Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Wanita Pilihan

"Freaky Wedding", Ketika Tanggung Jawab Lebih Banyak Dibebankan pada Pengantin Wanita

4 Februari 2018   05:55 Diperbarui: 5 Februari 2018   06:53 667 21 18
"Freaky Wedding", Ketika Tanggung Jawab Lebih Banyak Dibebankan pada Pengantin Wanita
Ilustrasi: Shutterstock

Jangan tersinggung ya, dengan judul yang cantik. Cantik tapi tajam menusuk. Percayalah, Young Lady cantik tidak bermaksud menyinggung perasaan siapa pun. Tenang saja. Ini hanya tulisan cantik gagasan dan pemikiran dari gadis kesepian yang belum pernah menikah.

Ceritanya, Young Lady kesal sekali gegara kemarin tak bisa menulis dengan cantik. Bukan karena malas, lebih karena bosan dan suasana tidak kondusif. Mengapa tidak kondusif? 

Di sini, keluarga disibukkan dengan kerumitan persiapan pernikahan. Belanja inilah, merangkai bunga itulah, menata rumah buat acara lamaranlah, bla bla bla. Selain sibuk, seluruh anggota keluarga jadi egois dan mudah terbawa emosi. Memangnya mereka tidak takut hipertensi kalau bawaannya emosian terus? Hanya Young Lady cantik satu-satunya yang tetap sabar dan tenang. Dan tetap cantik tentunya.

Gegara kerumitan ini, Young Lady jadi berpikir cantik. Oh ya, berpikir pun harus cantik. Ternyata pernikahan itu hanya membuang banyak uang dan menghalangi mewujudkan target-target dalam hidup. Banyak materi seakan terkonsentrasi sepenuhnya untuk pernikahan. Entah ini prasangka atau benar, sepertinya pernikahan hanya membuat bangkrut saja. Kehilangan uang, iya. Kehilangan kesempatan meraih mimpi dan target, sudah pasti. Sebab seluruh fokus tercurah pada pernikahan.

Memang benar. Pernikahan adalah ibadah. Pernikahan adalah kebaikan guna mempersatukan dua hati yang saling mencintai dan meneruskan keturunan. Nah lho, terus bagaimana kalau tidak bisa mendapat keturunan? Apakah tujuan pernikahan luntur begitu saja?

Melihat kerumitan persiapan pernikahan di depan mata, Young Lady makin mantap untuk tidak akan menikah nantinya. Ini tentu ada alasannya. Young Lady cantik bukan perempuan yang bisa dibodohi dengan persiapan pernikahan yang anggarannya meroket. Intinya, Young Lady cantik tidak mau mengeluarkan uang untuk pernikahan dan hidup berumah tangga. 

Sebab Young Lady cantik telah berjanji pada diri sendiri, menggunakan uang yang dimiliki dan diinvestasikan untuk membuka bisnis dan meraih mimpi. Tidak akan menggunakan harta yang telah susah payah dikumpulkan sendiri tanpa campur tangan orang tua untuk menikah dan berumah tangga. Hal itu tak dapat diganggu gugat. Masih banyak target yang belum tercapai, dan itu semua butuh materi.

So, Young Lady cantik tegaskan tidak akan menikah kecuali dengan beberapa pertimbangan. Misalnya, bertemu pujaan hati yang super tampan dan super kaya. Eits, ini serius. Bukan bercanda. Sebab, pria super tampan dan super kaya itulah yang akan membiayai pernikahan itu dengan kekayaannya. Sekali lagi, Young Lady cantik tidak mau mengeluarkan uang sedikit pun untuk urusan pernikahan.

Terserah bagi para Kompasianers wanita untuk setuju atau tidak. Tapi, cobalah berpikir dengan hati dan logika. Tidakkah kalian, para wanita, merasa bodoh dan dibodohi bila repot-repot menyiapkan pernikahan dengan tanggung jawab yang lebih besar? Ok, bisa saja kalian katakan bila kalian mencintai calon suami dan tak keberatan bila harus direpotkan. Namun, apakah pernikahan hanya butuh cinta?

Big no, Dear. Pernikahan bukan hanya soal cinta. Pernikahan juga soal komitmen, tanggung jawab, keberanian, dan konsistensi. Bila berani menikah, beranilah bertanggung jawab. Dimana-mana, para prialah yang lebih dulu datang menyatakan tawaran menikah. Nah, kalau pria sudah berani mengajak wanita menikah, itu artinya dia harus siap bertanggung jawab. Baik sebelum maupun setelah menikah.

Jangan hanya berani mengajak menikah, lalu setelahnya beban tanggung jawab lebih banyak diserahkan pada pengantin wanita dan keluarganya. Pernikahan bodoh dan freaky menurut Young Lady cantik, bila pengantin wanita dan keluarganyalah yang lebih banyak bertanggung jawab. Seharusnya pria yang berlaku begitu merasa malu. Mau jadi suami, mau jadi pemimpin keluarga, tapi malah wanita dan keluarga wanitalah yang bertanggung jawab mempersiapkan semuanya. Bagaimana mau jadi suami yang baik bila awalnya saja sudah begini?

Misalkan seorang pria berani menikahi wanita, nikahilah dengan cara yang baik dan tidak merepotkan siapa pun. Jangan membodohi wanita dan keluarga hanya karena urusan pernikahan. Jangan buat mereka tertekan dengan urusan persiapan, sebelum, dan setelah menikah yang tak ada habisnya. Jika berani menikah, berani pula tanggung jawab.

Sekarang, coba Young Lady tanya. Jawab dengan jujur: apakah para wanita yang pernah jadi pengantin, merasa dirinya dan keluarganya direpotkan dengan urusan pernikahan? Pasti repot, kan? Lalu, apakah pernikahan yang dipersiapkan secara total itu akan menjamin bertahan seumur hidup? Tidak, kan? Pria mana pun tak bisa dipercaya seratus persen. Bisa saja terjadi risiko-risiko di kemudian hari. Infertil misalnya. Atau perceraian, perselingkuhan, dan poligami. So, akan sangat bodoh bila wanita dibutakan oleh cinta dan keinginan sesaat untuk mempersiapkan pernikahan secara total hingga merepotkan diri sendiri dan keluarga. Mau-maunya wanita dibodohi oleh pria, dan dibutakan oleh cinta.

Kalaupun ingin menikah dan berusaha tidak merepotkan, mengapa tidak pilih nikah wisata saja? Tanpa pesta, tanpa resepsi, namun hanya dirayakan dengan honeymoon. Bila perlu, honeymoon yang mewah dan eksklusif. Keliling Eropa, misalnya. Atau bagi yang beragama Islam, bisa lebih berkesan lagi dengan menikah di Mekkah. Bukankah lebih praktis dan tidak menyusahkan siapa pun? Lebih hemat pula.

Buat para Kompasianer wanita, sebaiknya jangan mau dibodohi dengan beban tanggung jawab yang lebih besar dalam persiapan menikah dan hidup berumah tangga setelahnya. Jangan bawa-bawa cinta sebagai alasan untuk membodohi orang lain menjelang pernikahan.

Dan buat para pria, jadilah pria yang berani bertanggung jawab saat berani mengajak wanita menikah. Pria sejati tidak akan membodohi wanitanya dan membuat dia kesusahan.

Maaf, bila ini sedikit menyinggung soal agama. Dalam salah satu ajaran agama Samawi yang menempati kedudukan agama terbesar kedua di dunia, dan diprediksi pada tahun 2070 menjadi agama terbesar di dunia, wanita dibolehkan memiliki dan menyimpan hartanya sendiri. Pria tidak boleh ikut campur dalam urusan harta wanita. Hak wanita untuk mengumpulkan, memiliki, dan menyimpan harta sangat dilindungi dalam ajaran agama satu ini. Sungguh ajaran agama yang sangat ideal bagi wanita. Dan akan semakin ideal pula bila pria benar-benar tidak ikut campur atau membodohi wanita untuk mengeluarkan hartanya dalam urusan pernikahan.

Kompasianer, lebih pilih mana? Hidup sendiri tapi tenang dan kaya, ataukah menikah tetapi tertekan dan dibodohi?