Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Penulis Novel

Nominee best fiction Kompasiana Awards 2019. 9 September 1997. Novel, modeling, music, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama FEATURED

Siapa Bilang Anak Perempuan Tak Butuh Sosok Ayahnya?

3 Februari 2017   06:14 Diperbarui: 23 Oktober 2020   15:51 1617 38 13 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Siapa Bilang Anak Perempuan Tak Butuh Sosok Ayahnya?
Ilustrasi: sweetsharing.com

Sejak kecil, Maureen tak pernah dekat dengan ayahnya. Ia melihat ayahnya sebagai sosok yang dingin, egois, dan tertutup. Mungkin lantaran ayahnya telah lama terbiasa hidup sendiri dan terlambat menikah. Sebaliknya, Maureen sangat dekat dengan ibunya. Ia mendapat banyak pelajaran berharga dari sang ibu.

Menjelang dewasa, ia mengalami kebingungan dan kekakuan saat berinteraksi dengan pria. Ia tidak punya role model pria yang ideal itu seperti apa. Tiap kali ia menjalani hubungan dengan seorang pria, ia mengalami kegagalan. Perlindungan dan kasih sayang dari seorang pria tidak pernah ia dapatkan.

Nada dan Cinta terlahir kembar. Ibu mereka meninggal setelah melahirkan. Praktis, mereka hanya memiliki seorang ayah. Albert, ayah mereka, berhasil menjadi orang tua tunggal yang baik. Nada dan Cinta tak pernah kekurangan kasih sayang. Albert melindungi, merawat, membesarkan, dan mendidik mereka dengan penuh kasih. Ada kalanya Albert bersikap tegas. Ada saatnya pula Albert bersikap lembut. Di depan Nada dan Cinta, Albert tak pernah ragu menunjukkan sisi lembutnya. Ia bahkan tak pernah ragu memuji betapa cantiknya mereka.

Mencermati dua ilustrasi di atas, kita belajar satu hal. Anak perempuan membutuhkan sosok ayahnya. Kebutuhan akan hadirnya sosok ayah berlangsung sejak lahir hingga dewasa.

Tak sedikit pria yang kebingungan saat memiliki anak perempuan. Jika mempunyai anak laki-laki, mereka takkan terlalu bingung atau canggung. Sebab mereka sudah terbiasa berinteraksi dengan makhluk yang berjenis kelamin sama seperti mereka. Namun, bagaimana dengan anak perempuan? Bagaimana cara memperlakukan mereka?

Anak perempuan memerlukan sosok ayah dalam hidupnya. Belaian lembut dan kasih sayang seorang ayah membantu pertumbuhan fisik dan perkembangan kepribadian anak perempuan. 

Dr. Anna Sarkadi dari Departemen Kesehatan Wanita dan Anak menyampaikan, anak yang memiliki kedekatan dan kasih sayang seorang ayah memiliki kepribadian yang lebih baik. Ia cenderung terbebas dari masalah, seperti tidak merokok dan tidak berurusan dengan polisi. Anak yang dekat dengan ayahnya lebih berhasil di bidang akademik.

Dalam jangka panjang, wanita yang dekat dengan ayahnya akan mampu membina hubungan baik dengan pasangannya. Kesejahteraan mental dan fisik akan didapatkan pada umur 33 tahun jika si anak menjalin hubungan yang dekat dan harmonis dengan ayahnya sewaktu berumur 16 tahun.

Selain itu, anak perempuan perlu tahu barometer ‘pria idaman’ dan ‘pria hebat’. Hal ini berguna baginya untuk memilih dan menentukan pria seperti apa yang akan menjadi pendamping hidupnya. Bila anak perempuan dekat dengan ayahnya, ia bisa menentukan barometer ‘pria idaman’ dan ‘pria hebat’ versinya.

Ayah adalah sosok pria sempurna di matanya. Sebaliknya, anak perempuan yang jauh dengan ayahnya akan kesulitan menentukan pria ideal yang layak dijadikan pendamping hidup. Ada dua kemungkinan terburuk yang dapat terjadi: ia enggan menikah karena krisis kepercayaan pada pria, atau ia terlalu mudah mempercayai pria hingga terjadi hal di luar batas.

Setelah anak perempuan beranjak dewasa dan cukup umur untuk menikah, tugas sang ayah untuk menikahkan anak perempuan. Bila anak perempuan dekat dengan ayah, mereka akan terbantu saat memilih calon pendamping hidup. Mereka tidak akan kebingungan menentukan mana yang terbaik. Ayah akan lebih tahu dan memilihkan yang terbaik. Hal itu hanya akan terjadi bila anak perempuan dekat dengan ayahnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN