Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Penulis Novel

Nominee best fiction Kompasiana Awards 2019. 9 September 1997. Novel, modeling, music, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ketika Silvi dan Sivia Takut dengan PNS

3 Oktober 2019   06:00 Diperbarui: 3 Oktober 2019   07:12 55 21 5 Mohon Tunggu...
Ketika Silvi dan Sivia Takut dengan PNS
Balaikota DKI Jakarta (Kompas.com)

Silvi dan Sivia sepasang kembar identik. Mereka cantik dengan mata biru dan rambut panjang. Keduanya memiliki banyak kesamaan: hobi, passion, gaya berpakaian, dan pengalaman hidup. Bahkan, ketakutan mereka pun sama.

Salah satu hal yang mereka takutkan adalah instansi pemerintah dan orang-orang bekerja di dalamnya. Di pikiran si kembar, PNS identik dengan profesi kaku, korup, menyunat uang rakyat, kerja office hour, konservatif, dan antikritik. Sejumlah pengalaman buruk pernah dirasakan Silvi dan Sivia selama bekerja dengan PNS.

-Berpelukan dengan rekan kerja dibicarakan negatif. Padahal pelukan semata bukan karena cinta.

-Politik kantor yang parah. Hingga project yang digawangi si kembar Silvi dan Sivia gagal.

-Instansi pemerintah antikritik. Saat si kembar Silvi dan Sivia membuat ulasan mengenai potret buram sebuah lembaga pendidikan, pihak yang bersangkutan meneror si kembar.

-Teror mental dari pejabat PNS. Silvi dan Sivia dikurung di sebuah ruangan dengan seorang pejabat PNS. Pejabat yang berkepribadian kurang matang tersebut merasa kritikan Silvi dan Sivia mengenai dirinya. 

Si pejabat meneror mental si kembar dengan membuat mereka merasa jahat dan bersalah. Teror mental dari pejabat tersebut membuat Silvi dan Sivia ketakutan selama berbulan-bulan.

-Nilai skripsi yang tidak sebanding. Silvi dan Sivia memiliki otak cemerlang. Kemampuan menulis marathon dengan hasil yang bagus mereka kuasai. Tema srkipsi mereka pun luar biasa hingga tembus jurnal internasional. 

Si kembar menyelesaikan skripsi paling cepat dibanding kawan-kawan seangkatan. Mereka sidang perdana dan sidang tunggal. Skripsi bertema "berani" dan berlevel internasional hanya dihargai nilai B- oleh dosen penguji.

-Homogen dan kurangnya pluralisme. Bagi Silvi dan Sivia, institusi pendidikan yang dikelola pemerintah berikut abdinya adalah neraka bagi pluralisme dan minoritas. Sering kali Silvi dan Sivia mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari para guru maupun sesama murid. Semua perlakuan mereka diskriminatif, baik berupa pemberian nilai, tidak mendapat kelompok dalam tugas, dan lingkup pergaulan.

Berbagai pengalaman buruk tersebut membuat si kembar makin enggan berurusan dengan instansi pemerintah dan abdi negara. Kini, si kembar dibayangi ketakutan karena terpaksa harus berurusan dengan mereka.

Kompasianer, Young Lady cantik mau tanya. Apakah kalian sama takutnya seperti Silvi dan Sivia?

VIDEO PILIHAN