik menyangkut kepentingan umum akhirnya tetap bisa berlangsung.

Kurangnya pendekatan yang humanis (dialog) tanpa mempertimbangkan kondisi setempat/lokal seringkali membawa akibat yaitu proses pembangunan agak tersendat. Hal demikian terjadi karena kurangnya perencanaan yang matang, proses pelaksanaan proyek  yang hanya mengacu pada target waktu dan biaya pastinya tidak boleh terjadi.

Demikian halnya menyangkut masalah relokasi warga terdampak  rencana bandara baru yang terkesan tergesa-gesa telah mengundang respons cukup berkepanjangan. Proses relokasi atau pemindahan ke suatu tempat baru bukannya hanya sebatas membalik telapak tangan. Disini membutuhkan pendekatan banyak aspek terkait dengan kehidupan maupun kebiasaan/budaya warga yang hendak dipindahkan.

Masalah relokasi ini juga sempat berjalan kurang mulus. Hal ini dikarenakan pertimngan budaya lokal kurang mendapat perhatian. Betapa tidak, di bulan Suro seperti beberapa waktu lalu (21 September 2017 hingga 35 hari kedepannya) -- atas nama instruksi diminta kepada warga untuk segera hengkang dari tempat tinggalnya karena pembayaran ganti rugi sudah selesai.

Kita perlu memahami bahwa bulan Suro merupakan bulan yang dikeramatkan oleh warga sekitaran lokasi bandara baru tesebut. Dalam budaya setempat (Jawa), bulan Suro tidak baik untuk melakukan wiwitan/memulai kegiatan penting dalam kehidupan, termasuk pindah rumah, membangun rumah, dan sejenisnya.

Tampak dalam hal ini adanya benturan kepentingan. Disatu sisi proyek bandara baru harus berjalan sesuai target, jadwal waktu, pertimbangan untung rugi bagi investor dan kontraktor yang tak lepas dari perhitungan mereka. Sementara disisi lain, warga yang sudah meyakini budaya yang dianut -- tidaklah mungkin menaati imbauan yang cenderung 'memaksa' tersebut -- sehingga lagi-lagi kendala kecil ini mengundang ketegangan.

Beberapa contoh persoalan nyata terkait pelaksanaan proyek New Yogyakarta International Airport (NYIA) seperti dikemukakan diatas sesungguhnya telah memberikan suatu pembelajaran bagi kita semua.

Bahwa pembangunan apapun dalam rangka modernisasi bukanlah hanya berdasarkan hasrat pemenuhan kepentingan sepihak, dalam hal ini kepentingan yang bersifat ambisius di bidang ekonomi dan bisnis semata. Apalagi mengingat bahwa proyek pembangunan infrastruktur yang bersangkut paut dengan warga terdampak -- tidaklah sepatutnya 'mengabaikan' hak-hak dan kewajiban rakyat untuk menjalani kehidupan sesuai kebudayaan yang dianut secara turun temurun dan sudah mentradisi.

Bagaimanapun juga, niai-nilai dalam kebudayaan yang penuh dengan kearifam lokal (local wisdom)  menjadi pantas untuk dipertimbangkan. Kearifan lokal merupakan ruh hidup dan kehidupan tidak harus tergusur oleh kekuasaan dan kekuatan modal atas nama investor yang seringkali tak perduli dengan budaya dimana mereka menjalankan proyeknya.

Semoga tulisan ringkas ini bisa memberi masukan seperlunya, karena pembangunan di bidang apapun terutama pembangunan infrastruktur seperti bandara baru, terminal bus baru, pembangunan jalan tol baru, dan lainnya -- janganlah melupakan aspek sosial kemanusiaan yang tercakup dalam kearifan lokal

Dimaksudkan kearifan lokal disini adalah sebagai pendekatan tanpa meninggalkan nilai-nilai komunitas masyarakat setempat, adat istiadat maupun kebiasaan sehari-hari yang mengatur hubungan antarmanusia, alam dan lingkungan, religi/kepercayaan yang tercakup dalam sistem sosial setempat.