Lia Wahab
Lia Wahab Jurnalis

Ibu rumah tangga yang pernah berkecimpung di dunia media cetak dan penyiaran radio komunitas dan komunitas pelaku UMKM yang menyukai berbagai jenis kerja kreatif

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Jalan Panjang Sandiaga dari Gaya Sporty Penuh Aksi hingga Wajah Pasi Mengundang Simpati

23 April 2019   11:50 Diperbarui: 23 April 2019   11:55 951 5 2

Wajah pucat dan menunduk itu menimbulkan sejuta tanya. Ia yang sehari sebelumnya menebar senyum, yang beberapa hari sebelumnya rajin berolahraga bersama kaum muda, hari itu terdiam penuh makna.

Sore hari pasca pemungutan suara di seluruh TPS di Indonesia, Prabowo menggelar deklarasi kemenangannya tanpa didampingi sang cawapres Sandiaga Uno. 

Publik pun bertanya-tanya, bagaimana sebuah deklarasi kemenangan sepasang calon presiden dan calon wakil presiden hanya dihadiri oleh si salah satu calonnya. 

Itu adalah momen yang semestinya gembira, momen yang di mata mereka istimewa dan tak pantas disia-sia. Bahkan dalam debat saja seorang Sandiaga setia membackup partnernya ini ketika ia tak mampu menjawab pertanyaan. Tapi ini, kemana Sandiaga?

Isu yang santer terdengar hingga beredarnya berita di Seword.com yang mengatakan bahwa terjadi insiden pertengkaran antara Prabowo dengan Sandiaga yang berakhir dengan pengusiran Sandiaga dari rumah Prabowo di Kertanegara. 

Kabarnya hal ini karena Sandi yang menolak untuk mengikuti deklarasi karena masih ingin menunggu keputusan akhir KPU. Sandi malah meragukan kemenangannya karena hasil quick count saat itu menunjukkan pasangan Jokowi-Ma'ruf menang.

Pembicaraan mengenai ini pun membahana di jagad nyata dan jagad maya. Keesokan hari pasca deklarasi pertama Prabowo dan isu pertengkaran Sandi dengan Prabowo, Sandiaga pun muncul lagi mendampingi Prabowo dalam deklarasi yang kedua kalinya mengenai kemenangan mereka. Prabowo memantapkan diri dengan mengatakan bahwa ia adalah Presiden dan Sandiaga adalah Wakil Presiden. 

Tapi, Sandi hanya berdiri di sisi Prabowo dengan wajah menunduk dan ekspresi muram. Pagi harinya pihak BPN mengabarkan bahwa Sandi sedang sakit sejak malam sewaktu Prabowo melakukan deklarasi pertama. Belum jelas apa penyakit Sandiaga tetapi kabarnya ia mengalam cegukan yang tak berhenti.

Keesokan harinya, melalui akun Instagram Sandiaga, Sandi terlihat sedang diperiksa oleh seorang dokter dan dinyatakan menderita penyakit asam lambung dan radang tenggorokan. 

Akun Instagram Sandi pun banjir komentar dari netizen, tak luput dari para pendukung Jokowi. Mereka yang mendukung Jokowi rata-rata memberikan semangat bahkan mendukung Sandiaga untuk maju kembali di pilpres 2014 bersama calon-calon lainnya seperti Ridwan Kamil, Tri Risma dan lain-lain.

Mengapa kabar sakitnya seorang Sandi cukup menarik untuk diikuti para netizen? Sakit Sandi bisa menjadikan indikator banyak hal. Bisa juga penyakit Sandi bukan hanya berdasarkan alasan fisik tapi lebih banyak ke faktor psikis. Memang Sandiaga dalam beberapa bulan terakhir selama masa kampanye melakukan banyak sekali kunjungan lapangan . 

Sandi bahkan memecahkan rekor muri untuk 1550 blusukan yang ia lakukan. Sebesar itukah tekanan untuk memenangkan pilpres hingga Sandi memaksakan blusukan yang membuat fisiknya drop?

Herannya, pagi sebelum malamnya dinyatakan sakit dan menghilang dari sorotan kamera media, Sandi terlihat segar bugar di TPS di lingkungan rumahnya. Ini jadi spekulasi terbesar yang membuat mata media berjaga-jaga menantikan kabar kelanjutan rumor retaknya Sandiaga dengan Prabowo. Jika kabar itu benar maka akan menimbulkan preseden negatif kepada Prabowo dan malah menarik simpati publik terhadap Sandi.

Sandiaga adalah penyokong dana terbesar di kampanye tim Prabowo-Sandiaga. Bahkan sejak awal, sandi mengakui telah mengeluarkan uang sebesar 1 trilyun untuk dana operasional kampanye dua partai pendukungnya, PKS dan PAN.

Sandiaga mengaku telah menghabiskan hartanya sebesar 100 juta dollar AS atau sebesar 1,4 trilyun rupiah untuk biaya kampanye Prabowo-Sandi yang awalnya hanya sebesar 134 trilyun rupiah. 

Sandi juga mengaku telah menguras sepertiga hartanya demi langkah politiknya itu. Cukup mengejutkan rasanya jika Sandi sang penyokong dana justru diusir dari deklarasi kemenangan kubunya sendiri.

Sandiaga bukanlah orang baru di lingkungan Prabowo. Sejak tahun 2015 Sandiaga telah bergabung dengan partai Gerindra sebagai Anggota Dewan Pembina. 

Ia menjadi sahabat karib sekaligus anak asuh Prabowo di dunia politik. Tahun 2017 Sandi diusung Prabowo dan dipasangkan dengan Anies Baswedan untuk maju di pemilihan gubernur DKI. 

Pasca kasus penistaan agama yang menjerat Ahok, Sandi pun didaulat menjadi magnet bagi warga DKI untuk memilih kader Gerindra agar duduk di kursi tertinggi di DKI Jakarta.

Kesetiaannya dengan seorang Prabowo Subianto tidak diragukan lagi. Sandi menuruti apa permintaan Prabowo untuk maju ke pilpres, mundur dari kepengurusan dan keanggotaan partai serta mengundurkan diri dari jabatan wakil gubernur DKI. Sebuah komitmen yang luar biasa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2