Humaniora

Refleksi Aktualisasi Nilai Pancasila Melalui "Walk Out" Ananda Sukarlan

15 November 2017   01:39 Diperbarui: 15 November 2017   04:34 468 0 1


Peringatan 90 tahun lembaga pendidikan Kolese Kanisius di Hall D JIExpo Kemayoran, Jakarta Utara, Sabtu malam (11/11/2017) mengundang banyak perdebatan karena aksi seorang alumni SMA Kolese Kanisius tersebut yaitu Ananda Sukarlan yang melakukan aksi walk out(meninggalkan ruangan) ketika Anies Baswedan, gubernur terpilih DKI Jakarta menyampaikan pidatonya di Pesta Raya Kanisius tersebut.

Ananda Sukarlan adalah pianis dan komponis asal Indonesia yang lebih dikenal di kalangan musik klasik dan merupakan satu-satunya orang Indonesia dalam buku "The 2000 Outstanding Musicians of the 20th Century", yang berisikan riwayat hidup 2.000 orang yang dianggap berdedikasi pada dunia musik. Sebagai alumnus Kolese Kanisius ia menyatakan bahwa aksinya keluar saat pidato Anies Baswedan merupakan sebuah kritik bagi panitia yang mengundang gubernur terpilih Jakarta tersebut karena menurutnya cara Anies Baswedan memperoleh jabatannya tidak sesuai dengan nilai -- nilai yang diperolehnya di Kolese Kanisius yaitu dengan membiarkan isu keagaaman muncul dan mengajak masyarakat untuk memilih gubernur yang seiman pada pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jakarta yang lalu.

Jika kejadian ini ditelaah dari nilai -- nilai Pancasila, sudahkan kita mengaktualisasikan nilai - nilai Pancasila tersebut?

Banyak pro dan kontra yang muncul dari peristiwa tersebut, dan mayoritas masyarakat menelaah kejadian ini dari sisi politik yaitu bahwa aksi walk out Ananda Sukarlan merupakan kekecewaannya terhadap terpilihnya Anies Baswedan sebagai gubernur DKI Jakarta.  Jika benar itu alasannya maka nilai Pancasila belum diterapkan dalam keputusan Ananda tersebut karena hasil pemilihan tersebut merupakan sebuah hasil demokrasi yang dilakukan oleh warga Jakarta.

Namun Ananda Sukarlan menepis pernyataan tersebut, ia menjelaskan bahwa tindakannya untuk keluar dari tempat acara saat Anies berpidato merupakan sebuah bentuk kritik kepada panitia yang mengundang Anies karena ia menilai tindakan - tindakan Anies tidak sesuai dengan nilai - nilai yang ia dapatkan dari Kolese Kanisius tersebut. Maka dapat dikatakan bahwa hal ini bukan tentang politik namun kepercayaan atau nilai hidup yang dihidupi masing - masing pribadi. Dengan kata lain, tindakan Ananda Sukarlan bukan hal yang salah karena ia mempunyai hak untuk keluar dari ruangan tersebut saat ia ingin keluar.

Keluarnya Ananda Sukarlan ternyata menyebabkan banyak alumni lain yang mengikuti aksinya tersebut sehingga menimbulkan kesan adanya demonstrasi politik yang dilakukan di tempat yang kurang tepat. Namun menurut Ananda, ia tidak berniat memprovokasi alumni lainnya untuk mengikuti tindakannya, tindakannya murni keinginannya sendiri untuk tidak mendengarkan pidato Anies Baswedan.

Kejadian ini mengingatkan kita pada sila ketiga Pancasila dasar negara kita, yaitu persatuan Indonesia. Dengan adanya kejadian ini ditambah dengan ekspos berlebihan media massa pada hal tersebut menimbulkan kesan kurangnya penghayatan rakyat terhadap sila ketiga Pancasila. Anies Baswedan sendiri tidak menjadikan aksi Ananda Sukarlan sebagai penghinaan besar baginya karena Ananda memang mempunyai hak untuk tidak mendengarkan pidatonya, dan Ananda pun tidak merencanakan aksinya untuk membuat kontroversi namun karena ramainya pemberitaan ini kejadian yang sebenarnya bukan sebuah masalah justru terlihat sebagai konflik internal yang menjadi pemecah persatuan bangsa. Meskipun kejadian tersebut menyangkut Jakarta namun lagi - lagi karena pemberitaan yang ramai beredar ditambah respon masyarakat di media sosial menjadikannya seolah - olah sebuah masalah tingkat nasional.

Sebagai warga negara Indonesia yang seharusnya mengamalkan nilai - nilai pancasila dalam kehidupan sehari - hari kita, kejadian seperti keluarnya Ananda Sukarlan seharusnya bukanlah masalah yang besar dan tidak semua kejadian dapat dinilai dari sisi politik saja melainkan kejadian ini merupakan sebuah konsistensi dan integritas masing - masing pihak yang bersikap sesuai dengan perspektifnya masing - masing.

Kejadian ini merupakan salah satu bukti bahwa mengamalan nilai Pancasila di negara ini sedang dalam tahap kurang. Begitu banyak komentar di media sosial yang mencela salah satu pihak merupakan tindakan kurangnya menghargai hak orang lain dalam menjalankan hidupnya. Seharusnya kejadian ini merupakan cerminan masyarakat akan keyakinan mereka, apakah selama ini kita telah konsisten dalam menjalankan keyakinan kita atau kita sering terombang - ambing diantara arus globalisasi yang sedang derasnya menerpa semua negara termasuk Indonesia.

Maka dalam kejadian tersebut tidak ada pihak yang salah maupun yang benar karena kedua pihak menjalankan nilai hidupnya masing - masing yang seharusnya tidak dicela karena bukan merupakan sebuah ancaman. Melalui Pancasila kita belajar bahwa setiap individu mempunyai hak nya masing - masing namun juga harus tetap dibatasi demi kepentingan orang lain sehingga persatuan Indonesia dapat tercapai dengan demikian nilai tersebut dapat dihidupi dann menghidupi nilai - nilai Pancasila lainnya.