Mohon tunggu...
LINES
LINES Mohon Tunggu... Relawan - LDII News Network

Menulis adalah cara untuk berbagi perspektif. Saling menghargai adalah kunci untuk bertukar perspektif

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Santri Penjaga Moral Era Globalisasi

22 Oktober 2021   12:22 Diperbarui: 22 Oktober 2021   12:23 593
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Suasana Pondok Pesantren Wali Barokah, Kediri, Jawa Timur. Dok. Siduta

*Oleh Wilnan Fatahillah

Globalisasi telah menyebabkan adanya perubahan besar bagi kehidupan manusia pada berbagai bidang, mulai dari pendidikan, ekonomi, sosial budaya, teknologi, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. 

Perubahan ini membawa dampak positif bagi kehidupan manusia seperti tingkat kehidupan yang lebih baik, kemudahan transportasi, cepatnya akses komunikasi dan pertumbuhan infrastuktur dan lain sebagainya. 

Namun demikian, globalisasi juga mempunyai dampak negatif bagi kehidupan manusia seperti gaya hidup kebaratbaratan, pola hidup materialistik dan individualistik, krisis agama bahkan hingga merosotnya nilai-nilai akhlakul karimah. Pendidikan akhlak atau karakter menjadi kata kunci dalam mengatasi dampak negatif era globalisasi. 

Dalam situasi tersebut, sudah saatnya lembaga pendidikan, tidak hanya mengedepankan kemajuan sains dan teknologi, tetapi juga berperan dalam pembangunan moral dan karakter (Character Building). Salah satu lembaga pendidikan yang telah nyata terbukti dalam pembentukan manusia indonesia yang unggul dan berkarakter adalah pondok pesantren.

Sejak dahulu, pondok pesantren telah memberikan sumbangsih yang  besar  dalam hal memperjuangkan dan memerdekakan  bangsa Indonesia. Bahkan hingga saat ini, pondok pesantren, telah berperan penting dalam mempertahankan, membangun, memajukan bangsa ini  melalui penyetakan manusia Indonesia yang beriman, berakhlakul kamrimah,  cinta kepada bangsa dan negara cinta damai, toleransi dan berketerampilan.

Hal tersebut terlaksana karena pondok pesantren, mempunyai fungsi multidimensional, dimana keberadaanya tidak hanya sebagai  lembaga edukasi dakwah keagamaan dengan spiritualitasnya, namun juga meningkatkan  intelektualitas manusia Indonesia.  

Pondok pesantren  mampu menghasilkan santri  yang alim dan patuh terhadap ajaran agama, berakhlakul karimah dan memiliki keterampilan serta ilmu pengetahuan yang luas.  Sehingga para santri, menjadi generasi bangsa yang akan mengawal dan melestarikan nilai-nilai agama dan akhlak, sebagai bekal bangsa ini dalam menghadapi era globalisasi. 

Kita patut bersyukur bahwa Presiden Joko Widodo, melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, secara resmi menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan Hari Santri ini sebagai bukti bahwa pemerintah mengakui para santri sebagai elemen bangsa yang turut berjuang dalam memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan Indonesia. 

Penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, tidak lepas dari catatan sejarah nasional yang kala itu, tepatnya 22 Oktober 1945,  kalangan ulama yang merupakan santri dan tokoh nasional seperti Hasyim Asy'ari (Nahdlatul Ulama), Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), A Hassan (Persis), Ahmad Soorkati (Al-Irsyad),  Abd Rahman (Matlaul Anwar) dan lainnya untuk menyerukan Resolusi Jihad di Surabaya, Jawa Timur, untuk melawan Belanda yang ingin berkuasa kembali di Indonesia. Penetapan hari santri, juga menegaskan bahwa negara mempunyai relasi dengan agama Islam sekaligus menegaskan mainstreaming santri yang dapat saja terpinggirkan karena arus globalisasi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun