Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kelopak Bunga yang Belum Mekar (3)

14 Januari 2018   06:42 Diperbarui: 14 Januari 2018   10:10 288 14 8
Kelopak Bunga yang Belum Mekar (3)
foto: pbs.twimg.com

"Bisnismu lancar, kan?" tanya Reinhard penuh perhatian.

Pertanyaan Reinhard disambuti senyum manis Rossie. "Lancar. How about you? Betah mengurus hotel peninggalan Papamu?"

"Sangat betah. Mungkin panggilanku memang di sana, bukan di gereja."

Reinhard Fredy, seorang mantan Frater yang mengubah jalan hidupnya sebagai pengelola hotel. Ia lepas juah bukan karena lawan jenis. Bukan pula karena sudah bosan hidup membiara. Melainkan karena desakan keluarga. Sebagai anak pertama, Reinhard mewarisi hotel yang selama ini dijalankan Papanya. Alhasil ia diminta meneruskannya setelah Papanya meninggal. Demi keluarga, Reinhard melepas jubah. Mundur dari kehidupan kaum religius tak berarti imannya luntur. Dari calon rohaniwan menjadi awam, ia tetap menjadi saksi Kristus yang sangat taat.

"Sorry ya, kemarin aku tidak bisa datang. Aku masih di Aussie. Profficiat buat pernikahanmu." kata Reinhard seraya menuangkan air mineral ke gelasnya.

"No problem. Tak usah memberi selamat. Bukan pernikahan yang bahagia." Rossie menampik halus ucapan selamat pria pelukis masa lalunya.

Giliran Reinhard yang tersenyum. Kembali berkonsentrasi pada lunchbox miliknya yang masih tersisa setengah.

"Kenapa? Kamu nggak suka ya, married sama Calvin?"

"Bukan nggak suka lagi, tapi benci! Calvin tak seperti yang kuharapkan!"

Mulailah Rossie menceritakan kekesalan, kekecewaan, dan kemarahannya. Reinhard mendengarkan dengan sabar. Tak sebersit pun tanda kejenuhan tergurat di wajahnya. Sementara Rossie terus menceritakan tentang suami super tampannya.

Tak sia-sia Rossie menerima ajakan Reinhard untuk makan siang berdua. Ingin mencari suasana baru, mereka memutuskan makan siang di taman. Selepas membeli makanan di resto favorit mereka, taman menjadi tempat pilihan untuk menikmatinya.

"Calvin tak pernah memahamiku. Aku kecewa, kecewa sekali padanya." Rossie mengakhiri ceritanya dengan sedikit emosi.

"Well, jujur saja ya. Setelah mendengar ceritamu, dan melihat kelakuan pria yang kaunikahi itu...yah, kau benar. Calvin pria tidak laku dan tidak tahu diri." Reinhard memberikan penilaian. To the point, tajam, tanpa belas kasihan.

Refleks Rossie menjatuhkan sendoknya ke dalam kotak. Wajah lembutnya mengeras seketika.

"Nah, benar kan? Bahkan seorang mantan Frater sepertimu menilai Calvin seperti itu. Apa lagi aku."

"Benar katamu. Menikah dengan Calvin takkan membuatmu bahagia." timpal Reinhard.

"Yups. Haruskah aku bercerai?" tanya Rossie, merendahkan suaranya. Seolah bangku-bangku taman bisa mendengar.

"Your choise. Sebuah pernikahan yang bahagia layak dipertahankan. Sebuah pernikahan yang hanya akan menyakitkan satu pihak, atau kedua-keduanya, jangan dipertahankan. Kalau kamu Katolik, aku akan memberi pandangan dari sisi religiositasnya. Tapi kamu Muslim. Aku yakin, tiap agama sesungguhnya sangatlah membenci perceraian."

Kedekatan Reinhard dan Rossie memang tak biasa. Bagaimana mungkin seorang mantan Frater Katolik bisa sedekat itu dengan wanita Muslim? Mereka dekat karena satu kesamaan: darah campuran. Reinhard Non-Pri, Rossie pun begitu. Bukankah banyak orang yang mirip lebih mudah untuk bersama?

Nyatanya, Rossie tak pernah dekat dan akrab dengan teman-teman asli Indonesia. Ia justru lebih dekat dengan orang-orang yang dapat dikategorikan Non-Pri. Rossie nyaman dengan mereka.

Bila kebanyakan wanita Muslim lebih suka dengan pria alim dan saleh dari agama yang sama, Rossie justru lebih senang berdekatan dengan pria-pria religius dari lain agama. Ia dekat dengan banyak Frater dan Ex-Frater. Bahkan Rossie sering didekati mantan Frater. 

Tak sedikit yang jatuh hati padanya, lalu menginginkan wanita cantik mantan Paskibraka Kota Bandung yang cerdas dan berwawasan luas itu sebagai kekasihnya. Namun, Rossie lebih sering menolak. Ia hanya ingin dekat dengan mereka, bukan berarti jatuh hati pada mereka. Mungkin ini pun ada kaitannya dengan kecenderungan Rossie berteman baik dengan Non-Pri dibandingkan dengan pribumi. Bukankah manusia lebih mudah berkumpul dengan mereka yang mirip dengannya?

"Dalam agamamu...apa yang disatukan Tuhan, tak bisa dipisahkan oleh manusia. Kira-kira begitu, kan? Maaf kalau aku salah." Rossie berujar setelah terdiam sejenak.

"That's right. Nah, sekarang balik lagi ke diri kamu sendiri. Masihkah kamu mencintai Calvin? Apakah kamu ingin mempertahankan rumah tanggamu dengannya?"

Pertanyaan sulit. Jangan tanyakan tentang cinta pada Rossie. Hati wanita Sunda-Jerman itu mati rasa. Meski demikian, tak dapat dipungkiri di hatinya ada sepercik cinta untuk Calvin Wan. Betapa pun seringnya Calvin mengecewakannya, masih ada sisa cinta.

Bunyi reminder di ponselnya menyelamatkan Rossie. Reinhard tersadar. Buru-buru menghabiskan makanannya.

"Time to work," ucap Rossie pelan. Bangkit berdiri, membereskan sisa-sisa makanannya.

"Ok. Btw, kamu sudah shalat?"

Mendengar pertanyaan itu, Rossie kembali tersenyum. Hati terasa sejuk saat pria pelukis masa lalunya mengingatkannya untuk beribadah. Padahal Reinhard Non-Muslim.

"Sudah. Aku selalu tepat waktu. Shalat di awal waktu lebih besar pahalanya." sahut Rossie cerah.

"Syukurlah. Ayo, kuantar kamu."

**      

Hanya sebentar. Ya, hanya sebentar saja Calvin bisa tidur. Selebihnya ia terbangun lagi karena kesakitan. Selimut tebal di tubuhnya ia rapatkan. Kepalanya sangat sakit. Tulang-tulangnya seakan terlepas satu per satu. Sakit ini membuatnya sungguh tidak berdaya.

"Laa illaha illa anta...subhanaka...inni kuntu minnadzalimin." lirih Calvin.

Ia berdoa. Berdoa agar dirinya dikuatkan. Sakit ini mengisap separuh kekuatannya. Sakit yang membuatnya tersiksa. Kanker darah memang kejam. Kejamnya Leukemia, bisa membuat hidup penyintasnya amat menderita.

Tak ingin menyerah dengan rasa sakitnya, Calvin membaca ayat ke-80 Asy-Syu'araa. Entah mengapa ayat itulah yang terlintas dalam ingatannya. Allah mengingatkan, Dialah yang memberikan penyakit dan Dialah yang menyembuhkan. Calvin percaya sepenuhnya. Tak hanya menghafalkan ayat itu di luar kepala, namun meyakini dan mempercayainya.

Beberapa asisten rumah tangga dan dua orang perawat yang berjaga di rumah itu bergegas datang. Cemas melihat kondisi Calvin. Menyesali karena melanggar peringatan Adica. Bukankah Calvin harus selalu berada dalam pantauan? Berjaga-jaga bila terjadi sesuatu.

Salah seorang suster menyuntikkan sesuatu ke lengan Calvin. Menanyainya dengan lembut. Memastikan Calvin tak lagi merasakan sakit.

Sakit di tubuhnya hilang. Sakit di hatinya datang sesaat kemudian. Smartphonenya membunyikan notifikasi. Kiriman foto dan video dari orang kepercayaannya. Di bawah sebuah foto, terdapat caption berisi:

"Sabar ya, Tuan. Nyonya Rossie mungkin menguji kesabaran Anda."

Dalam foto-foto itu, terlihat Rossie bersama Reinhard. Berjalan bergandengan tangan menuju mobil, makan siang di taman, dan bermesraan di depan gerbang taman. Hati Calvin berdenyut sakit. Pedih, pedih sekali melihat istri cantiknya bersama yang lain.

Video ia buka. Ternyata berisi rekaman saat Rossie membuang lunchbox yang dikirimkan Calvin untuknya. Ternyata lebih sakit lagi melihatnya. Rossie tak menghargai pemberiannya, malah berduaan dengan laki-laki lain. Laki-laki pelukis masa lalu.

Dalam hati, Calvin beristighfar. Memohon dikuatkan sang Illahi. Perihnya hati melihat istri yang begitu dicintai bermain ke lain hati.

"Tuan, Tuan Calvin kenapa?" tanya salah seorang suster dengan cemas. Menatapi wajah Calvin yang bertambah pucat.

"Saya tidak apa-apa. Tolong tinggalkan saya sendiri." jawab Calvin lirih.

Perintah yang tak dapat dibantah. Para perawat dan asisten rumah tangga melangkah pergi.

Pintu berdebam menutup. Calvin kembali sendiri. Menikmati sepi, menikmati rasa sakit di hatinya. Bayangan Rossie dan Reinhard berkelebat di benaknya. Rossie tidak pernah mencintainya. Sampai kapan pun, ia hanya mencintai Reinhard. Calvin sama sekali tidak mendapat tempat di hatinya.

Kenyataan ini sangat menyakitkan. Perlahan-lahan, Calvin bangkit dari tempat tidurnya. Berjalan tertatih menuju grand piano di seberang ruangan. Pria tampan berdarah Tionghoa itu memainkan piano, lalu mulai bernyanyi.

Ada cinta yang sejati

Ada sayang yang abadi

Walau kau masih memikirkannya

Aku masih berharap

Kau milikku

Suara bassnya sedikit bergetar. Nyanyian pilu yang terlantun dari hati yang terluka. Mata sipitnya yang bening meneduhkan, setengah terpejam. Membayangkan wajah Rossie. Senyumnya, tatapan matanya, raut wajahnya, rambut panjangnya, caranya mengucapkan huruf "R" yang sangat lucu, ekspresinya ketika merajuk, bekas air mata di wajahnya saat ia menangis, dan sikap manjanya.

Tak tahukah Rossie bahwa Calvin mencintainya? Calvin mencintai Rossie. Sangat mencintainya. Rossie ibarat kelopak bunga yang belum mekar: indah, namun belum tersingkap sepenuhnya. Masih ada keindahan lain yang tersembunyi. Calvin bertekad menjaga kelopak bunga itu hingga mekar sempurna.

Sejauh ku melangkah

Hatiku kamu

Sejauh aku pergi

Rinduku kamu

Masihkah hatimu aku

Meski ada hati yang lain

Saat menyanyikan bagian ini, getaran kesedihan tertangkap kuat. Calvin teringat foto-foto itu. Dirinya merindu Rossie, namun Rossie tidak pernah merindukannya. Hatinya jatuh dan mencinta pada Rossie, tapi Rossie tak pernah cinta padanya. Rossie justru memilih laki-laki lain.

Baru sehari pernikahan mereka, Rossie telah menodainya. Membiaskan keterpaksaannya menikah dengan Calvin. Status tak menghalanginya untuk mendua. Rupanya hati Rika Rosiana bukan untuk Calvin Wan.

Ada cinta yang sejati

Ada sayang yang abadi

Walau kau masih memikirkannya

Aku masih berharap kau milikku

Rossie milik Calvin. Hanya di atas kertas. Hanya status. Kenyataannya, hati Rossie untuk Reinhard.

Calvin memang tak sempurna. Namun cintanya pada Rossie lebih dari sempurna. Di mata Calvin, cinta sejati tidaklah menuntut. Cinta sejati itu memberi. Cinta sejati takkan mengharap balasan atas apa yang diberikannya.

Tak mengapa bila Rossie tidak membalas cintanya. Tak mengapa bila Rossie menghabiskan sepanjang hidupnya untuk membenci, menolak, dan tidak mempercayai Calvin. Sungguh tak apa-apa. Calvin ikhlas.

Andai harus terpisahkan

Mungkin inilah takdir cintaku

Kristal bening jatuh dari sepasang mata sipitnya. Pada saat bersamaan, setetes darah segar menjatuhi tuts piano. Sakit yang sama, datang lagi. Air mata jatuh bersamaan dengan darah. Pertanda sakit, sakit yang luar biasa.

Bernafas berat, Calvin bertekad meneruskan lagunya. Ia tak boleh menyerah. Sudah hampir selesai. Lagu ini untuk istri cantiknya, wanita permata hatinya. Wanita yang ia cintai sepenuh hati.

Ada cinta yang sejati

Ada sayang yang abadi

Walau kau masih memikirkannya

Aku masih berharap

Walau kau masih memikirkannya

Aku masih berharap kau milikku

Masih berharap kau untukku (Isyana Sarasvati-Masih Berharap ost Ayat-Ayat Cinta 2).

Lagu itu usai. Sudah, cukup sudah. Gerakan tangan Calvin semakin lemah. Ia tak punya kekuatan lagi. Sakit di hatinya, sakit pula raganya.

**     

Diambilnya tissue, lalu dia bersihkan bekas darah di wajahnya. Tak ingin bertemu istrinya dengan wajah pucat dan sedih. Kata perawatnya, Rossie sudah pulang. Trakhir dibuangnya helaian-helaian tissue bernoda darah. Sebaiknya Rossie tak perlu tahu.

Memastikan semuanya telah rapi, Calvin bergegas turun ke lantai bawah. Tersenyum menawan pada istrinya. Melingkarkan lengan ke pinggang Rossie, memeluknya mesra. Rossie dingin-dingin saja. Tak mau membalas pelukan Calvin.

"How is your day?" Calvin bertanya lembut.

"Normal. Hanya sedikit macet," Rossie menyahut datar.

"I see."

Rossie menatap Calvin tajam. Mencurigai adanya maksud lain dalam sorot mata dan ucapan lembutnya.

"Kamu memang sakit atau pura-pura saja? Hari ini, kamu tetap produktif menulis artikel. Tulisanmu tentang perubahan algoritme newsfeed di Facebook itu..."

"Aku menulis untuk melawan rasa sakit, Rossie." sela Calvin sabar.

Rossie mengangkat alisnya. Membelalakkan mata, lalu melepas kasar pelukan Calvin.

"Memangnya aku percaya? Tidak! Pasti kamu hanya pura-pura sakit! Awas kamu, kuadukan pada Adica!"

Diperlakukan begitu kasar, Calvin tetap tersenyum. Tenang, sabar, lembut. Sama sekali tidak marah. Rossie tak tahu jika suami super tampannya benar-benar sakit.

"Rossie, kamu sudah shalat?" Calvin bertanya sehalus mungkin, satu tangannya membelai lembut rambut panjang wanita kelahiran 3 Juli itu.

"Buat apa mengingatkanku shalat? Tentu aku selalu melakukannya tepat waktu! Memangnya aku ini Muslim yang setengah-setengah?" balas Rossie ketus.

Kontras sekali. Ketika Reinhard yang mengingatkannya untuk shalat, Rossie menjawabnya dengan cara positif. Sedangkan saat suaminya sendiri yang mengingatkan, justru dibalas dengan dingin olehnya.

"Tunggu aku di sini. Aku ingin bicara denganmu." Rossie berkata tegas.

"Iya, Rossie. Aku menunggumu." Calvin mengenyakkan tubuh di sofa, mengawasi sosok cantik dan semampai wanitanya menghilang di kaki tangga.

Setengah jam berselang, Rossie turun lagi. Kali ini sudah berganti pakaian. Tubuhnya terlihat lebih segar. Wangi Escada the Moon Sparkel menyertai kehadirannya. Calvin menatap tak puas-puas wanita jelita di hadapannya. Ingin rasanya ia peluk wanita itu lagi. Namun ditahannya keinginan itu, tak ingin membuat Rossie jengah.

"Apa yang ingin kamu bicarakan, Rossie Sayang?" Calvin memulai ketika Rossie duduk di sampingnya.

"Jangan harap aku akan betah tinggal di rumah sebesar ini hanya dengan pria tak laku dan tak tahu diri sepertimu." tukas Rossie to the point.

Sudah ia duga. Inilah risiko. Risiko atas keputusan yang diambilnya. Calvin memutuskan hidup bersama Rossie, maka inilah salah satu risikonya. Menjalani saja, itulah kuncinya.

"Iya, Rossie. Suamimu ini memang tidak laku...tidak tahu diri. Kenyataan...tapi, pria tidak laku ini beruntung bisa mengenal wanita secantik dan sebaik dirimu." ungkap Calvin tulus.

"Tidak usah memuji! Aku tidak percaya, bahwa pujian itu tulus!" sergah Rossie tersinggung.

Calvin berkata menyabarkan. "Itu bukan pujian, Rossie. Tapi kenyataan. Kamu cantik, kamu baik, saleh, dan istimewa. Kamu wanita baik yang mau dinikahi pria infertil dan tidak laku, juga tidak tahu diri, seperti Calvin Wan."

Rossie menghempas nafas kesal. Makin tak sabar mendengar dan melihat sikap super lembut suaminya.

"Ah sudahlah! Dari awal, kita sudah sepakat untuk tidur terpisah kan? Bisnis kita urus bersama-sama, tapi jangan harap kamu bisa mendapat cintaku!"

Kalimat terakhir tajam menusuk perasaan. Calvin mengangguk lemah. Rossie kembali melanjutkan.

"Aku tidak mau tinggal berdua saja di sini denganmu. So, aku ingin..."

Jeda sejenak. Sepasang mata sipit Calvin bertemu sepasang mata hazel Rossie. Menantinya, dengan sabar.

"...Kita gunakan rumah ini untuk bisnis dayCare."

"DayCare?" ulang Calvin.

"Iya. Kenapa? Kamu keberatan? Kalau keberatan, ya sudah. Kita cerai saja."

"Bukan, bukan. Sama sekali bukan...mengapa harus dayCare? Kalau kamu ingin punya anak, kalau kamu ingin merasakan bagaimana mengurus anak, kita bisa adopsi."

Rossie tertawa sinis. "Sekalian saja rumah ini jadi panti asuhan. Kan aku bilang, aku tidak hanya ingin tinggal berdua dengan pria seperti kamu di rumah seluas ini. Aku ingin rumah kita ramai dipenuhi anak-anak. Rumah kita selalu diisi tawa ceria banyak anak. Kalau kita buka kindergarten, anak-anak takkan full time stay di sini. Sebaliknya, kalau kita buka dayCare, rumah kita akan ramai oleh anak-anak sepanjang hari. Itu yang kuinginkan."

"I see. Jika itu yang kamu inginkan, aku setuju. Apa pun akan kulakukan asal kamu bahagia, Rossie."

"Bagus. Kita tak usah mengambil keuntungan dari bisnis ini. Anggap saja sebagai project sosial. Toh lini bisnis kita sudah banyak."

Calvin mengerti arah pemikiran istrinya. Ide menarik dan brilian. Menjadikan rumah mereka sebagai dayCare. Socialpreneur, profitnya bukan uang. Tetapi pahala berlimpah dari Allah.

"Iya, Rossie. Bagaimana kalau profit dari bisnis dayCare kita sumbangkan ke yayasan anak-anak penderita kanker?" usul Calvin.

"Good idea. Ternyata pemikiran kita sama." Rossie tersenyum. Senyuman tipis, sangat tipis. Namun senyuman itu untuk Calvin. Hanya untuknya.

Hati Calvin terasa hangat. Hari ini ia bisa membuat Rossie tersenyum. Tak masalah bila Rossie menyakitinya, menekan perasaannya, mengungkit kekurangannya. Asalkan Rossie bahagia. Apa pun akan Calvin lakukan demi membahagiakan Rossie.

**      

Tengah malam, Rossie merasakan seseorang memeluknya. Ia tak bergerak dari posisinya. Merasakan wangi Blue Seduction Antonio Banderas merasuk lembut penciumannya. Sedetik kemudian ada yang berbisik di telinganya.

"Rika Rosiana...aku mencintaimu. Bagaimana pun kamu memperlakukanku, bagaimana pun kamu menyakitiku, aku akan selalu di sini...untuk mencintaimu. Selama aku masih bisa, aku akan selalu memperhatikanmu."

Kata-kata itu dapat didengarnya dengan jelas. Ya Allah, apakah ia bermimpi? Calvin yang memeluknya, membisikkan kata-kata cinta. Membisikkan janji untuk memperhatikannya. Dikiranya Rossie sudah terlelap. Calvin berlutut di sisi ranjang dan memeluk istri cantiknya begitu erat.

"Aku percaya. Cinta sejati itu tidak menuntut, justru memberi."

Mau tak mau hati Rossie bergetar. Mendengar Calvin mengatakan hal itu, perasaannya tak menentu. Tanpa sadar, kedua pipinya telah basah.

**       

https://www.youtube.com/watch?v=fp0hIhv_3Oo