Mohon tunggu...
Leanika Tanjung
Leanika Tanjung Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

The Lord is my sepherd

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Kabel Merah adalah Kunci?

12 April 2019   02:21 Diperbarui: 12 April 2019   07:28 53
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pemegang kabel merah meminta ibu-ibu pencoblos pergi karena polisi akan datang.

"Tolong segera keluar dari sini, sebentar lagi polisi akan datang. Bawa anak-anaknya," suara seorang laki-laki sambil memidiokan ibu-ibu pencoblos surat suara dan memegang kabel merah.

itu cuplikan salah satu video yang beredar di media sosial Kamis siang terkait viral surat suara tercoblos di Malasya. Siapa laki-laki itu, yang menyuruh ibu-ibu pencoblos pergi sebelum polisi datang, terjawab di video berikutnya.

Sampai di sini, otak saya protes. "Kok, menggrebek kejahatan, ada pelakunya tapi disuruh pergi." Saya pakai logika sederhana saja, tidak berpikir njelimet kok.

Di video berikutnya, laki-laki dengan kabel merah masih di tangan bicara, berarti dialah yang membuat video pertama dan menyuruh ibu pencoblos pergi. Dia seperti seorang reporter sedang melaporkan peristiwa di lapangan pada sebuah televisi, wajahnya ditampilkan utuh sehingga dia adalah kunci.

Dia bilang, 

Ups, bsok saya lanjutkan ya, ngantuk...

Pagi uda segar, saya lanjutkan...

Si bapak bilang menggrebek tapi kok santun sekali ya. Ibu-ibu yang melakukan kejahatan mencoblos surat surat disuruh pergi karena sebentar lagi polisi datang. Mungkin si bapak memang baik hati dan sangat lembut hatinya. Tidak tega meligat ibu-ibu itu dicokok polisi.

Atau, pengalaman dia selama ini mengajarkan begitu. Kalau ada maling ke gap masuk ke rumahnya, dia akan hilang tolong keluar sebentar lagi polisi datang.

Baiklah...

Nalar saya bilang banyak kejanggalan dalam kasus ini. Ketua Panwaslu Malaysia, seorang perempuan berhijab ketika diwawancarai sebuah televisi bilang pelakunya kabur, nah videonya menunjukkan mereka tenang-tenang saja, malah di suruh  pergi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun