Lintang Pualam
Lintang Pualam Administrasi

Lahir di Cilacap, kota indah dengan pantai yang membentang di sisi selatan dengan diikuti pulau kecil Nusakambangan.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Kembali Berkumpul dengan Ibu

16 Mei 2019   21:27 Diperbarui: 17 Mei 2019   15:55 42 0 1

Kau adalah malaikat tanpa sayap

Yang diberikan Tuhan, untukku

Terima kasih ibu

Kau telah hadir, menjagaku, menyayangiku

 

Senja di awal tahun 1999, saat mentari baru kembali ke peraduannya. Adzan maghrib sayup-sayup berkumandang dari pengeras suara mushola di kampung Waru. Aku berlari membuka pintu tergesa hendak berjama'ah sholat maghrib di mushola.

Cklek krieet  "Assalamu'alaikum"  belum sempat tangan ini meraih gagang pintu, sudah ada seseorang di seberang yang membukanya dari luar. "Siapa?" pikirku.

"Khodijah" nenekku menimpali dari belakang tubuhku serasa lekas memeluk orang yang tepat di depanku itu. "Lama sekali kau baru pulang, kenapa tak memberi kabar terlebih dahulu jika kau akan pulang hari ini?'

"Khodijah siapa?" masih ku berfikir sambil memandang bingung nenek yang masih memeluk orang tersebut dengan penuh kerinduan.

"Fatimah, mari sini sayang sapa ibumu" nenek menarik tanganku ke arah orang tadi yang ternyata adalah ibuku. Memang semenjak usiaku tiga tahun, ibuku merantau mengadu nasib mencari rezeki di negeri seberang. Sudah tiga tahun juga lamanya aku tak berjumpa dengan beliau, hanya sepucuk surat yang dibacakan oleh ayahku atau telefon yang sesekali dalam berapa bulan ku angkat untuk pelepas rindu. 

Dan hanya foto lama saat ibu SMA yang diperlihatkan ayah untuk menjawab rasa penasaranku ketika aku bertanya tentang wajah ibu. Tapi setelah bertahun-tahun tentunya ada perubahan bukan? Makanya sekarang aku pangling ketika pertama bertemu kembali.

Rindu, rindu terasa menyeruak saat aku di pelukan ibu. "Fatimah, kau sudah besar sekali nak, ibu kangen sekali padamu." Ibu mengeratkan pelukannya sambil mengelus kepalaku yang ditutup dengan kain mukena.

"Ibu kenapa baru pulang sekarang? Fatimah kangen,,,," ucapku melepaskan semua rasa rinduku.

"Ohw iya, dimana ayahmu Fatimah? Tanya ibuku.

"Ayah masih di kota bu" jawabku.

"Lagian kamu pulang tidak memberi tahu terlebih dahulu Khodijah, tahu begitu mungkin suamimu tadi yang menjemputmu" nenekku mengeluarkan unek-uneknya.

"Tak sempat tadi mbah, aku juga pulang diantar travel jadi langsung diantar ke rumah." Balas ibuku. "Ya sudah kalau begitu sudah sore, mari masuk kita sholat di rumah saja."

"Baiklah" Kami pun masuk bergegas berwudhu kembali karena waktu sholat sebentar lagi hampir habis.

***

Semburat cahaya mentari terkesan malu-malu untuk menunjukkan sinar hangatnya. Kabut tipis masih menyelimuti kampung Waru, suasana dingin dan sejuk menimbulkan orang betah berlama-lama melingkar dalam hangatnya selimut di kamar. Namun tidak dengan keluargaku, pagi-pagi nenek sudah asyik merebus air untuk menyeduh kopi dan menanak nasi. Sedang ibuku sibuk mencuci lalu memotong sayur kangkung menjadi bagian-bagian kecil. Aku hanya diam dan memperhatikan, kesibukan ibu dan nenekku.

"Fatimah" panggil ibuku lembut.

"Ya bu kenapa?" aku melihat ke ibu dengan pandangan bertanya.

"Coba Fatimah periksa tas ibu, ibu bawa oleh-oleh dari Malaysia" kata ibu dengan semangat.

"Benarkah? Apa bu?" aku terlonjak kegirangan mendengar tutur kata ibu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2