Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Psikolove, Akhirnya Ku Menemukanmu (11)

12 Januari 2018   06:35 Diperbarui: 12 Januari 2018   08:27 1366 33 16

Dear diary,

Calvin datang ke kantorku dengan wajah pucat. Katanya, dia dipaksa Papanya kembali ke perusahaan. Aku tahu siapa Calvin Wan. Bila dia sudah mengatakan sesuatu, maka ia takkan menarik kata-katanya lagi. Sejak awal, Calvin sudah mengatakan ia mengundurkan diri dari perusahaan keluarga. Ia tak akan menarik lagi perkataannya.

Sayangnya, Papanya terus membujuk agar dia kembali. Kupikir-pikir Papanya terlalu keras. Suka memaksakan kehendak pada anaknya. Hanya karena Calvin anak pertama, apakah semua tanggung jawab harus diserahkan padanya? Bukankah sudah ada Adica?

Oh iya. Tadi pagi, Adica mengirimiku bunga. Berkeras minta balikan. Wow...it's not easy. Aku sudah tak mencintainya, Diary. Kukatakan berkali-kali, carilah wanita yang lebih baik. Namun Adica tak bergeming. Tetap saja ia menginginkan diriku lagi.

Diary, mungkin Adica sudah tahu alasanku memutuskan hubungan dengannya. Aneh kalau dia tak tahu alasannya. Satu hal yang kukhawatirkan: marahkah Adica pada Ccalvin? Aku takut Calvin terluka.

Clara menutup diarynya. Meletakkan pulpennya. Wajah Calvin kembali terbayang. Seraut wajah pucat yang tetap tampan. Teringat pula sesi konselingnya.

Sulit, sangat sulit. Calvin terdesak dengan kemauan Papanya. Bukannya kembali ke perusahaan keluarga, ia malah membuka usaha sendiri. Menekuni bisnis saham. Bidang usaha yang sangat berbeda dengan perusahaan keluarga yang dikelolanya selama ini.

Separuh waktu sesi konseling, Calvin nampak putus asa. Tak tahu bagaimana menghadapi sang Papa. Clara mencoba dan terus mencoba. Syukurlah hasilnya tidak terlalu buruk. Calvin meninggalkan kantornya dengan raut wajah lebih ceria. Tak sepucat tadi.

Tugasnya menyembuhkan klien istimewa ia lakukan sepenuh hati. Clara mengobati Calvvin, dengan penuh cinta. Psikolog cantik yang kini sedang jatuh cinta pada klien istimewanya.

Mengingat hal itu, jantung Clara berdegup lebih cepat. Buru-buru diliriknya jam tangan. Time to lunch, pikirnya. Dibukanya lunchbox. Clara jarang makan siang di luar. Ia lebih suka membawa bekal dari rumah. Gengsi? Buat apa? Toh makanan rumahan jauh lebih sehat dibanding makanan di luar. Paling tidak, sudah terjamin kebersihannya. Higienis, halal, dan lezat.

Seperti biasa, Clara menikmati makan siangnya sendirian. Ayam saus lemon itu dilahapnya pelan-pelan. Ini bekal makan siang buatan Sarah. Clara tak pandai memasak. Kakak sulungnyalah yang mahir melakukan itu.

Sebentar lagi Clara tak bisa lagi menikmati lezatnya masakan Sarah. Kurang lebih tujuh bulan ke depan, Sarah akan menikah. Ia dilamar seorang enginer berdarah campuran Jawa-Melayu-India. Sarah beruntung. Bisa menikahi pria berdarah keturunan non-pri. Gen anak-anaknya kelak akan bagus. Memang lebih mudah untuk mencintai orang yang mirip satu sama lain.

Ironis. Sarah akan menikah, Clara malah putus dengan Adica. Silvi dan Calvin masih tak jelas status perasaannya. Calvin pun alasan utama Clara walk out dari Adica. Sang kakak tengah menyemai bunga-bunga cinta, kedua adiknya malah patah hati. Keadaan terbalik. Betul-betul terbalik.

Pintu kantornya diketuk. Kotak bekalnya baru tersentuh setengahnya. Clara beranjak membukakan pintu. Intan berdiri di ambangnya, lalu memeluk Clara. Mencium pipinya, lalu mencubit pipi chubby wanita Aries itu.

"Hei...mau datang kok nggak bilang dulu sih?" Clara menyapa ramah, mempersilakan sepupunya masuk.

Sang sepupu, yang telah menikah di akhir tahun lalu, melangkah masuk. Duduk di kursi besar di depan meja kerja, lalu mulai bicara.

"Aku sengaja ke sini. Mau bilang terima kasih karena kamu mau bantu pernikahanku kemarin."

Wajah Clara tetap datar. Intan tersenyum, namun Clara tak membalasnya. Ia menarik kembali senyumnya. Clara memang sulit ditebak.

"Aku tidak butuh terima kasih," kata Clara setelah terdiam sejenak.

"Ya sudahlah. Yang penting aku sudah bilang. Tanpa bantuanmu, aku akan kesulitan menutupi biaya pernikahanku..."

"Harusnya kamu berterima kasih pada Silvi." sela Clara.

Kerutan kecil muncul di keningnya. Intan memandang Clara tak mengerti.

"Silvi? Mengapa aku harus berterima kasih padanya?"

"Karena di sana ada bantuan Silvi juga."

Mendengar itu, Intan tertawa. Ada nada meremehkan di sana. Clara memandangnya sinis.

"Silvi, adikmu itu? Dia tidak bisa apa-apa. Memangnya, dia bisa bantu apa?"

Sorot mata Clara makin berbahaya. Sementara Intan meneruskan ucapannya.

"Adikmu itu anak manja, Clara. Hanya anak kecil yang masih sering kaukuncirkan rambutnya. Tipe mahasiswi labil yang hanya bisa menyusahkan orang tua. Pasti dia mengaku-ngaku itu uang pribadinya, padahal itu uang orang tua kalian yang berlebih. Kamu mau saja ditipu..."

"Stop it! Beraninya kamu menghina Silvi! Kamu tidak tahu apa-apa!" bentak Clara marah.

Wanita penyuka hamster, kucing, dan kelinci itu bangkit dengan cepat. Tanpa sadar melempar lunchboxnya. Isinya berhamburan. Intan ketakutan. Tak menyangka Clara semarah itu gegara dirinya mengata-ngatai Silvi.

"Adik kecilku itu spesial! Kamu tidak tahu apa-apa tentang dia! Asal kamu tahu saja ya, dia paling muda dari kita tapi dia beberapa langkah lebih maju darimu!"

Nyata sekali Clara tersinggung. Adik cantiknya dihina, ditertawakan, dan direndahkan. Dia tak terima.

"Aku sangat menyayangi Silvi! Tadi kamu bilang, adikku anak manja yang masih sering kukuncirkan rambutnya! Terus kenapa? Toh aku suka menguncirkan rambut Silvi! Ya biar saja kumanjakan dia dengan caraku! Apa pun akan kulakukan untuk membuatnya bahagia! Termasuk bila aku harus melepas Calvin..."

Celaka, Clara keceplosan. Ia tak sadar telah menyebut nama klien istimewanya. Calvin Wan, pemilik nama dan wajah itu berkelebat di pelupuk mata.

"Calvin? Siapa itu?" tanya Intan tertarik. Ia tak lagi merasa takut. Naluri gosipnya bangkit. Selama ini, Clara sangat tertutup soal love and relationship. Berbeda dengan Sarah yang sedikit lebih terbuka. Silvi pun sama saja: tertutup.

"Ah sudahlah! Lebih baik kamu pergi! Aku sibuk!" usir Clara.

Begitu Intan menginjakkan kaki di luar ruangan, Clara membanting pintu tepat di depan mukanya. Kesal dan sakit hatinya. Selera makannya hilang. Belum sempat ia duduk kembali, pintu ruangannya kembali diketuk seseorang. Ketukannya halus berirama.

"Kalau ada yang datang ke sini hanya untuk menghina adikku, lebih baik pergi saja sana!" Clara meneriaki si pengetuk pintu.

Terdengar seseorang tertawa tertahan. Sedetik kemudian pintu terbuka, dan masuklah sesosok gadis tinggi semampai berambut hitam dan berkulit putih.

"Hai Chinese," Ia melempar senyum, menatap heran kekacauan kecil di lantai tepat di bawah kakinya.

"Raissa? Raissa Haryati Ivanov?"

Tanpa membuang waktu lagi, Clara berlari ke pelukan sahabat lamanya. Memeluknya erat-erat. Gadis berdarah campuran Jawa-Rusia itu balas memeluk Clara. Keduanya saling melepas rindu.

"Kapan sampai di Indo?" tanya Clara cerah.

"Tadi pagi. Aku pulang sebentar ke rumah. Taruh barang-barang, ketemu Mama, terus keluar lagi. Biasa, nyobain Indonesian food. Kangen..."

"Sampai kapan kamu di sini?"

"Sampai tahun depan."

Kedua mata Clara membulat tak percaya. "What? Serius?"

"Serius kok. Aku ke sini buat penelitian sambil luangkan waktu lebih banyak buat Mama. Kasihan Mama di sini sendirian."

"Yes yes yes! Panjang umur! Kebetulan aku baru mau bilang sama kamu! Aku mau undang kamu ke pernikahan Sarah. Nanti kamu datang ya?"

Sejak kecil, Clara dan Raissa bersahabat dekat. Pertama kali mereka berkenalan sewaktu di sekolah internasional. Saat itu, Raissa belum lancar berbahasa Indonesia. Murid-murid di sekolah internasional cukup beragam. Ada yang orang asli Indonesia, keturunan Tionghoa, Arab, India, Turki, Filipina, Maroko, Mesir, dan Indo-Eropa. Raissa satu kelas dengan Clara. Awalnya ia kebingungan dari mana asal teman baiknya itu. Ia yang tak fasih Bahasa Indonesia, juga tak paham orang Indonesia dan orang Indonesia berdarah campuran, malah mengira Clara keturunan China. Maka ia memanggil Clara dengan sebutan Chinese. Kini, setelah tahu siapa Clara, panggilan masa kecil itu pun tetap ia gunakan. Anggap saja sebagai panggilan sayang. Sekalipun Clara sudah melakukan sesuatu pada wajah dan kulitnya.

"Oh...jadi, kamu dan Silvi boleh undang dua-tiga orang yang paling spesial buat kalian? Trus, satunya lagi siapa dong?" tanya Raissa ingin tahu.

"Hmm....honestly, aku ingin mengundang Calvin."

Raissa terdiam. Sempurna terdiam. Ditatapnya mata Clara dalam-dalam. Ia tahu persis, sahabatnya itu benar-benar sedang jatuh cinta.

**      

Oh Tuhan

Tolong aku sampaikan

Pesan ini padanya

Agar dia tahu

Bahwa kini aku jatuh cinta

Oh Tuhan

Bantu aku temukan

Cara tuk mendapatkan dia

Karena kini

Ku telah jatuh cinta (Afgan-Pesan Cinta).

**     

"Sudahlah, hentikan saja. Jangan jodohkan aku dengan Mas Cinta." Silvi setengah memohon, nampaknya lelah.

"Iya, Silvi."

Gadis cantik bergaun hitam dan pria tampan berjas dengan warna senada itu melangkah bertautan tangan. Menyusuri koridor menuju lift. Orang-orang yang berpapasan dengan mereka melempar pandang aneh. Penasaran bercampur iri. Calvin dan Silvi memang serasi.

Pintu lift berdenting terbuka. Silvi menggenggam erat tangan Calvin. Saat itu, mereka hanya berdua di dalam lift. Sesuatu menggelitik hatinya. Diam-diam Silvi berharap, liftnya mati dan dirinya akan terjebak bersama Calvin di dalam sini. Dirinya tak keberatan terjebak di dalam lift bersama pria setampan Calvin Wan. Dengan begitu, ia bisa lebih lama lagi menikmati ketampanan pria oriental itu.

"Calvin?"

"Ya?"

Getaran aneh merayapi hati Silvi. Debar di jantungnya membuatnya kesulitan mengungkapkan sesuatu. Calvin menunggu dengan sabar.

"Maukah...maukah kamu datang ke pernikahan Sarah tujuh bulan lagi?"

Sudah, selesai sudah. Tersampaikanlah apa yang ingin Silvi sampaikan. Hatinya lega luar biasa. Akhirnya, setelah berhari-hari mengumpulkan keberanian, ia bisa menyampaikan undangan tak langsung itu pada pria pujaan hatinya.

"Dimana acaranya? Kapan tanggal pastinya?" tanya Calvin.

"Nah itu...keluarga besar masih memikirkan tanggal pernikahannya. Yang jelas acaranya tidak di sini. Mereka masih memilih-milih hotel, menentukan kota yang tepat untuk berkumpul bersama dan memungkinkan bagi keluarga, dan mempertimbangkan banyak hal." jawab Silvi setenang mungkin.

"I see. Lihat nanti ya. Bisa memungkinkan atau tidak." kata Calvin, tersenyum menawan.

Speechless, Silvi terpana melihat senyuman seindah itu. Blogger super tampan dan mantan penyanyi cilik itu sukses membuat aliran darahnya mengalir deras. Mengapa bila memikirkan Calvin, hatinya selalu bergetar? Mengapa ia tergerak memilih nama Calvin Wan dalam list undangan terbatas itu?

"Calvin, aku...aku tidak tahu mengapa memilihmu. Keluargaku demokratis. Meski ini acaranya Sarah, tapi aku dan Clara boleh mengundang orang-orang yang kami anggap spesial. Saat mereka tanya siapa yang ingin kuundang, aku jawab aku ingin mengundangmu. Hatiku bergerak, bergetar, dan membisikkan namamu." Silvi mengungkapkan perasaannya.

Membelai lembut rambut Silvi, Calvin berkata. "Terima kasih, suatu kehormatan. Tetapi, selama tanggal dan tempatnya belum pasti, aku berani berjanji."

"Ok. Kuharap kamu bisa datang. Aku benar-benar menginginkan dirimu saat pesta pernikahan itu, Calvin."

Mata biru Silvi bertemu mata sipit Calvin. Genggaman tangan mereka bertambah erat. Lalu tiba-tiba...lift berguncang hebat. Detik berikutnya, diam. Diam tak bergerak. Hati Silvi bersorak kegirangan. Harapannya terkabul. Liftnya macet. Ia terjebak di lift berdua dengan Calvin.

**      

https://www.youtube.com/watch?v=WBFDzjypi5o