Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Novelis

9 September 1997. Novel, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kompasiana, Tempat Melarikan Diri dari Kesedihan

20 Maret 2019   06:00 Diperbarui: 20 Maret 2019   06:16 275 44 34
Kompasiana, Tempat Melarikan Diri dari Kesedihan
Pixabay.com

Copras capresnya bisa berhenti dulu nggak? Ayo, sini sini merapat ke tempatnya Young Lady. Young Lady mau ajak kalian melihat video ini.


Apa yang kalian tangkap dari video itu? Mengharukan pastinya ya. Momen itu terjadi 10 tahun yang lalu. Kini, si anak tampan dengan karakter suara vibrato yang unik telah sukses. Siapa yang pernah nonton Dilan 1990? Pasti familiar sama wajah anak ganteng itu. Debo kecil telah bertransformasi menjadi pemuda yang menawan.

Young Lady menangkap beberapa kesan dalam video itu. Air mata datang dari hati yang lembut. Menahan rindu selama bertahun-tahun itu berat dan menyesakkan. Tangisan tidak boleh ditahan, karena tidak semua air mata buruk. Harapan terindah adalah berkumpul bersama orang-orang terkasih.

Satu hal yang jelas dalam video di atas: kesedihan. Sama seperti Young Lady yang menjadikan Kompasiana sebagai tempat melarikan diri dari kesedihan.

Saat ini, Young Lady tengah mencemaskan orang lain. Dua orang lebih tepatnya. Satu orang tak dikenal Young Lady secara langsung. Satu lagi, malaikat hidup Young Lady cantik.

Kecemasan ternyata bermuara pada kesedihan. Jauh dari orang-orang yang dicintai pun menyedihkan. Kompasiana, ya hanya Kompasiana satu-satunya tempat melarikan diri.

Katakanlah Kompasiana media katarsis. Mungkin suatu saat nanti Kompasiana harus mengubah diri menjadi media katarsis, bukan lagi media warga. Menarik juga.

Menulis di Kompasiana dapat menjadi pelarian. Ketakutan bertemu penawar. Kelegaan sesaat terasa. Entah sampai kapan.

Perasaan sedih dapat tertumpah lewat lembar tulisan. Hati yang tak tenang sedikit demi sedikit dipulihkan. Young Lady ragu, sampai kapan masa-masa ini dapat terlewati. Mungkin sebentar lagi, mungkin masih lama, atau mungkin tidak sama sekali.

Kesedihan dan kesepian seperti tak ada ujungnya. Anehnya, Kompasiana tetap hadir memenuhi kebutuhan katarsis. Menulislah, dan kita akan menemukan pelarian. Jangan sampai kita seperti politikus koalisi tetangga yang menjadikan nyabu sebagai media katarsis. Jadikan menulis dan Kompasiana sebagai media katarsis kita.

Young Lady paham, tidak semua Kompasianer baik. Tidak semua Kompasianer ramah dan hangat. Tidak semua Kompasianer rendah hati, terbuka, menyenangkan, dan penuh kasih sayang. Ada pula yang jahat. Ada pula yang tidak berempati. Sistem Kompasiana pun masih tidak ramah untuk golongan tertentu.

Meski demikian, Kompasiana masih cukup nyaman untuk ditinggali. Setidaknya lebih nyaman, ramah, dan akrab dibandingkan media warga lainnya. Kompasiana tempat kita pulang. Rumah untuk melarikan diri dari pusaran masalah dan kesedihan.

Masih banyak yang ingin Young Lady cantik katakan. Tapi...mengapa sulit sekali?

Finally, Young Lady tetap ingin berkata. Kesepian ini masih terus melekat.