Lion Star
Lion Star

Hidup adalah proses belajar.

Selanjutnya

Tutup

Regional featured

Melihat Kembali Strategi Uber, Regulator, dan Sopir Taksi di Canada

11 Desember 2015   01:35 Diperbarui: 24 Maret 2017   00:00 3536 9 1

Beberapa menit lalu baru saja penulis membaca berita bahwa perusahaan transportasi Uber di Indonesia pada hari Selasa 8 December 2015, menyatakan telah mendapatkan lampu hijau dari pejabat pemerintah DKI untuk beroperasi di Jakarta, dan segera mendapatkan bantahan dari Gubernur DKI Ahok sebagaimana diberitakan di berbagai berita mainstream pada hari Kamis, 10 December 2015.   Terlihat jelas sekali dari beberapa pernyataan terakhir para pejabat baik dari departemen  perhubungan RI,  Gubernur DKI, maupun walikota Bandung untuk tidak akan melegalkan selama Uber tidak mengikuti aturan regulasi angkutan umum khususnya taksi yang berlaku selama ini di Indonesia.  

[caption caption="Montreal (garis Merah) telah dilayani Uber, banyak request jasa Uber di luar Montreal (belum terlayani)."][/caption]

Melihat hal ini, sebenarnya penulis tidak terkejut, karena itu sudah merupakan salah satu strategi global Uber dalam tarik ulur masalah legalisasi usaha transportasi mereka di negara manapun di dunia.  Dalam hal ini adalah sangat menarik untuk mencoba melihat secara objektif bagaimana tiga pihak utama yang berkepentingan yaitu perusahaan Uber,  regulator, dan sopir taksi resmi memainkan strategi mereka,   termasuk juga sikap dari sebagian besar konsumen Uber.  Sama seperti di Indonesia, di Canada transportasi Uber juga masih menjadi kontroversi dan dianggap  illegal karena mereka tidak mau mengikuti aturan regulasi untuk angkutan umum taksi di Canada.  Untuk analisis ini, penulis mencoba untuk menganalisa berdasarkan fakta dan data dari  strategi mereka di Canada,  untuk kemudian dibandingkan dengan keadaan di Indonesia, karena secara umum penulis melihat strategi Uber seakan memiliki panduan global yang serupa untuk diterapkan di berbagai negara,  namun regulator mungkin memiliki strategi yang berbeda antar negara.  Mari kita telaah bersama strategi Uber dan  regulator di Canada serta perusahaan taksi resmi di Canada, mungkin ada hal-hal mengejutkan yang bisa menjadi masukan dan membuka wawasan Kompasianers,  dan juga agar regulator  dan konsumen  di Indonesia dapat mengetahui strategi dari Uber ini, baik yang terlihat kasat mata, maupun strategi yang tersembunyi.

[caption caption="Karun Arya (Communication Lead Uber South East Asia and India) & Gia (Marketing Manager Uber Indonesia) klaim dapat lampu hijau di Indonesia."]

[/caption]

 

 Strategi Uber Merebut Pangsa Pasar

            Selama ini konsumen hanya tahu bahwa Uber sering memberikan harga yang lebih murah dibandingkan taksi resmi.  Namun masalah tarif ini menggerogoti pemasukan daripada sopir taksi resmi.  Kalau melihat sikap beberapa sopir taksi resmi di Indonesia yang seringkali di media masih sering berkata kalau rejeki itu diatur sama yang diatas, maka di Canada, para sopir dan perusahaan taksi resmi sangat menentang Uber karena data yang diungkap menjadi dasar utama mereka. Regulator juga tidak setuju karena terdapat potensi kerugian negara dari hal pajak, dan juga masalah regulasi keselamatan transportasi umum yang belum dipenuhi oleh Uber Canada.  

            Tahukah Kompasianers berapa jumlah pemakai Uber di Jakarta setiap bulannya? Berapa orang yang mencoba memesan Uber setiap bulannya di kota Solo dan Salatiga yang belum dilayani Uber?  Mengapa Uber membuka servicenya satu kota demi satu kota,  dan tidak sekaligus membuka servicenya untuk seluruh propinsi?  

Dapat penulis pastikan Kompasianers tidak akan pernah tahu jumlahnya, dan juga tidak tahu alasan Uber hanya membuka jasa mereka satu kota demi satu kota saja.  Berbeda dengan di Canada yang ada undang-undang keterbukaan informasi publik, maka perusahaan ataupun pejabat wajib membuka datanya yang berhubungan dengan pelayanan umum, kecuali bila  hal-hal yang bersifat rahasia negara.  Kalau melihat data di bawah ini, maka jawaban terhadap tiga  pertanyaan tersebut dapat terjawab dengan mudah.  Mari kita bahas bersama-sama.

[caption caption="Data Uber Canada, di Okt 2015 terdapat 15,000 upaya pemesanan di kota perbatasan utara dan selatan Montreal, region yang belum dilayani Uber (sumber Journal Metro)."]

[/caption]

 

Salah satu dasar strategi Uber dalam membuka pelayanan jasa mereka berbasiskan kota tertentu saja sangat mudah dibaca bila Kompasianers memiliki akses untuk melihat data riil konsumen yang mencoba memesan taksi Uber.  Beberapa minggu lalu,  Uber di Canada memperluas jasa service mereka yang tadinya hanya melayani kota Montreal,  ke kota Laval dan Longueuil,  yaitu kota suburban di perbatasan utara dan selatan Montreal. Sebagaimana dapat dilihat di peta statistik aplikasi Uber  di atas, terdapat 15,000 konsumen di kota perbatasan Utara (Laval), dan selatan (Longueuil) di  bulan Oktober 2015 yang mencoba untuk memesan taksi Uber, namun saat itu (bulan Oktober 2015) Uber masih belum melayani konsumen di kota tersebut.   Kota Montreal wilayahnya diapit diantara dua kota perbatasan di Utara dan Selatan tersebut, walaupun data di kota Montreal tidak ditampilkan, namun tentunya Kompasianers dapat memperkirakan jumlah pemesanan Uber di Montreal yang penduduknya lebih banyak dibandingkan kota penyokong.

Sama seperti di Indonesia,  dari Jakarta, Uber memperluas servis mereka dan memilih Bandung, serta segera mencoba untuk melobi petinggi di kota Bandung untuk mensupport usaha mereka.  Tentunya pemilihan kota Bandung bukannya tanpa dasar yang kuat.  Walaupun belum membuka jasa di kota Bandung,  namun aplikasi mereka telah diinstall oleh warga dan juga turis di kota Bandung.   Dapat dipastikan bahwa perusahaan Uber membuat statistik berdasarkan lokasi konsumen yang mencoba memesan taksi melalui aplikasi Uber, walaupun Uber  belum membuka jasa transportasi di kota tersebut.  Bilamana mereka melihat jumlah konsumen yang berupaya memesan taksi melalui aplikasi tersebut setiap bulannya sangat besar dan dalam jumlah yang dapat dikatakan konstan, maka saat itulah Uber akan mengumumkan memperluas jasa mereka ke kota tersebut, walaupun oleh regulasi setempat dinyatakan illegal. Di Canada, mereka selalu akan mencoba melobi walikota, anggota dewan, ataupun department perhubungan  di kota tersebut, agar turut dalam pernyataan pembukaan servis di kota tersebut, dan memberikan kata sambutan yang positif bagi mereka.   Bilamana usaha tersebut tidak berhasil,  dan tetap dinyatakan illegal transport,  Uber tetap membuka aplikasinya, dan konsumen di kota tersebut tetap bisa memesan taksi Uber. 

Strategi Bayar Uang Kontribusi ke Pemda

Di Canada, department perhubungan dan transportasi publik sangat tegas menyatakan bahwa Uber tidak akan diberikan status legal bilamana tidak mengikuti aturan regulasi tentang persyaratan angkutan umum.  Demikian pula, walikota Montreal yang sampai saat ini dengan tegas mengatakan bahwa perusahaan transportasi Uber melakukan illegal transport, karena untuk dapat mengangkut penumpang umum, terdapat regulasi yang harus dipatuhi untuk keselamatan bersama.  Dalam hal mana Uber merasa pihak regulator di suatu propinsi atau kota tidak mendukung usaha tranportasi mereka, maka salah satu strategi yang akan ditawarkan adalah membayar uang kontribusi setiap kali sopir mereka mengangkut penumpang. Uber malakukan negoisasi ini berbeda antara propinsi satu dengan propinsi lainnya di Canada, demikian pula antar satu kota dengan kota lainnya.  Sebagaimana di Canada,  pada Agustus 2015,  perusahaan Uber Canada memberikan proposal kepada pemerintah Quebec dan bahkan kepada pemerintah kota tempat mereka beroperasi,  bahwa Uber bersedia untuk menyumbangkan 10 sen dari setiap penumpang yang diangkut asalkan Uber bisa dilegalkan di kota atau propinsi tersebut.

            Hal tersebut jelas-jelas ditolak oleh menteri transportasi Quebec, dan juga walikota Montreal yang tetap menyatakan bahwa Uber melakukan transportasi illegal. Lagipula tidak ada dasar hukum yang bisa diterima untuk menerima pembayaran spesial dari suatu perusahaan agar mereka bisa beroperasi. Hal ini menunjukkan kalau Uber mencoba untuk mempengaruhi regulator agar membuat aturan yang menguntungkan perusahaan Uber. Di lain pihak,  regulator di Canada hanya bersedia melegalkan bilamana Uber mengikuti aturan regulasi yang berlaku, seperti sopir harus memiliki sim taksi, dan  kendaraan harus melalui test layak jalan untuk kategori kendaraan umum, bukannya kendaraan pribadi seperti sekarang ini.

[caption caption="Direktur Uber Montreal menawarkan untuk membayar 10 cents per penumpang ke kota Montreal."]

[/caption]

 

            Di Indonesia, pihak Uber belum sampai menawarkan  solusi bersedia membayar katakanlah seribu rupiah setiap kali mengangkut penumpang, karena regulator di Indonesia melarang baru sebatas kata-kata, tapi di lapangan Uber tetap dapat mengangkut ribuan penumpang setiap harinya.  Seperti yang sering Kompasianer baca di media, baik Gubernur Ahok maupun walikota Bandung kang Emil hanya menyatakan, soal penindakan transport illegal adalah urusan dinas perhubungan,  dan mengharapkan Uber dapat segera mengurus perijinan lengkap sebagai perusahaan taksi.  Hal yang jelas tidak akan pernah dipenuhi Uber sebagaimana mereka lakukan di negara-negara lain, karena mereka menganggap diri sebagai usaha aplikasi teknologi.  Namun bila aturan regulasi diterapkan lebih tegas, bukan tidak mungkin mereka menawarkan solusi strategi diatas,  karena dari sekian banyak kota di Indonesia, mungkin ada satu atau dua kota yang bisa menerima tambahan income tersebut, tanpa melihat aturan regulasi keselamatan transportasi publik.

  Strata Tarif Uber Yang Variatif

Mengapa konsumen lebih suka memakai jasa Uber?   Ada yang mengatakan karena lebih praktis, tinggal buka aplikasi.   Namun alasan  yang paling umum dan sesuai prinsip ekonomi  adalah karena Uber lebih murah dibanding taksi,  sering ada promo diskon.  Ini merupakan salah satu strategi Uber untuk mencitrakan bahwa mereka memberikan harga lebih murah dengan kondisi  mobil  minimal sekian tahun terakhir, dan sebagainya.  Sebagaimana di Canada,  dapat Kompasianer melihat  berapa persen harga taksi Uber lebih murah dibandingkan taksi resmi, didalam kondisi normal.  Di Montreal, dengan memesan melalui aplikasi UberX, penumpang akan membayar 41% lebih murah dibandingkan memanggil taksi resmi untuk  jarak yang sama.

[caption caption="Perbandingan diskon UberX dibanding taksi resmi dalam kondisi normal."]

[/caption]

[caption caption="Tabel diskon rata-rata Uber dengan taksi resmi per kota di Canada. (Huffington Post)"]

[/caption]

 

            Uber berusaha untuk eksis dengan merayu konsumen dengan memberikan image harga yang lebih murah.  Mereka bisa memberikan harga tersebut, karena Uber tidak mengurus biaya uji kir kendaraan, tidak perlu mengurus ijin taksi, dan tidak perlu  mentraining sopir untuk mengetahui seluk-beluk  tata krama sebagai sopir kendaraan umum.  Dengan hal ini, maka image Uber selalu identik dengan harga yang lebih terjangkau.  

            Namun benarkah harga Uber selalu lebih murah?  Mungkin banyak diantara Kompasianers yang belum tahu bahwa tarif Uber diterapkan berdasarkan unsur variabel.   Prinsipnya, Uber telah membagi daerah operasi dalam aplikasinya per region.  Semakin banyak panggilan konsumen dalam waktu yang bersamaan di wilayah yang sama, akan meningkatkan nilai variabel pengali harga di wilayah tersebut.  Salah satu kasus di Canada adalah waktu terjadinya gangguan penutupan kereta MRT di Toronto selama beberapa jam tanggal  8 Juni 2015, pada saat banyak penduduk ingin pergi bekerja.

[caption caption="Lonjakan harga saat MRT ditutup di Toronto."]

[/caption]

 

Penutupan stasiun Metro di pagi hari membuat para pekerja segera mencari transportasi alternatif.  Dalam benak mereka, cara termurah dan tercepat untuk ke tempat kerja adalah memanggil taksi Uber. Tapi mereka lupa,  di  sekitar stasiun MRT tersebut, ada ribuan calon penumpang yang juga berpikiran sama, karena mereka tidak mau terlambat datang ke kantor.   Ribuan order  Uber  dalam waktu bersamaan di wilayah yang sudah dipetakan, membuat indeks variabel harga melonjak naik.   Dapat terlihat seperti diberitakan di MetroNews Canada, jam 7:33 pagi,  harga Uber melonjak 5 kali lipat.   Dan pada saat jam 8:41 pagi,  lonjakan harga masih berkisar di angka 3 kali lipat.  Tidak hanya di Canada, bila Kompasianer melihat kejadian di Sydney Australia,  saat ada kepanikan karena aksi terror,  maka aplikasi Uber juga melonjak menjadi berkali kali lipat harga normal, karena banyaknya pemesanan order Uber di waktu bersamaan.  Hal ini tidak mungkin dilakukan oleh taksi resmi, karena mereka bisa dilaporkan ke regulator. 

[caption caption="Harga Uber melonjak sampai 5x lipat di 8 Juni 2015, Toronto (Sumber MetroNews.ca)"]

[/caption]

 

Strategi Merangkul Stakeholder Membela Uber

Salah satu sifat umum manusia adalah akan memperjuangkan sesuatu yang bisa menguntungkan diri sendiri.  Uber sangat memahami esensi psikologis umum ini.  Uber menyadari bahwa usaha mereka bernegoisasi dengan regulator tidak akan mudah bila mereka berjuang sendirian.  Selain regulator, Uber juga banyak mendapatkan penentangan dari perusahaan dan sopir taksi resmi karena dianggap bersaing dengan memberikan harga lebih murah dan tidak membayar ijin taksi yang menjadi beban tambahan para sopir dan perusahaan taksi resmi.  Untuk itulah Uber membuat ataupun mendorong para sopir mereka untuk membuat petisi terhadap regulator di pemerintah propinsi agar memberikan ijin legal terhadap Uber.  Di samping itu mereka juga mengajak konsumen dan masyarakat umum agar mendukung petisi yang mereka buat kepada department perhubungan,  walikota, sidang dewan kota,  dan menteri transportasi di Canada. Berbagai alasan mengapa Uber harus dilegalkan dipresentasikan kepada konsumen selaku salah satu stakeholder Uber.  Intinya adalah Uber sangat menguntungkan konsumen, mulai dari kemudahan pemesanan taksi, harga lebih murah,  mobil tahun lebih terbaru, dan sebagainya.   Konsumen akan mudah mendukung untuk bergabung dalam petisi online, karena belum pernah merasakan lonjakan tarif,  ataupun kecelakaan yang mungkin tidak dicover asuransi ataupun akan lama proses klaim karena kategori Uber yang bukan kendaraan umum berdasarkan regulasi pemerintah. Kiranya strategi minta dukungan konsumen untuk mendukung Uber sudah menjadi salah satu strategi global, tidak hanya di Canada, tapi juga di Indonesia.

[caption caption="Uber membuat petisi online terhadap dewan kota Toronto."]

[/caption]

 

Strategi Sopir Taksi Resmi di Canada

Di Canada,  sopir taksi resmi jelas berkurang pendapatannya karena kehadiran Uber yang memberikan harga diskon lebih murah.  Dibandingkan dengan demo sopir taksi di Eropa seperti Prancis, dan berbagai negara Eropa lainnya yang sampai menimbulkan huru-hara, maka sopir taksi di Canada menggunakan cara yang tidak sampai menjadi kerusuhan.   Sopir taksi di Montreal membuat tekanan terhadap pihak regulator dengan membuat jadwal seminggu sekali untuk berdemo di depan department transportasi untuk melarang perusahaan illegal transport.  Mereka memberikan fakta dan data, bahwa kendaraan pribadi,  pelat nomor kendaraan hanya membayar $ 200, sementara untuk  perusahaan taksi resmi, pelat nomor kendaraan taksi harus membayar $ 1,000.  Selain itu,  kendaraan taksi resmi harus membayar premi asuransi yang jauh lebih tinggi dibandingkan kendaraan pribadi yang difungsikan sebagai taksi Uber.  Selain para sopir taksi harus mengambil ujian sim taksi dan mengikuti kelas pelatihan sopir taksi.   Intinya para sopir taksi resmi mendorong regulator agar bersikap lebih tegas dengan melarang secara total transportasi Uber yang dianggap illegal.

[caption caption="Demo sopir taksi di Montreal anti Uber."]

[/caption]

 

 

Sebagaimana Kompasianers ketahui, bahwa Bureau de Taxi di Montreal (BTM) melakukan jebakan terhadap mobil taksi illegal Uber dengan pasal illegal transport.  Pengemudi mobil akan didenda sampai $ 350 di pengadilan, dan  biaya penderekan mobil $ 1,000.  Walaupun kantor Uber selalu membayarkan biaya denda tersebut, sebagaimana juga mereka lakukan di Indonesia terhadap mobil Uber yang terkena tilang.   Para sopir taksi di Montreal memiliki strategi baru, yaitu bila mereka melihat atau sengaja mengorder Uber, mereka akan memotret pelat nomor mobil tersebut,   dan kemudian melaporkan mobil tersebut ke kantor BTM beserta buktinya.  Mereka hanya menunggu BTM mendenda pemilik mobil tersebut.  Dengan cara ini, bukan lagi pihak BTM yang bersikap aktif, tetapi malah para sopir taksi resmi di Montreal yang bersikap pro-aktif. 

Sebagaimana di Canada, regulasi selalu hadir untuk ditaati,  strategi lainnya para sopir taksi di Canada adalah memotret pelat nomor taksi illegal, dan kemudian melaporkan ke perusahaan asuransi mobil.   Sebagaimana Kompasianers ketahui, bahwa asuransi mobil pribadi bernilai lebih rendah dibandingkan asuransi kendaraan umum.  Dengan adanya laporan mobil pribadi digunakan untuk kepentingan transportasi publik, maka pihak asuransi bisa menaikkan tarif asuransi, dan bahkan bisa menolak klaim asuransi bilamana terjadi kecelakaan, karena pertanggungan untuk mobil pribadi berbeda klausulnya dengan asuransi untuk kendaraan pengangkutan umum. Asuransi untuk mobil pribadi sekitar $ 1,200 per tahun,    namun untuk kendaraan taksi bisa sekitar $ 3,000.

            Ternyata tidak hanya Uber yang memanfaatkan stakeholder yaitu konsumen untuk mendukung petisi online.  Para sopir taksi resmi juga meminta dukungan dari konsumen untuk hanya menggunakan taksi resmi, karena lebih aman, terlindungi oleh aturan regulasi,  jaminan asuransi yang pasti, dan hal-hal positif lainnya.

Persyaratan Taksi di Canada

Untuk menjadi sopir taksi di Canada, aturan berbeda antar propinsi. Adapun syarat utamanya untuk kendaraan taksi di Montreal diatur oleh BTM,  antara lain bentuk badan usaha atau perorangan, asuransi taksi yang terjamin, pemeriksaan kendaraan rutin tahunan, dan update pengetahuan sebagai sopir taksi.  Secara singkat  adalah:

  1. Memiliki SIM kategori sopir taksi.
  2. Mobil memiliki atribut taksi.
  3. Lolos test taksi dari Bureau de Taxi de Montreal (BTM).

Walaupun Gubernur Ahok menyatakan tidak pernah mendukung transportasi illegal,  dan bernada mengancam untuk ditangkap saja.  Adapun aturan di Jakarta agar Uber bisa menjadi taksi legal menurut berita adalah:

  1. Legalitas perusahaan (berbentuk PT atau PMA).
  2. Pembayaran pajak (pajak pendapatan, pajak kendaraan).
  3. Jaminan asuransi yang memadai.
  4. Memastikan mobil yang bergabung di Uber ikuti uji Kir.

 

Kesimpulan  

            Demikian hasil analisa dari strategi antara pihak Uber, Regulator, dan Taksi resmi di Canada dalam memperjuangkan kepentingan mereka masing-masing. Pihak Uber berusaha agar mereka dapat dilegalkan oleh regulator.  Untuk mencapai tujuan itu, Uber berusaha merangkul stakeholder (konsumen) untuk mendukung mereka, baik melalui blog-blog yang dikelola oleh Uber, maupun dukungan untuk petisi online yang diinisiasi oleh perusahaan Uber terhadap regulator, ataupun terhadap dewan kota yang mengurusi transportasi. Uber sangat mengerti masalah transportasi kota diatur oleh pemerintah daerah yaitu walikota ataupun bupati. Uber akan selalu berusaha melobi pemimpin kota (walikota, gubernur, atau dishub kota) agar dilegalkan usahanya.  Secara umum Uber akan selalu menstrategikan sebagai transportasi alternative yang jauh lebih murah sampai 40% daripada harga transportasi resmi, dan akan menyembunyikan stratagem variabel harga yang pada saat dibutuhkan,  atau pada saat pesaing menutup usahanya karena tidak mampu melawan harga Uber, pada saat itulah harga Uber bisa mencapai berkali-kali lipat daripada transportasi taksi resmi. Bilamana pihak pemda bersikap tidak bersahabat terhadap Uber, maka mereka tidak segan-segan menawarkan untuk memberikan fee, atau pajak kontribusi kepada pemda  sekitar 10 sen (1000 rupiah) per order yang  sebagaimana mereka tawarkan kepada beberapa kota di dunia.  Pastinya Uber tidak akan mau mengikuti regulasi perusahaan taksi resmi, karena Uber  selalu mengacu sebagai perusahaan teknologi dan bukan perusahaan transportasi, sehingga tidak mau memiliki kewajiban mengurus asset berupa mobil-mobil taksi,  management uji kir, maintenance mobil, dan sebagainya.  

            Sementara sopir dan perusahaan taksi resmi di Canada yang merasa pendapatan mereka terancam, berusaha mendorong regulator untuk melarang taksi Uber, dengan cara melakukan demo rutin di departemen transportasi, balai kota, dan juga meminta dukungan dari stakeholder (konsumen) untuk mendukung mereka. Selain itu mereka juga proaktif untuk menemukan kendaraan Uber dan memfoto pelat nomor kendaraan pribadi yang dijadikan transportasi illegal taksi,  dan melaporkannya kepada regulator untuk ditindak.  Selain itu sopir taksi resmi di Canada juga melaporkan nomor pelat hitam yang jadi taksi illegal  Uber kepada asosiasi asuransi mobil karena mereka tahu peraturan bahwa klausul asuransi mobil pribadi berbeda dengan asuransi untuk mobil angkutan umum.

            Sedangkan regulator selalu bersikap kembali pada kajian hukum dan aturan daripada keselamatan transportasi publik.  Kendaraan pengangkutan umum harus melalui uji kendaraan yang lebih banyak dibandingkan kendaraan pribadi, disamping asuransi keselamatan penumpang yang harus dibayar oleh perusahaan taksi, dimana kendaraan pribadi tidak melalui tahapan ini. Selain itu regulator juga mengharuskan Uber untuk berbadan hukum dan memiliki perwakilan di propinsi tersebut,  dan masalah pajak harus jelas.  Regulator di Canada jelas menolak tawaran Uber agar dilegalkan hanya demi kutipan 10 sen, namun mereka akan melegalkan kalau Uber mengikuti aturan main yang resmi, antara lain sopir taksi harus memiliki sim taksi, mobil  angkutan harus ikut uji kir  (dimana mobil pribadi tidak melakukan hal ini).  Dalam hal ini regulator juga sangat peduli terhadap skema harga Uber yang seakan lebih murah,  namun di saat tertentu bisa menjadi empat bahkan lima kali lipat dari taksi resmi.  Komisi persaingan usaha juga dilibatkan agar jangan sampai harga Uber yang 40% lebih murah membuat perusahaan taksi resmi bangkrut, dan setelah itu variabel harga Uber bisa mencapai dua atau tiga kali lipat taksi resmi. Regulator Canada juga mempermasalahkan sopir taksi Uber yang tidak melalui pelatihan sopir taksi, dan surat keterangan bebas kriminal yang dilakukan oleh perusahaan taksi resmi, tapi tidak dilakukan oleh sopir Uber.

            Penulis berharap dengan adanya kajian strategi tiga pihak yaitu pihak Uber, Regulator, dan Taksi Resmi di Canada ini bisa menambah wawasan tentang bagaimana tigak pihak tersebut masing-masing berjuang untuk kepentingan eksistensi mereka. Dalam hal ini pihak konsumen selaku stakeholder kadang tidak objektif karena gencarnya promosi dari satu atau dua pihak, dan kurangnya informasi dari pihak yang lainnya.  Semoga Kompasianers bisa melihat beberapa persamaan dan beberapa hal yang bisa menambah wawasan terhadap topik Uber dan transportasi umum,  dan juga memahami posisi regulator yang selalu berpikir untuk kepentingan dan keselamatan konsumen pula pada akhirnya.  Pihak bisnis selalu berusaha mencari profit (Uber dan taksi resmi),  dan pihak regulator berusaha mengatur aturan bisnis dan keselamatan konsumen.  Semoga bisa diambil hal-hal yang positip untuk memperbaiki transportasi publik di Indonesia.