Mohon tunggu...
Lailatul Q
Lailatul Q Mohon Tunggu... Freelancer - blogger

Guru, Blogger, Traveller

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Jangan Cuma Pintar Menulis

26 Agustus 2021   11:30 Diperbarui: 26 Agustus 2021   11:40 91 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Jangan Cuma Pintar Menulis
Dokumentasi Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip

Survive di jalur literasi tidak mudah di jaman semua tinggal comot lalu tempel. Butuh banyak vitamin, energi, dan tekad yang kuat untuk tetap melahirkan tulisan dan mengembangkan kecerdasan dengan membaca.Semangat membaca dan menulis tak ubahnya sebuah balon yang bisa kembang kempis kapan saja tergantung peniupnya. 

Balon tidak mungkin bisa bertahan terus kembung tanpa ada angin yang ditiupkan dan mengendap di dalamnya. Demikian pula kemauan membaca dan menulis. sulit untuk bisa bertahan tanpa adanya dukungan orang lain.

Telah banyak lahir buku-buku inspiratif karya penulis-penulis hebat tentang dunia kepenulisan yang hendak mereka tularkan secara 'blak-blakan' kepada semua orang yang berminat bermain dengan dunia baca-tulis. 

Andreas Harefa misalnya, dengan karyanya Happy Writing, seolah memberikan gambaran tentang dunia yang amat mudah dan menyenangkan ini. Menurutnya, mengajak orang lain untuk tertarik menyelami dunia kepenulisan adalah bagian dari profesinya sebagai penulis. Katanya, ia berkewajiban untuk menyebabkan lahirnya tulisan dan sekaligus menjadikan orang-orang tergerak untuk menjadi penulis.
Lain hal dengan penulis asal Madura, Tirmidzi, dengan karyanya Aku Menulis Maka Aku Kaya. Tulisan-tulisan yang terpisah dan tema yang beragam ia sajikan, yang secara akumulatif bermuara pada satu titik, yakni motivasi menulis. 

Tidak jauh berbeda dengan visi Andreas Harefa, sama-sama berjuang memotivasi dan mengejak seseorang untuk terjun ke dunia kepenulisan.

Demikian pula dengan Eko Prasetyo, merangkum beragam motivasi dan informasi solutif tentang dunia tulis dalam karyanya Jangan Cuma Pintar Menulis. Ia menantang para penulis untuk tidak hanya pandai menulis, tapi bagaimana tulisannya bisa dibukukan. Jangan Cuma pandai menulis, tapi terbitkan karyamu! selorohnya pada tulisan pembuka yang juga ia pilih menjadi judul bukunya.

Tentu tidak semudah itu, bukan? Menerbitkan buku tidak semudah menggoreng telur. Jika dianalogikan, kegiatan menulis hingga menerbitkannya menjadi sebuah buku, seperti mendapat tantangan ekstrim; mendaki gunung Maha Meru, atau panjat tebing. Sulit tapi pasti bisa asal ada usaha.

Maka, tidak ada salahnya saya kira untuk mencontek proses menulis para penulis hebat. Ternyata metode menulis Buya Hamka sangat sederhana, ia menulis secara bebas dan membiarkan gagasannya mengalir apa adanya. Baru setelah itu, ia memeriksa kembali hasil tulisannya.

Namun, tidak semua orang bisa. Setelah tulisan rampung, lalu bagaimana cara mengirimkan ke penerbit? Bagaimana pula jika tulisan kita ditolak? Sebenarnya, kalaupun naskah kita ditolak, itu bukan berarti naskah kita bakal tamat atau mandul. Self publishing adalah salah satu kiat untuk menembus penerbit. 

Sebagaimana dilakukan oleh J.K. Rowling misalnya, solusi yang ditawarkan pengarang buku ini cukup realistis. Jika penerbit menolak dengan alasan tertentu, bukan berarti tulisannya yang jelek, bisa saja hanya karena persoalan judul yang kurang kekinian dan kurang provokatif.

Namun, terlepas sari itu semua, kemuan dan tekad yang kuat menjadi energi tersendiri untuk terus menekuni dunia literasi.

Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan