Mohon tunggu...
Lajma Khanie
Lajma Khanie Mohon Tunggu... Lainnya - Happy Writing

Freedom jurnalism

Selanjutnya

Tutup

Worklife

Untuk Para Commuter

29 November 2021   13:20 Diperbarui: 29 November 2021   13:52 77
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ada yang tak biasa dari rutinitas work life ku beberapa bulan ini. Ya, semenjak pindah rumah, tantangan terwow adalah jarak antara rumah ke tempat kerja. Alhamdulillah, kami sudah seperti artis yang pergi pagi pulang petang (eh..ini semi artis Ding).. Intinya kami akan berangkat saat anak kami tercinta masih bobok dan pulang saat dia sudah cantik mandi sore. 

Inilah resiko pekerja yang bekerja di Jakarta/Tangerang Kota, tapi tinggal di daerah. Habis adzan subuh harus siap mengalahkan kendaraan karena memang begitulah keadaannya. Jarak dan waktu yang harus tepat membuat kami harus berangkat pagi buta. Jika tidak, alamat akan terlambat.

Semenjak pindah, saya membiasakan diri untuk punya rutinitas ini. Jika dulu jarak antara kontrakan dan tempat kerja cuma 5 menit jalan kaki, 4 bulan ini, saya resmi menjadi commuter (sebutan untuk penumpang Kereta Rel Listrik) tujuan Tanah Abang Station. Meski stasiun terakhir saya adalah stasiun Kebayoran, tapi saya ikut KRL pagi. Ini adalah skenario yang tak pernah saya bayangkan, namun akhirnya saya lakukan. 

Ya, kami lebih memilih punya rumah di temaot jauh dari pada harus mengontrak. Kami mengambil keputusan ini dan bismillah, kami pun tinggal di Kabupaten Tangerang, yang menempuh jarak 1 (@? Naik KRL. Belum lagi, nyambung TJ dan Gojek yang jika ditotal mencapai angka 2 jam perjalanan. Pulang Pergi jadinya 4 jam.

Pindah ke tempat yang jauh dari tempat kerja rupanya menjadi gosip yang hangat di antara rekan kerja. Tak jarang, saya mendapat komentar 'wah, jauh banget rumahnya, atau pertanyaan, rumahnya dimana? Padahal orang ini tau kalau saya udah pindah rumah. Saya, kadang menanggapi dengan diplomatik namun kadang saya bawa becanda, saya bilang aja di atas bumi di bawah langit. Ada lagi yang bilang kenapa jauh banget? 

Laaah, kalau dana saya cukup buat beli rumah di Jakarta, saya nggak akan mau juga jauh Bu buuu.  Ada juga komentar yang menyarankan saya untuk resign. Lah, kalau saya Resign, pendapatan saya apakah anda yang mau ganti? Intinya, beberapa hari menjadikan saya terkenal dengan istilah orang jauh. Ya, ya begitulah.

Namun, lambat laut obrolan seputar rumah saya yang jauh itu hilang seiring dengan berjalannya waktu. Saya sekarang sudah mulai terbiasa dengan ritme kerja dan worklife yang mengharuskan saya bangun pagi. Saya juga terbantu dengan adanya adik sepupu di rumah sehingga saya jadi tidak khawatir meninggalkan anak yang masih bobok. 

Bagi saya, hidup ini adalah pilihan m toh, orang yang tadinya berkomentar kebanyakan adalah mereka yang asih ngontrak atau yang rumahnya masih numpang sama orang tua. 

Saya tidak membalas komentar mereka dengan status mereka. Yang saya akhiri komentar mereka dengan kalimat "Alhamdulillah, nggak ngontrak jadi hak milik". Jujur, pada akhirnya kita yang memutuskan untuk pindah rumah, nggak ngontrak, naik KRL, berangkat pagi, sesungguhnya itu adalah pilihan dan ujian.

 Kesabaran kita diuji. Bukankah kalau kita sabar, ikhtiar sambil cari yang lebih baik, Berdo'a, dan memohon solusi dariNya, Allah Ta'ala pasti akan memberi jalan. Sekarang, saya menyemangati diri bahwa saya bukanlah satu-satunya commuter yang harus bangun pagi, ngantuk, dan lain-lain. Masih banyak orang yang sepeti kita perjuangannya dan mungkin, kita malah lebih bersyukur

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun