Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan featured

Refleksi Valentine, Berikan Kasih Sayang Setiap Saat

14 Februari 2017   06:08 Diperbarui: 14 Februari 2018   13:06 712 25 16
Refleksi Valentine, Berikan Kasih Sayang Setiap Saat
ilustrasi: @kulturtava

Tanggal 14 Februari diperingati sebagai Hari Kasih Sayang atau Valentine’s Day. Ada banyak versi mengenai sejarah Hari Valentine. Versi yang paling sering muncul yakni 14 Februari diperingati sebagai Hari Peringatan Santo Valentinus.

Negara-negara di Eropa dan Amerika merayakan Hari Kasih Sayang. Berbeda dengan beberapa negara Muslim yang melarang adanya perayaan Valentine. Menurut beberapa pendapat, Valentine erat kaitannya dengan budaya Kristen.

Realitanya, Valentine menjadi momen yang menguntungkan bagi para penjual bunga, coklat, boneka, dan kartu. Para pemilik hotel dan restoran pun diuntungkan. Sebab banyak orang yang memanfaatkan Hari Valentine untuk reservasi tempat-tempat spesial dalam rangka kencan romantis.

Banyak versi beredar mengenai asal-usul Valentine. Sejumlah sektor usaha diuntungkan. Namun bukan fenomena itu yang ingin saya bahas. Ada makna lain dari Hari Kasih Sayang yang jauh lebih dalam dibandingkan soal seremonialnya saja.

Terlepas dari adanya pro dan kontra perayaan Valentine, sungguh menyenangkan hadirnya Hari Kasih Sayang di tengah segala konflik dan permusuhan yang tengah menguji bangsa kita. Saat kebhinekaan diragukan, nilai toleransi luntur, dan perbedaan mendatangkan konflik, hadirlah Hari Kasih Sayang. Satu hari yang mengingatkan kita untuk saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi. Momen yang bisa membuka mata hati kita semua bahwa kasih sayang sangat penting untuk ditumbuhkan.

Mencintai, mengasihi, dan menyayangi tidak terbatas. Jarak dan waktu tidak bisa membatasi seseorang untuk memberikan kasih sayang pada orang lain. Mencintai, mengasihi, dan menyayangi pun dilakukan tanpa syarat. Kita bukan mencintai, mengasihi, atau menyayangi seseorang karena ketampanan/kecantikannya, kepintarannya, kebaikan hatinya, keshalehannya, kekayaannya, maupun prestasinya. Melainkan cintai, kasihi, dan sayangi apa adanya. Tanpa memandang kelebihan dan kekurangannya. Jika kita hanya mencintai seseorang karena segala kelebihannya, bagaimana dengan orang-orang difabel, orang yang berasal dari keluarga tidak mampu, para pengidap kusta, kanker, penyakit-penyakit menular lainnya, para narapidana, para gay, lesbian, dan pelaku hal-hal menyimpang? Apakah mereka tidak pantas dicintai?

Siapa orang yang tak ingin dicintai dan disayangi? Siapa orang yang tidak bahagia dicurahi perhatian, dipedulikan, dan diberi pertolongan oleh orang lain? Semua orang pantas dicintai. Semua orang pantas disayangi. Bagaimana pun keadaan mereka. Bukan manusia yang menjaminnya, melainkan Tuhan. Bukankah tiap agama mengajarkan cinta kasih? Bukankah terdapat kata cinta dan kasih sayang dalam kitab suci agama mana pun? Al-Qur’an saja menyebut kata cinta dan derivasinya sebanyak 83 kali.

Kembali ke Hari Kasih Sayang, 14 Februari hanya satu dari sekian banyak simbol kasih sayang di dunia. Hari Kasih Sayang tak hanya milik para kekasih atau orang yang sedang jatuh cinta. Valentine pun menjadi milik orang tua dan anak, guru pada muridnya, para pemuka agama dengan umatnya, dan seseorang pada sahabatnya.

Waktu saya duduk di Elementary School, saya memiliki seorang sahabat. Dia gadis yang cantik dan baik hati. Akibat kelumpuhan yang dideritanya, dia terpaksa menggunakan kursi roda. Saya sering mendorong kursi rodanya, mengajaknya jalan-jalan di seputar koridor dan taman sekolah sewaktu istirahat. Film, mainan, dan makanan favorit kami hampir sama. Menjelang Natal, saya selalu memberinya kado. Begitu pun saat Idul Fitri, dia memberi saya hadiah dan ucapan. Tiap Minggu pagi, dia tidak pernah lupa mendengarkan siaran saya di radio di sela kegiatan ibadahnya ke gereja dan program terapi syaraf dengan dokternya. Di sekolah, tiap kali saya ditunjuk mengikuti kontes menyanyi, dialah yang pertama kali mensupport saya. Dia selalu menemani saya saat latihan. Saya masih ingat, kami selalu bertukar coklat di Hari Kasih Sayang. Momen yang seru dan berkesan sekali. Meski dia lumpuh, kesulitan berbicara dengan jelas, dan tingkat intelektualitasnya di bawah rata-rata karena kerusakan syaraf otaknya, namun dia sahabat yang baik dan tulus. Saya menyayangi dia apa adanya. Saya menikmati lima tahun persahabatan dengannya. Terakhir saya mengontaknya dua tahun lalu. Saya kehilangan kontaknya.

Terbukti kan, Hari Kasih Sayang milik siapa saja? Siapa pun yang ingin berbagi kasih sayang. Namun, kasih sayang tidak hanya diberikan dalam satu hari. Berikanlah kasih sayang terus-menerus. Setiap saat, setiap waktu. Cinta dan kasih sayang tidak akan habis. Jika kita terus memberikan cinta dan kasih sayang, maka akan ada lebih banyak cinh lebih ta dan kasih sayang mengalir untuk kita.

Jadikan setiap hari penuh kasih sayang dan cinta. Jangan ragu menebar kasih sayang dimana saja dan pada siapa saja. Bahkan pada orang-orang yang membenci kita, orang-orang yang memusuhi kita, balaslah kejahatan mereka dengan kasih sayang.

Ada banyak cara mengungkapkan dan menebarkan kasih sayang. Beberapa di antaranya adalah:

1. Memberikan perhatian. Teleponlah orang yang kita sayangi. Pastikan dia baik-baik saja. Selain telepon, mengirim e-mail dan pesan di media sosial layak dicoba. Tanyakan kabarnya, berikan perhatian untuknya. Sekecil apa pun, perhatian kita akan mendapat kesan baik di hatinya.

2. Jadilah pribadi penyayang. Sayangi siapa pun apa adanya. Tanpa melihat kelebihan dan kekurangannya, kekayaannya, keturunannya, ataupun agamanya. Tumbuhkan jiwa penyayang dan hati yang tulus. Di masa-masa seperti ini, cinta kasih sangatlah dibutuhkan.

3. Jangan ragu mengatakan “aku sayang kamu”. Mencintai dan menyayangi memang tak perlu kata-kata eksplisit. Tak mutlak dengan pernyataan tersurat. Akan tetapi, tak ada salahnya mengucapkan kalimat magis itu. Kompasianer, sadarkah kalian bahwa kalimat “aku sayang kamu” memberi efek positif yang luar biasa?

4. Berikan sesuatu. Bagi yang mampu secara materi, memberi hadiah mungkin tak sulit. Namun hadiah maupun sesuatu yang berarti tak selamanya terukur dengan materi. Memberikan senyuman tulus, menyapa, menyanyikan lagu favorit, menyisihkan waktu untuk menemani orang yang disayangi, sudah merupakan hadiah yang istimewa. Jangan ragu untuk memberi, sebab memberi tak mesti dengan materi.

Di artikel ini, saya pun ingin menyampaikan rasa sayang saya pada semua Kompasianer yang selama ini telah membaca tulisan-tulisan saya. Juga pada beberapa Kompasianer yang berinteraksi dan dekat secara personal dengan saya. Kompasianer sudah seperti keluarga. Obat yang menetralisir rasa kesepian saya.  Di Kompasiana, saya menemukan teman, sahabat, kakak, guru,  ayah, Opa, Oma,  bahkan cinta. Seperti di awal, jarak dan waktu tidak membatasi seseorang untuk saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi. Selamat Hari Valentine.

Bandung, 14 Februari 2017