Mohon tunggu...
Lanjar Wahyudi
Lanjar Wahyudi Mohon Tunggu... Human Resources - Pemerhati SDM

Menulis itu mengalirkan gagasan untuk berbagi, itu saja. Email: lanjar.w77@gmail.com 081328214756

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

Selalu Ada Kesempatan untuk Karier Kedua Anda

26 September 2020   19:06 Diperbarui: 27 September 2020   03:46 492
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: Pixabay/Rama Krishna Karumanchi

Ketika pandemi berjalan kian lama serta orang mulai lebih peduli untuk memakai masker dan membeli sendiri sesuai kebutuhan dan selera, maka produksi masker Bu Dokter mulai dibatasi dan hanya membuat jika diperlukan saja. Menariknya hobi menjahit Bu Dokter tak berarti berhenti sampai di sini. Sebuah ide brilian muncul, untuk terus bergulir dan berkembang di tangannya. 

Nampaknya sisi entrepreneurship muncul ketika keadaan semakin memburuk, apalagi di dunia kesehatan semakin banyak nakes yang akhirnya terinfeksi virus C-19 ini. Kontak langsung dan tidak langsung kepada ratusan pasien setiap hari tentu menjadi faktor risiko yang tinggi terjadinya paparan infeksi virus C-19 di antara para tenaga kesehatan, termasuk Bu Dokter.

Rasa khawatir dibarengi rasa tanggung jawab kemanusiaan, juga rasa kasihan terhadap sesama tenaga kesehatan membuat Bu Dokter mencoba mencari solusi bagaimana memaksimalkan perlindungan terhadap paparan selama bertugas.

Dari situ munculah ide kreatif untuk membuat APD (Alat Pelindung Diri) yang lebih sesuai dengan kebutuhan di masa pandemi saat ini. Mungkin selama ini produsen APD menyediakan sesuai standar kondisi normal.

Aatau bilapun ada yang sudah berinovasi sesuai dengan tuntutan pasar mungkin masih sedikit jumlahnya sehingga harga menjadi tinggi. Biasalah kadang momentum tertentu menjadi pengungkit naiknya price list yang tak terbayangkan sebelumnya. 

Mengikuti instagram bu Dokter ini, rupanya sudah terpampang beberapa tipe APD seperti masker kain motif 3 lapis, water resistant mask, scrub atas-bawah dengan bahan yang adem, scrub dengan desain bawahan rok, jumpsuit dari bahan waterproof dan ringan, long gown, dan masih banyak lagi.

Apa yang kita pelajari dari kisah Bu Dokter ini? Saya ingin mengkaitkannya dengan 2 hal dari banyak softskill yang dituntut dalam dunia karier di korporasi, maupun di dunia entrepreneurship:

  • Emphaty. Keinginan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain dengan sepenuhnya. Ketika warga belum begitu peduli pentingnya memakai masker, tentu bisa memicu meluasnya infeksi Covid-19 di lingkungan RT.

    Ketika para Nakes tidak bisa menolak untuk mundur dari medan tugasnya melayani masyarakat, ancaman paparan Covid-19 sangat nyata, bukan hanya dirinya sendiri yang terpapar bahkan keluarga dirumah salah-salah bisa juga terpapar.

    Di satu sisi takut, di sisi lain harus terus maju, maka solusinya adalah memakai APD yang baik dan tepat sesuai risiko yang saat ini terjadi. Tidak mungkin hanya mengeluh atau menyuarakan kepada pihak lain, sebab semuanya sedang sibuk bergulat dengan masalah yang sama, atau mungkin juga mereka tidak peduli.

    Maka solusinya adalah bikin sendiri, ciptakan sendiri. Empati membawa semangat memulai hal baru; mulai aja dulu! Hal paling mendasar bagi seorang entrepreneur.


  • Be Different. Produk APD sudah banyak beredar di kalangan nakes, bahkan sering pula menggunakannya, tapi pernahkah mencoba merasakan sentuhannya ke badan saat dipakai bekerja? Pernahkah menanyakan bagaimana pendapat dan keinginan pengguna yang lain? Inilah kemampuan untuk peka terhadap kebutuhan pasar.

    Kepekaan mendeteksi kebutuhan pasar menjadi syarat untuk menciptakan sebuah produk yang berbeda dari yang sudah ada. Seiring berjalannya waktu tentu terjadi perbaikan disana-sini yang pada akhirnya akan membuat produk semakin unggul dibanding yang lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun