Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Wanita highlight

Hijab, Paksaan atau Pilihan?

6 Agustus 2017   06:12 Diperbarui: 6 Agustus 2017   07:15 1320 25 24

Hijab, sesuatu yang sudah tidak asing lagi bagi wanita Muslimah. Ada pula yang menyebutnya kerudung, jilbab, pakaian tertutup, atau apa pun itu. Namun saya lebih nyaman menyebut kata hijab. Terdengar lebih indah dan enak diucapkan.

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat tersebut merupakan ayat ke-59 dari Surah Al Ahzab. Sering kali ayat ini digunakan sebagai dalil untuk mewajibkan wanita Muslimah berhijab.

Nah, kita lihat dulu asbabun nuzul (penyebab turunnya ayat) tersebut. Ibnu Sa'ad dalam kitabnya, at-Thabaqaat meriwayatkan, saat itu istri-istri Rasulullah sering diganggu orang fasik saat mereka keluar rumah. Mereka melaporkan kejadian itu pada Rasulullah. Nabi menegur orang-orang fasik itu. Kata mereka, hanya wanita budak yang mereka ganggu. Lalu turunlah ayat itu. Perintah untuk menggunakan hijab. Sejak memakai hijab, istri-istri Rasulullah dan wanita mukmin tak lagi diganggu. Hijab menjadi identitas dan pemberi rasa aman bagi wanita Mukmin yang merdeka.

Yang merdeka? Bagaimana dengan wanita Muslimah yang masih menjadi budak? Di masa kekhalifannya, Umar melarang budak memakai hijab. Hijab hanya untuk wanita Muslimah yang merdeka. Praktis, budak yang beragama Islam sekali pun tidak boleh memakai hijab. Aurat mereka sama dengan aurat pria: dari pusar sampai bawah lutut.

Masalah hijab masih menjadi pertentangan para ulama. Jangankan hijab, aurat pun antara pendapat ulama satu dengan yang lainnya tak sama.

Itulah ulasan hijab dari sisi teologisnya. Singkat saja. Sekarang kita fokus membahas hijab dari sisi psikologis wanita Muslimah.

Saya ingin sedikit bercerita dan mengakui satu hal. Terserah apa pun penilaian pembaca pada saya setelah ini. Beberapa tahun lalu, saya pernah berhijab. Tapi hanya bertahan kurang lebih setahun. Setelah itu, saya memutuskan lepas hijab.

Pengakuan ini baru berani saya ungkapkan setelah beberapa tahun berlalu. Saya tak peduli apakah setelah ini saya akan di-judge negatif, dianggap wanita tidak benar, tidak punya prinsip, wanita penggoda, atau semacamnya. Stay cool, itulah yang akan saya lakukan. Namun bagi orang-orang dekat dan memahami saya, mudah-mudahan kalian mengerti dan percaya: saya melepas hijab dengan alasan yang kuat. Terserah kalian akan berhenti menyayangi saya, atau berhenti mempercayai saya setelah membaca tulisan ini.

Berhijab itu tidak mudah. Ratusan kali saya memikirkannya sebelum memutuskan untuk berhijab. Pertama kali terbersit niat untuk berhijab adalah ketika melihat beberapa teman saya mengenakannya. Cantik dan anggun sekali. Aura mereka terpancar begitu kuatnya. Hati saya tergerak untuk mengenakan hijab pula.

Akhirnya, saya pun berhijab. Teman-teman merasa senang dan memberi selamat. Salah seorang kakak kelas bahkan meminta saya untuk tidak lepas hijab lagi. Tiga tahun berlalu, dan saya masih ingat ucapannya itu. Saya masih sering sedih dan bersalah tiap kali mengingatnya.

Awalnya, saya menikmati masa-masa indah berhijab. Bahkan saya mulai mengenakan hijab yang modis. Bagi saya, berhijab yes, modis yes. Jangan sampai selera fashion hilang hanya karena hijab.

Namun, lama-kelamaan saya merasa ada yang salah. Saya mulai tidak nyaman. Pergulatan batin melanda diri saya. Rasanya hijab ini bukan pilihan terbaik. Saya mulai gelisah dan tidak nyaman dengan hijab yang saya pakai. Saya kehilangan diri saya saat berhijab. Bukannya ketenangan yang didapat, saya malah resah dan gelisah.

Mulailah saya pertimbangkan untuk lepas hijab. Di sini, orang tua dan keluarga tidak ikut campur. Mereka tahu, saya tidak suka dilarang atau dihalangi saat akan melakukan sesuatu. Mereka pun menerima keputusan final saya. Praktis saya tidak melibatkan mereka dalam urusan ini. Cukup diri saya sendiri yang memikirkan, mempertimbangkan, dan memutuskan.

Setelah melewati perenungan panjang di masa liburan, akhirnya saya putuskan untuk tidak lagi memakai hijab. Keputusan ini saya buat sendiri, tanpa campur tangan siapa pun. Bahkan teman-teman terdekat saya tak tahu. Alasannya sederhana: ketidaksiapan dan adanya beban.

Setelah melepas hijab, saya kembali menemukan diri saya yang hilang. Rasanya hati menjadi tenang. Tak ada lagi beban. Bahkan saya bisa beribadah lebih baik lagi. Shalat, membaca Al-quran, dan memperdalam ilmu agama. Berkebalikan dengan kisah kesaksian orang-orang yang berhijab. Hati mereka baru terasa tenang setelah hijab menutup rambut dan tubuh mereka. Justru saya mendapat ketenangan dan kekhusyukan beribadah setelah lepas hijab. Aneh, misterius, dan tak terkira.

Teman-teman dekat mengerti dan menghormati keputusan saya. Begitu pula keluarga. Mereka tidak mempermasalahkan. Anehnya, beberapa tahun sebelumnya sepupu saya sempat lepas hijab. Langsung saja ia diprotes Auntie-nya yang alim dan bercadar. Sedangkan saya? Sama sekali tak dikomentari dan tetap diperlakukan dengan hangat serta penuh kasih sayang.

Satu-dua orang bertanya. Saya tersenyum saja tanpa menjawab. Sulit untuk menjelaskan pada mereka. Mau protes silakan saja. So what? Toh ini hidup saya. Mereka takkan dirugikan jika saya lepas hijab. Memangnya saya minta mereka menanggung risikonya? Tidak, kan? Mau protes dan mencaci-maki sekeras apa pun, takkan saya dengar. Saya hanya akan mendengarkan orang-orang yang saya percayai, cintai, dan sayangi. Selebihnya, saya tak peduli ucapan orang lain menyangkut diri saya.

Itu hanya satu-dua orang. Selebihnya, tak ada lagi yang bertanya. Mungkin mereka takut cari gara-gara dengan saya. Takut saya tidak mau membantu mereka lagi dalam urusan akademik, relasi dengan lawan jenis, motivasi, atau hypnotherapy. Sungguh, saya bukan bermaksud sombong atau bersikap seenaknya. Memang begitu kenyataannya.

Lingkungan universitas tempat saya melanjutkan studi bernuansa Islami. Saya berteman dengan beberapa akhwat berhijab yang telah memutuskan untuk berhijrah. So far, mereka memahami saya. Mereka tidak mempermasalahkan style berpakaian saya yang berbeda dari mereka.

Sepupu-sepupu saya yang perempuan berhijab. Saat saya bersama mereka, itu pun tak masalah. Saya malah senang karena bisa tampil beda dan lebih stylish. Toh saya senang tampil beda dari pada yang lain. Tampil sama dan mengikuti orang lain hanya akan membuat diri kita terlihat biasa-biasa saja dan sulit dikenali.

Lucunya, saya sering dikira non-Muslim karena tak berhijab. Bahkan tahun lalu saya pernah menerima ucapan selamat saat tiba hari raya agama lain. Biarlah mereka penasaran. Saya senang membuat orang lain penasaran.

Saya juga mempunyai pengalaman pahit dengan tiga orang akhwat berhijab. Tidak semua wanita yang anggun berhijab itu baik. Beberapa di antara mereka pernah menyalahgunakan kepercayaan saya. Ingkar janji, membocorkan rahasia saya, menusuk saya dari belakang, memanfaatkan kebaikan lalu pergi meninggalkan saya, dan mengeluarkan saya dari tim padahal saya telah mengerjakan semua tugas mereka. 

Saya jadi paranoid dan tak terlalu percaya lagi pada hijab. Tak semua yang tersimpan di balik hijab itu baik. Bisa saja luarnya alim dan tertutup rapat, namun dalamnya fake dan punya niat jahat. Buat apa tubuh berhijab tapi hati tidak berhijab? Maaf bila saya terlalu to the point dan berterus terang. Maaf bila keterusterangan saya menyakiti hati pembaca.

Sekarang hati saya lega. Saya telah mengakuinya. Silakan pembaca mau menilai apa pada diri saya. Bagi mereka yang benar-benar peduli dan mengerti saya, mereka takkan meninggalkan saya. Sekali lagi, penilaian akhir kembali ke tangan kalian.

Cerita di atas menggambarkan sulitnya berhijab bagi wanita. Ya, hijab memang tak semudah dan seindah tampilannya. Ada berbagai konsekuensi saat seorang wanita memutuskan untuk berhijab. Bukan hanya aurat yang dijaga rapat-rapat, sikap dan tingkah laku mereka pun mesti dijaga. Jangan sampai tampil anggun dengan hijab, tapi hati dan akhlak jauh dari kesan yang baik. Penampilan kita boleh di-upgrade dengan hijab yang cantik. Tapi jangan lupa memperindah hati dan akhlak kita.

Sebenarnya, apa alasan wanita untuk memakai hijab? Banyak sekali alasannya.

Murni menjalankan syariat Islam

Ini alasan ideal dan paling baik. Semata demi mencari ridha Allah. Ingin berhijrah dan menaati perintah Allah. Motivasi untuk berhijab datang dari diri sendiri. Tanpa paksaan atau campur tangan pihak lain.

Menjaga diri

Hijab bisa menjadi pelindung dan pemberi rasa aman. Wanita seksi dengan pakaian terbuka yang memperlihatkan body-nya mudah dilirik, tapi mudah juga diganggu. Sedangkan wanita berpakaian tertutup, apa lagi berhijab, lebih kecil kemungkinannya untuk diganggu. Terkadang wanita mencari rasa aman dengan hijab. Dengan begitu, mereka tak perlu takut digoda atau diganggu.

Pelarian

Nah, inilah alasan yang paling tidak masuk akal. Seorang wanita berhijab demi pelarian. Misalnya karena patah hati, mengalami kebotakan akibat kemoterapi, atau malu dengan penampilannya. Dulu saya patah hati di tengah proses berhijab. Sekarang saya patah hati lagi, namun tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Jangan sampai kita berhijab hanya karena pelarian. Apa pun yang kita lakukan, tidak akan baik kalau motifnya pelarian. Percayalah, sudah pernah saya rasakan sendiri. Bila patah hati, jangan buru-buru memutuskan untuk berhijab. Demi pelampiasan, atau demi pencitraan di depan mantan. Pura-pura berhijrah padahal hati masih diliputi dendam membara. Ada banyak cara untuk menghadapi patah hati dengan elegan. Bila berhijab untuk menyembunyikan penampilan, pikirkan ulang keputusan kita. Jangan paksakan saat hati belum siap. Selagi masih ada cara lain untuk menutupi penampilan yang kurang oke, gunakan saja cara lain. Dari pada harus berhijab tapi hati belum siap.

Dipengaruhi orang lain

"Tiwi...kamu cantik banget ya kalo berhijab."

"Berhijab dong kayak aku. Nanti banyak yang deketin buat ta'aruf lho."

Sering kali pujian dan rayuan orang lain mempengaruhi kita. Demi mendapat pujian, kita rela mengubah penampilan. Hijab sudah ada kaitannya dengan agama. Jika ingin berhijab, lakukan dengan kesadaran sendiri. Teman kita berhijab, jangan ikut-ikutan kalau kita tak siap. Saat ini hijab sudah menjadi trend fashion. Ingatlah, hijab bukan lifestyle. Hijab berkaitan dengan spiritualitas. Hijab bukanlah ajang gaya-gayaan dan tebar pesona. Jangan harap setelah berhijab kita akan disukai banyak pria. Jodoh sudah diatur oleh Allah. Bukankah tiap manusia diciptakan berpasang-pasangan? Berhijab atau tidak, jodoh kita sudah ada ketentuannya siapa dan kapan datangnya.

Berhijab karena cinta

"Sayang...aku mau nikah sama kamu. Tapi kamu berhijab ya?"

"Iya, Sayang. Demi kamu, apa sih yang nggak? Aku bakalan berhijab biar kamu senang."

Buat para wanita, jangan mau diatur dan dikendalikan seenaknya oleh pria. Memang status pria adalah suami, imam, dan pemimpin keluarga. Tidak berarti kita menjadi "boneka" yang mau diatur-atur dan diubah prinsipnya. Miliki prinsip yang kuat. Jangan mau berhijab hanya karena cinta. Berhijablah ketika hati kita telah siap. Berhijab karena Allah, bukan karena cinta pada manusia. Jika dia benar-benar mencintai kita, dia akan menerima kita apa adanya. Dia takkan mempermasalahkan penampilan kita, takkan memaksa atau menuntut kita berhijab.

Aturan

Beberapa universitas, sekolah, dan instansi mewajibkan anggota wanita berhijab. Kalau soal aturan, tak bisa dilawan. Kecuali bila kita siap keluar dari instansi itu. Biasanya, wanita yang belum siap berhijab hanya akan memakai hijabnya saat mengikuti kegiatan di sana. Selebihnya mereka beraktivitas di luar tanpa hijab. Aturan ini bisa menjadi beban, bisa menjadi hidayah pula. Tergantung bagaimana kita memandangnya.

Keenam alasan itulah yang menjadikan seorang wanita berhijab. Hijab adalah pilihan, bukan paksaan. Sama seperti beragama atau memeluk kepercayaan tertentu. Hijab tak bisa dipaksakan. Keputusan untuk berhijab kembali ke diri kita masing-masing.

Jika sudah siap, berhijablah. Jika belum siap, jangan paksakan. Allah melihat iman dan amal kita, bukan penampilan kita. Jangan pernah memaksakan diri sendiri dan orang lain untuk berhijab. Yang lebih utama adalah memperbaiki akhlak, memperindah hati, meningkatkan iman, dan menaikkan kualitas ibadah kita. Baik-tidaknya kualitas wanita tidak dilihat dari hijabnya, tapi dari akhlak dan kebaikan hatinya. Tidak berhijab asalkan kualitas ibadah meningkat, kepekaan sosial bertambah, dan hati terus dilembutkan. Iman sejati itu membebaskan dan tidak membebani. Jadilah diri sendiri, berhijab ataupun tidak. Karena berhijab itu pilihan.