Lina WH
Lina WH Freelance & IRT

Ibu dari seorang anak laki-laki, Mifzal Alvarez.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kupu-Kupu Terindah

7 Desember 2018   03:55 Diperbarui: 7 Desember 2018   04:11 135 2 2

Ricky, adalah sosok pemuda gagah yang bertubuh atletis. Wajahnya biasa saja, tetapi pesona atletisnya membuat beberapa remaja perempuan mengaguminya dalam diam. Ups, kenapa harus mengagumi dalam diam. Bisa kok diungkapkan. Ah, namanya juga remaja perempuan pemalu, pastilah mereka lebih memilih memendam rasa daripada mengungkapkan rasa.

Tetapi tingkah laku remaja perempuan itu terlalu over untuk menarik perhatian Ricky. Mereka berdandan ala artis, memakai sandal berwarna mencolok dan mondar-mandir di depan Ricky biasa duduk menyendiri. Berharap Ricky akan menyapanya lalu meminta kenalan. Tetapi, boro-boro Ricky menyapanya. Melirik pun juga tidak. Ah, menjadikan mereka berfikir lebih keras untuk mencari cara menarik perhatian Ricky.

Namun tiba-tiba, perhatian Ricky tertuju kepada sesosok perempuan bertubuh ramping, berambut panjang diikat ekor kuda dan nambah menggandeng anak laki-laki kecil yang kelihatan lucu dan menggemaskan. Ricky menyangka, perempuan tersebut adalah seorang kakak yang sedang mengasuh adik laki-lakinya.

"Hai, boleh kenalan?" sapa Ricky yang langsung menodong meminta kenalan.

Tetapi perempuan berambut panjang tersebut hanya tersenyum manis sambil tetap menggandeng laki-laki kecil tersebut.

Lalu Ricky mengulurkan tangannya, meminta bersalaman.

"Aku Ricky," jawab Ricky dengan tegas.

"Aku Alona," jawab perempuan tersebut yang ternyata bernama Alona.

"Ini adik kamu?" tanya Ricky selanjutnya.

"Bukan. Ini anak majikanku," jawab Alona tanpa malu.

"Loh, kamu sudah bekerja? Usiamu berapa tahun? Lalu orang tuamu ke mana?" tanya Ricky yang tanpa basa-basi langsung menginterogasi Alona.

"Iya, aku sudah bekerja. Usiaku 16 tahun. Ayah dan Ibuku ada di rumah."

"Lalu, kenapa kamu harus kerja?" lanjut Ricky

"Kami tidak mampu. Di bawah garis kemiskinan. Tapi aku juga sekolah, kok. Lulus SMP, aku lanjut kejar paket C. Yah, tidak mengapa hanya kejar paket C. Daripada tidak sama sekali," jawab Alona tanpa merasa malu.

"Bagus, itu! Rencanamu setelah lulus kejar paket C, apa?" lanjut Ricky menyelidik.

"Mau lanjut kuliah. Tapi mungkin hanya bisa di Universitas Terbuka."

"Itu bagus. Aku kagum denganmu!" puji Ricky kepada Alona.

"Terimakasih," kata Alona dengan senyum manisnya.

"Mbak Alona, ayo main ayunan di sana," rengek Deo, anak dari majikan Alona.

"Iya, Mas Deo. Kak Ricky, aku pergi dulu ya," pamit Alona dengan sopan kepada Ricky.

"Sampai jumpa besok. Aku biasa ngadem di sini. Mungkin masih sekitar seminggu lagi singgah di tempat kakakku!"

"Iya, Kak. Aku pamit dulu ya!" kata Alona yang sudah ditarik tangannya oleh Deo.

Ricky sebenarnya ingin mengobrol banyak kepada Alona. Entahlah, Ricky menganggap banyak aura dari Alona. Padahal Alona remaja perempuan yang sederhana dan bersandal jepit. Sungguh jauh dari para remaja perempuan borju yang memakai pakaian mewah untuk menarik perhatian Ricky.

Tiba-tiba Ricky pun mencoba menyusul Alona. Dan kemudian bermain perosotan bersama Deo. Nampaknya Deo juga nyaman bermain bersama Ricky, laki-laki dewasa yang baru saja dikenalnya.

"Deo, ayo istirahat dulu. Capek, nih!" kata Ricky kepada Deo yang kemudian disetujui oleh Deo.

Lalu Deo mengambil 2 buah botol minuman air mineral kemasan gelas. Satu untuk dirinya sendiri, dan satu untuk Ricky.

"Kak Ricky, ini untukmu. Pasti Kakak haus kan?" kata Deo yang masih berusia 5 tahun tersebut kepada Ricky.

"Terimakasih Deo. Buat Mbak Alona, mana?" tanya Ricky sambil menerima kemasan air mineral yang diberikan oleh Deo.

"Mbak Alona bisa ambil sendiri, kok!" jawab Deo cuek.

"Deo, ambilkan juga untuk Mbak Alona," pinta Ricky kepada Deo.

Deo lalu mengambilkan dan memberikan kemasan air mineral kepada Alona. Dengan senang hati, Alona menerimanya.

Ricky masih mengeluarkan banyak pertanyaan untuk Alona. Banyak hal yang Ricky ingin tahu.

"Kak, maaf ya. Aku tidak enak jika nanti Mas Deo mengadu ke Ibu. Jadi bisa dilanjut lain kali saja ya," tolak Alona dengan halus.

"Baiklah! Kalau begitu, aku bisa minta nomor handphone kamu?" pinta Ricky selanjutnya.

"Boleh! Tapi handphone saya jadul. Hanya bisa telfon dan SMS menggunakan pulsa regular saja."

"Tidak masalah," jawab Ricky sambil memberikan nomor handphone kepada Alona.

***

"Alona, kapan kamu sekolah?" tanya Ricky melalui sambungan telepon.

"Hari Senin dan Kamis saja, Kak! Hari ini keluarga Ibu juga sedang liburan keluar kota hingga beberapa hari ke depan. Jadi aku hendak ke perpustakaan daerah nanti. Maaf, aku gak bisa ke taman bermain lagi," jawab Alona melalui sambungan telepon.

"Baiklah. Aku antar kamu ya?"

"Antar? Aku hanya sekolah kejar paket C. Memangnya gak malu?"

"Tidak! Kenapa malu?"

"Kalau Kakak gak malu, aku yang malu!" kata Alona yang langsung mematikan sambungan teleponnya.

Kemudian Alona pun bergegas memakai sepatu dan memastikan semua pintu dan jendela terkunci dengan benar. Dan betapa kagetnya Alona ketika Ricky sudah berada di depan pintu gerbang, dengan motor gedenya.

Ricky merayu untuk mengantar Alona dengan berbagai macam rayuan sopan. Akhirnya Alona pun luluh. Jam pelajaran jejar paket C hanya sebentar. Tidak seperti orang sekolah di sekolahan formal pada umumnya. Namun, rencana Alona untuk ke perpustakaan daerah pun harus pupus, karena terlalu asik mengobrol dengan Ricky.

"Alona, kenapa kamu mau sekolah sambil bekerja?" tanya Ricky.

"Karena aku tidak mau keturunanku hidup miskin seperti aku. Aku mau keturunan yang hidupnya enak, tidak seperti aku," jawab Alona jujur.

Tanpa sadar, akhirnya Alona pun menceritakan tentang keluarganya. Keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Namun, semangat Alona untuk merubah hidup sungguh luar biasa. Ricky terharu, dan mulai simpati terhadap Alona.

"Lalu, bagaimana dengan kamu Kak?" tanya Alona yang juga ingin tahu tentang Ricky.

"Aku di sini sedang prepare untuk ke Melbourne. Aku sekolah pilot di sana. Dua tahun lagi, aku lulus!" jawab Ricky singkat.

Alona tidak menaruh simpati apapun kepada Ricky. Alona hanya kagum.

"Alona, kamu mau menunggu Kakak dua tahun lagi?" lanjut Ricky yang membuat Alona tidak mengerti.

"Maksudnya?"

"Tunggu Kakak hingga Kakak selesai sekolah pilot. Kakak mau melamarmu setelah Kakak kerja nanti," kata Ricky.

"Ah, terlalu tinggi bercandaku, Kak! Dan aku tidak terkecoh oleh kata-katamu," jawab Alona santai.

"Aku tidak bercanda. Aku kagum denganmu. Jarang remaja sekarang berpola pikir sepertimu. Aku serius denganmu, Alona!"

"Ah, Kakak! Ibarat kupu-kupu, aku hanya kupu-kupu terkecil dan berbulu gatal. Sedangkan Kakak kupu-kupu besar bersayap indah penuh warna. Gak bakalan cocok. Gak imbang. Dan kupu-kupu tersebut hanya satu habitat, tetapi beda species!" jawab Alona dengan santai tanpa rasa apapun.

"Tapi kamu kupu-kupu terindah untukku. Aku akan tetap terbang mengejarmu!"

"Aku tidak bisa terbang tinggi seperti kupu-kupu besar yang indah dan penuh warna."

"Nanti aku akan mengajakmu terbang tinggi bersama pesawat yang aku piloti!" jawab Ricky.

Alona hanya diam. Tidak menanggapi serius apa kata Ricky. Bagaimanapun, Alona orang miskin yang tidak akan pernah berharap dari sesuatu yang tidak pasti. Apalagi masalah cinta.

"Alona, aku tidak tahu. Kenapa rasa ini tiba-tiba singgah dan menetap di hatiku. Hatiku sudah dan akan tetep memilih kamu. Percayalah Alona. Tunggu hingga aku dua tahun lagi. Dan saat itu aku akan kembali di sini, menggandengmu dan mengikatmu dengan ikatan suci."



SELESAI...



Lina WH