Muhamad Kurtubi
Muhamad Kurtubi wiraswasta

Kompasiana tempat belajar menulis. Saya lahir di Cirebon. Pernah jadi muridnya Pak Quraish Shihab di IAIN Jakarta. Lebih lengkap Kurtubi.com\r\n

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Solusi Pendidikan Seks Lewat Mata Pelajaran IPA

15 Desember 2011   03:32 Diperbarui: 25 Juni 2015   22:15 1304 0 2

Pro kontra pentingnya pendidikan seks di sekolah barangkali bisa diatasi dengan pendekatan pelajaran sekolah itu sendiri. Sebab interaksi antara murid  dan guru cukup intens dan mata pelajaran seperti IPA Biologi adalah satu-satunya media  yang tepat. Pagi itu  giliran saya  untuk melakukan tutorial  pembelajaran IPA bagi anak-anak setara SMP di salah satu sekolah non formal. Kebanyakan warga belajar di sekolah non formal adalah anak-anak putus sekolah. Sehingga usianya beragam ada yang di atas 17  tahun ada yang masih seusia 15 tahun. Dalam tutorial itu saya kebagian menjelaskan tentang bab perkembangan biakan makhluk hidup pada manusia. Dalam buku teks yang saya baca, ternyata perkembangan manusia dijelaskan secara rinci disertai gambar-gambar bagian dalam alat-alat reproduksi manusia, dan bagaimana proses terjadi zigot (bahan dasar perkembangan manusia). Seperti yang pembaca sudah ketahui, bagaimana rahim itu memiliki anatominya, di mana terjadinya percampuran antara testis dan ovum, lalu apa yang terjadi setelah sperma laki-laki masuk ke dalam indung telur wanita. Berapa banyak sperma yang diterima dan selanjutnya kenapa terjadi kehamilan, dan menstruasi. Semua saya jelaskan apa adanya sesuai dengan buku ajar yang disediakan. Kebetulan buku-buku yang saya jadikan rujukan adalah BSE (Buku sekolah elektronik) yang saya dapatkan dari bse.kemendiknas.go.id. Karena sifatnya penjelasan gambar, maka dalam setiap mengajar saya gunakan infokus sehingga perhatian murid betul-betul dari buku yang saya sorot lewat infokus. Ditambah dengan animasi dan berbagai macam gambar pendukung. Pendeknya,  semua yang saya lakukan itu menurutku, merupakan pendidikan seks yang bagus lewat mata pelajaran. Dengan mata pelajaran ini, guru bisa berinteraksi dengan murid, mempertanyakan dan menjadi peluang untuk menjelaskan bagaimana seharusnya seorang murid yang kebanyakan sudah memasuki usia akil baligh itu agar menjaga kesehatan alat-alat reproduksinya. Melihat paparan yang saya sampaikan itu, para murid merasakan sesuatu yang baru dan di antara mereka terkesan risih dan canggung dan pada gilirannya ada murid yang "nyeletuk" "Pak Jangan bahas ini dong, saya jadi jijik?" Respon pertama ini cukup menarik, saya berasumsi kalau anak ini belum pernah mendapatkan penjelasan tentang alat-alat reproduksi. Pada bagian evaluasi, saya bertanya kepada para murid, "Anak-anak jadi di manakah proses pembentukan atau produksi seperma bagi laki-laki?" Dan jawaban yang mengagetkan terlontar dari satu anak yang usianya sekitar 20 tahun, "Tempatnya di dengkul pak, sebab kalau kebanyakan keluar seperma, denkulnya bisa keropos!" Jawaban anak ini, sepertinya tidak ada pengaruh dari penejlasan panjang lebar yang saya paparkan. Ini membuktikan bahwa paham dari luar lebih mendominasi anak remaja dalam masalah seks. Karenanya, pendekatan pembelajaran lewat mata pelajaran ini tidak bisa hanya sekilas dan membutuhkan interksi yang lebih intens lagi. Begitulah sesi pengajaran biologi yang paling menarik, sekaligus merupakan ajang yang tepat sebagai wahana pendidikan seks bagi anak sekolah yang kebanyakan masih terlalu awam dalam menyerap informasi seputar seks. Sebab tidak sedikit anak remaja tanggung ini mendapatkan informasi dari teman-temannya yang seusianya. Pendekatan Agama bagaimana? Pengalaman saya, saat di pondok ada pelajaran masalah yang berhubungan dengan ini lewat bab-bab fiqh dasar. Misalnya, menjaga kebersihan, mengenal jenis-jenis air untuk bersuci, dan seputar menstruasi apa dan bagaimana yang harus dan tidak boleh dilakukan.  Lebih fokus lagi, bagaimana cara mencuci alat kemaluan bagi laki-laki dan perempuan. Dari pendekatan fiqh (how to) itulah yang tertulis dalam buku-buku karangan ulama terdahulu. Adapun pendekatan agama yang lain guna mencegah penyimpangan seksual  tidak terkait dengan masalah fiqh, tetapi lebih kepada keimanan yang intensif. Inilah yang bisa mencegah terhadap hal-hal yang bisa mengurangi dampak  penyiimpangan seksual di luar koridor. _____ Baca lebih lanjut tulisan  Indriati SeePendidikan seks sekolah dasar di Jerman, kesan saya orang Jerman kok lebih hati-hati yah dalam membahas pendidikan seksnya.