Mohon tunggu...
lenny indah
lenny indah Mohon Tunggu... Administrasi

Masih berproses

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

China, Banyuwangi, dan Buah Naga

22 Mei 2019   20:11 Diperbarui: 22 Mei 2019   20:34 0 1 0 Mohon Tunggu...
China, Banyuwangi, dan Buah Naga
lampu-5ce54b9a3ba7f7283e79cec2.jpg

Sektor pertanian merupakan salah satu penggerak perekonomian nasional. sektor ini mampu memberikan dampak positif dalam menunjang ekonomi wilayah pedesaan. Mayoritas masyarakat pedesaan bertumpu pada sektor ini dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dampak positif sektor pertanian di wilayah pedesaan terlihat dari adanya peningkatan nilai ekspor komoditas unggulan masing-masing daerah di Indonesia. Selain itu, sektor ini juga mampu menyerap tenaga kerja sekitar 80 persen di daerah pedesaan disertai adanya peningkatan pendapatan per kapita tenaga kerja tersebut. Banyuwangi merupakan kabupaten yang terletak paling ujung provinsi jawa timur yang memiliki potensi tinggi di sektor pertanian.

Sebagai mahasiswa ilmu ekonomi yang tinggal di daerah pedesaan Kabupaten Banyuwangi. Saya melihat bahwa pertanian di Kabupaten Banyuwangi mengalami peningkatan khususnya produktifitas buah naga. Bahkan Banyuwangi menjadi sentra penghasil buah naga terbesar di provinsi Jawa Timur. Sentra produksi buah naga di kabupaten Banyuwangi tersebar di Kecamatan Pesanggaran, Bangorejo, Siliragung, Purwoharjo, Sempu, Cluring, Tegaldlimo dan Gambiran. Bangorejo menjadi salah satu kecamatan penghasil buah naga organik yang diminati pasar-pasar di Jakarta bahkan hingga keluar negeri. Kelompok tani Berkah Naga adalah salah satu dari banyaknya kelompok tani yang ada di Kabupaten Banyuwangi yang memanfaatkan bahan-bahan organik untuk pengelolaan buah naganya.  

Buah Naga Organik

Buah naga organik banyak diminati oleh eksportir untuk dikirim ke Malaysia maupun China. Bapak Sugeng merupakan salah satu petani yang memanfaatkan bahan-bahan organik untuk mengelola buah naganya. Alasan Bapak Sugeng awal memilih menggunakan pupuk organik karena dia kesulitan mencari pupuk kimia saat enam bulan pertama menanam buah naga. Lalu dia memilih menggunakan srintil atau kotoran kambing. Namun, ternyata kotoran kambing saja tidak cukup untuk memenuhi nutrisi tanaman buah naga. Kemudian dengan didampingi oleh penyuluh pertanian, beliau mencoba menggunakan bahan-bahan alami yang dapat dengan mudah diperoleh dilingkungan sekitar dengan harga yang murah.

Untuk pembuatan pupuk pestisida nabati, Bapak Sugeng menggunakan campuran daun sirih yang dihaluskan lalu direndam sampai 3 hari serta sabut kelapa juga ditumbuk, direndam. Lalu disaring kemudian dicampur. Dosisnya 1 sampai 2 liter campuran sabut kelapa dan sirih untuk satu tangki yang berisi 14-20 liter air. Pupuk pestisida nabati berfungsi untuk mengendalikan penyakit jamur dan bakteri.

Sebagai ganti pupuk kimia, Bapak Sugeng memanfaatkan kotoran kambing, bonggol pisang, rebung bambu, tauge, akar bambu, air cucian beras, dan terasi. Sementara untuk PGPR yang berfungsi mempercepat pertumbuhan dan menjaga kesehatan tumbuhan, Bapak Sugeng mencampur gula pasir, terasi, MSG, dedak, akar bambu, dan air matang.

Meskipun penggunaan bahan-bahan organik ini tidak dapat instan, harus kotor-kotor terlebih dahulu meracik bahan-bahan tersebut, dan memerlukan waktu yang lama namun buah naga yang diberi perawatan secara organik ini yang dilirik oleh China. Bahkan Bapak Sugeng dan rekannya diminta langsung oleh eksportir dari China dan Malaysia untuk mengirim buah naganya sebanyak 20 ton per minggunya. Hal ini tentunya bukan tanpa alasan, eksportir dari China dan Malaysia meminta buah naga dari banyuwangi dengan memperhatikan kualitas dan keamanan untuk dikonsumsi, selain itu harga buah naga di Banyuwangi relatif stabil.

Tidak hanya eksportir dari China dan Malaysia yang melirik buah naga dari Banyuwangi, bahkan negara Singapura dan Hongkong meminta pengiriman buah naga organik dari Banyuwangi dengan harga yang sangat kompetitif. Negara singapura melihat bahwa buah naga organik ini memiliki banyak kelebihan diantaranya lebih sehat, rasanya lebih manis, dapat bertahan lebih lama dengan harga yang lebih terjangkau.

Petani buah naga di Banyuwangi terus mendorong produksinya sehingga tidak mengherankan produksi buah naga di Banyuwangi terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Berdasarkan data yang diperoleh dari banyuwangikab.go.id pada tahun 2016 total produksi buah naga mencapai mencapai 39.990 ton dari luas lahan 1.275,5 hektare (ha), jumlah ini meningkat dari tahun 2015 yang sebesar 30.454 ton dari luas lahan 1.213,3 ha. Dan terus mengalami peningkatan di tahun 2017 menjadi 42.349 ton dari luas lahan 1.275,5 ha.

Jika dilihat dari salah satu kelompok tani di Desa Pucungsari yang menggarap sebesar 12 ha. Selama panen raya dalam satu musim tanam (6 bulan) dapat dihasilkan 40 ton buah naga organik/ha. Omset yang diperoleh dari satu musim tanam rata-rata sekitar Rp 300 juta.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas terus mendorong petani buah naga di Banyuwangi menggunakan pupuk organik Karena tingginya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan organik mulai meningkat. Selain itu, beliau terus mendorong perluasan pola tanam organik di Banyuwangi sehingga potensi Banyuwangi sebagai sentra buah naga terbesar di Jawa Timur terus mengalami perkembangan. Tidak hanya buah naga yang terus mengalami peningkatan, namun buah-buahan lainnya seperti semangka dan jeruk terus didorong untuk dapat mencapai pasar diluar jawa bahkan luar negeri.

Meluasnya pasar buah naga Banyuwangi tentunya meningkatkan keuntungan dan pendapatan petani buah naga. Harga buah naga kimia yang awalnya Rp 8.000/kg, dengan menggunakan pola tanam organik bisa mencapai Rp 26.000 -- Rp 27.000/ kilogram. Dengan pendapatan yang diperoleh petani buah naga per tahun Rp 100 juta, dan untuk pengeluaran pembelian pupuk organik sebesar Rp 12 juta, maka dengan adanya perkembangan ekspor buah naga keluar negeri, petani buah naga di Banyuwangi ini menjadi lebih sejahtera dan tentunya mendorong Banyuwangi menjadi kabupaten yang produktif.

Teknologi Lampu Buah Naga

Salah satu keunikan yang dimiliki oleh petani buah naga di Banyuwangi yaitu memanfaatkan lampu untuk meningkatkan produktifitas buah naga. Cara sederhana ini telah terbukti mampu meningkatkan produktifitas buah naga setiap tahunnya. Pemasangannya petani menggunakan lampu 5-15 watt yang berwarna kuning. Kawat diikatkan pada setiap pohon rambatan buah naga, sehingga menghubungkan satu pohon dengan pohon yang lain. Bola lampu tersebut diletakkan diantara dua pohon buah naga. Umumnya, buah naga membutuhkan sinar matahari selama 12 jam, sedangkan matahari dalam sehari hanya mampu memberikan sinarnya selama 9-10 jam. Untuk menutupi kekurangan cahaya buah naga maka biasanya petani buah naga menghidupkan lampu sekitar pukul 18.00 hingga tengah malam.

Dengan pemberian lampu ini, masa panen buah naga tidak sesuai dengan musim, buah naga yang diberikan cahaya lampu dapat terus berbuah setiap bulannya. Menurut salah satu petani buah naga Sunarto yang memanfaatkan cahaya lampu, kerugian yang dialami ketika musim panen tiba tidak terlalu besar. Biasanya ketika musim panen tiba, harga buah naga turun mencapai Rp.2.500, dengan harga tersebut tentunya petani rugi karena biaya yang dikeluarkan untuk membeli pupuk lebih mahal, namun dengan adanya cahaya lampu ini, Bapak Sunarto dan petani buah naga lainnya mencegah kerugian dengan memperbanyak berbuahnya naga setelah musim panen tiba sehingga apabila musim panen tiba, hanya sedikit buah naga yang berbuah.

Biaya yang dikeluarkan untuk pemberian lampu pada buah naga tentunya tidak murah, petani harus mengeluarkan sekitar Rp 20-25 juta untuk seperempat bau buah naga, ditambah biaya listrik sekitar Rp 1 juta/bulan yang digunakan setiap malam. Namun dengan berbuahnya buah naga setiap bulan tanpa melihat sekarang musim panen atau tidak, petani bisa menutup biaya pemberian lampu dan biaya pupuk untuk perawatan buah naga. Dengan cara sederhana yang dilakukan oleh petani buah naga Banyuwangi ini terbukti mampu meningkatkan produktifitas dan pendapatan petani di Banyuwangi.

Tantangan Petani di Banyuwangi

Meroketnya pasaran buah naga dari Banyuwangi hingga keluar negeri seperti Malaysia dan China, tentunya harus melewati tahapan-tahapan. Permasalahan yang dihadapi oleh petani buah naga untuk mencapai pasar ekspor diantaranya masih terkendala surat administrasi. Selain itu, tidak semua petani buah naga organik langsung dapat mengekspor buahnya, namun harus melalui proses sertifikasi organik, sehingga petani yang masih sebentar pindah dari kimia ke organik harus menunggu proses sertifikasi.

Petani Banyuwangi sebenarnya mampu memenuhi jumlah permintaan buah naga dari luar negeri, namun karena harus melewati uji kelayakan untuk persyaratan ekspor sehingga hanya 40-60% yang dapat diekspor. Selain sudah menembus pasar ekspor, buah naga Banyuwangi sudah menembus pasar di Jakarta seperti Ramayana, Carrefour dan jaringan ritel lainnya dan jika kualitas buah naga tersebut rendah maka dipasarkan dipasar tradisional di Surabaya. Sehingga apabila tidak lolos uji kelayakan ekspor masih dijual dipasar lainnya, hal ini tentu saja tetap menguntungkan petani dan Kabupaten Banyuwangi yang menjadi sentra penghasil buah naga terbesar di Provinsi Jawa Timur.