Mohon tunggu...
Eni Kus
Eni Kus Mohon Tunggu... wiraswasta

suka menari bali

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Membentuk Millenials Beradab

1 Maret 2019   17:49 Diperbarui: 1 Maret 2019   18:03 0 1 1 Mohon Tunggu...
Membentuk Millenials Beradab
republika

Selama satu dekade ini, salah satu focus kita adalah menjalani kemajuan peradaban sekaligus kehidupan dengan mengandalkan teknologi. Kemajuan teknologi ini membuat berbagai hal menjadi berbeda dibanding sebelumnya.

Dahulu seorang tokoh masyarakat kita kenal dengan baik melalui kehadirannya secara  fisik ditengah-tengah lingkungan masyarakat atau keluarga. Atau dia menjadi panutan sebuah komunitas. Dia menjadi panutan karena betul-betul dikenal, baik karena adabnya dan konsistensinya terhadap hidup dan nilai-nilai yang dianutnya.

Kini semua itu bergeser. Banyak orang yang entah karena adab, pekerti dan konsistensinya menjadi panutan kaum muda. Bisa juga karena prestasinya. Semuanya itu dikenal oleh para millennial melalui media sosial dan media online. Media masa kini yang berbasis teknologi itu mendistribusikan konten dengan massif, sehingga seseorang bisa jadi menjadi tokoh (dengan tiba-tiba) dan dikenal luas oleh anak muda.

Sayangnya tidak semua yang dianggap panutan (biasanya juga termasuk influencer) benar-benar punya pekerti, keberadaban yang layak dicontoh oleh kaum millennial. Beberapa tokoh yang sering muncul di media sosial justru sering menggunakan kepopulerannya untuk memahami hal-hal yang tidak seharusnya. Semisal pemahaman soal toleransi dan lain sebagainya. Sehingga seringkali kaum millenials itu menjadi terpengaruh . Karena seringkali mereka tidak memeriksa kembali track yang dimiliki oleh para tokoh yang 'boom' di media sosial itu.

Hal ini bisa saja terjadi karena seringjkali teknologi bisa lebih menonjolkan satu sisi dibanding sisi lainnya. Sisi A yang berisi hal-hal baik dan menakjubkan lebih menonjol dibanding sisi B yang mungkin bernuansa gelap dan menyedihkan. Bagi orang-orang yang tak tahu soal sisi gelap akan cepat terpengaruh teknologi yang banyak menonjolkan sisi prestasi. Padahal mungkin prestasinya itu belum teruji oleh waktu dan tidak cukup beradab.

Banyak contoh dalam konteks ini. Ada artis yang punya banyak penggemar, dan seringkali mengutip kata-kata dari para filsuf misalnya, tapi ternyata punya perilaku agresif secara verbal dan kasar. Begitu juga tokoh yang sebelumnya dikenal sebagai aktivis dan punya banyak simpatisan tapi ternyata dirinya adalah seorang manipulatif terhadap fakta.

Dari hal-hal inilah sebaiknya, para millennial bisa menguji sosok yang benar-benar bisa menjadi panutan diri dan lingkungannya. Untuk menguji apakah panutan tersebut benar-benar layak disebut panutan dan mengajarkan  budi pekerti yang dibutuhkan oleh millenials. Panutan yang benar-benar memang panutan seringkali tidak menonjolkan 'aku' tetapi mereka bisanya punya standar pribadi yang cukup tinggi dan teruji waktu sehingga memeng layak ditiru oleh kaum muda.