Muhamad Kurtubi
Muhamad Kurtubi wiraswasta

Kompasiana tempat belajar menulis. Saya lahir di Cirebon. Pernah jadi muridnya Pak Quraish Shihab di IAIN Jakarta. Lebih lengkap Kurtubi.com\r\n

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Orang Baik Akrab dengan Musibah

23 Agustus 2011   08:07 Diperbarui: 26 Juni 2015   02:32 1169 3 1

Terinspirasi oleh cobaan yang menimpa kawan kompasiana dan kepedulian Pak Dian Kelana pada kawannya yang  tengah dilanda  cobaan.  Saya teringat beberapa   tahun lalu,  setelah mudik dari Cirebon, mobil dan motor teman saya dibawa kabur maling. Kini ia hanya meratapi nasibnya.  yang lain pernah pula ditempa musibah yang cukup hebat. Juga saya sendiri dan Anda pembaca sekalian, juga pernah mengalami bukan? “Kang, motor isun wingine ilang.” (Mas, motor saya hilang dua hari yang lalu.) “Ha!” jawabku kaget. “Nembe bae sekie, mobil isun ilang” (baru saja, mobilku hilang juga) “Haaaaaaa….!!!!!” Begitulah kawanku sedaerah yang tinggal di Ciputat ini menelpon saya saat kejadian kedua. Tak bisa dimengerti, dalam tempo dua hari kendaraanya hilang begitu saja. Motor GL MAX buat bisnis antar barang  hilang saat diparkir di garasi rumahnya. Ketahuan, setelah ia datang dari kampung. Sedangkan mobil barunya yang biasa untuk mengangkut komputer dagangannya dua hari berikutnya, saat ia sendiri memarkir sebentar di kantin miliknya, samping UIN Ciputat. Padahal ia sendiri hanya sebentar masuk ke dalam. Begitu ke luar mobil itu kabur sendiri tanpa terdengar apa-apa. Kini, ia hanya menunggu dalam ketidakpastian apakah kendaraanya bisa kembali atau tidak. Yang jelas ia sudah melaporkan kasus itu kepada polisi sektor Ciputat. “Tolongin dong kang, punya orang pinter tidak yang bisa menolong saya?” “Maksude?” “Ya barangkali bisa menolong secara hikmah” “Wah kalau itu sih saya tidak tahu. Mungkin kalau David Copperfield jadi datang ke sini, kita bisa minta tolong dia untuk menyulap mobilmu kembali.” “BocahGeblg!” “Iyaa isun turut prihatin atas musibah sing menimpamu. Tapi yaa kepriben maning, isun beli bisa nulungi.” (ya saya turut prihatin atsa musibah ini, tapi saya tidak bisa mengembalikan mobilmu) “Kenen Mud, jare wong tua ning Crebon, sumangsane wong dagang rumbah soun sambele tumplek, iku tandae bakalan dagangane laris.” (begini Mud, kata orangtua di Cirebon, kalau ada tukang gado-gado sambel cairnya tumpah berantakan, maka itu pertanda baik kalau dagangannya bakalan laku keras.) “huhahahaha…” ia tertawa tertawa lepas. *** Saya melihat kejadian ini betul-betul mengagetkan. Kawanku yang dianggap orang baik-baik saja, terkena musibah beruntun. Namun juga sepertinya musibah itu tidak mengenal apakah orangnya baik atau buruk. Namun secercah informasi dalam ajaran agama (Islam) kita pun bisa memperoleh informasi bahwa orang baik itu bisa akrab dengan musibah. Yang membedakan barangkali adalah bagaimana menyikapi musibah itu sendiri. Menyikapi Musibah Yang paling ekstrim ada yang tega melakukan bunuh diri sedangkan yang paling bagus adalah bersabar. Ada banyak informasi wahyu terhadap masalah ini. Misalnya  Allah akan bersama dengan orang-orang yang sabar ketika ditimpa musibah (QS. Al Anfal: 46, 66). Sedangkan yang bunuh diri (tidak sabar) akan peroleh konsekwensi berat di hari kemudian. Diantaranya alat yang digunakan untuk membunuh dirinya akan hadir di akhirat dan terus-menerus menyiksanya unlimit. (Lih. Sunan Al-Bukhory : 5333). Musibah itu sendiri hakikatnya berasal dari Allah, karenanya dikembalikan kepadaNya (Albaqarah: 156). Dibalik musibah itu pasti terdapat hikmah yang mendalam. Pertanyaannya, apakah hikmah dibalik musibah itu dan bagaimana menyikapinya? Musibah (cobaan) bermacam-macam jenisnya. Misalnya yang biasanya bekerja lancar, kini di PHK; yang biasanya beroleh keuntungan 5 juta kini hanya 500 ribu; bahkan yang biasanya tidak pernah berhutang, kini menghadapi jeratan hutang hampir mencekiknya. Bahkan teman saya hilang kendaraan berhar-ganya dalam tempo yang singkat. Dampaknya orang menjadi stress, putus asa, resah dan gelisah. Kekuatan hati dan jiwanya merosot tajam. Padahal musibah itu bukan tidak selamanya adzab dari Allah, bahkan ia lahir dari tangan (kesalahan) dirinya (Arrum: 36; Asyuura: 30). Manusia yang tenang-tenang saja ketika ditimpa musibah bisa kita tiru. Mungkin ia menganggapp seba¬gai angin dari Selatan. Dia meyakini angin Utara dan angin Barat akan bertiup berganti-ganti. Kebangkrutan, kegagalan dan kekecewaan seberapa parahnya, dibawanya tenang-tenang saja. Gambaran orang yang kedua ini bisa jadi karena jiwanya tersadarkan oleh kekuatan ilmu yang meruhani. Seringkali kalimat yang terucap: “hidup bagaikan roda berputar”, “hidup tidak ubahnya gelombang sinus dalam osciloscope” dst. Musibah Identitas Seorang mukmin senantiasa hidupnya dikelilingi oleh penyebab yang membuatnya ketar-ketir. Namun hal ini tidak lain karena Allah mencintainya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw: Artinya: “Seorang mukmin tidak pernah sepi dari penyebab yang membuat hidupnya tidak dirasakan: “nama baiknya dirusak, kebutuhannya terus-menerus membebaninya….. “ Nama baik yang dirusak meru¬pakan sebuah cobaan yang cukup berat. Nama adalah identitas yang paling pribadi. Musibah Menguji Kebaikan Salah satu hikmah dari musibah itu sendiri adalah saat datang dan menimpa pada seorang hamba, tidak lain untuk menguji dan meningkatkan derajat kebaik¬an. Bukankah Allah akan terus menguji hakekat keyakinan (iman) hati seorang hamba terhadap Tuhannya (QS. Al Ankabut: 2). Karenanya, boleh jadi orang yang tengah ditimpa musibah dan cobaan semata-mata orang itu tengah dikaruniai suatu nikmat atau suatu kebaikan. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يُرِدْ الله بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ Artinya: Rasulullah bersabda: “barang¬siapa yang akan diberi kebaikan maka Allah memberi cobaan berupa musibah.” (Soheh Al Bukhary. Hadits no. 5313) Menurut Abu Abi Alharwi, maksud hadits tersebut adalah diujinya seseorang dengan berbagai musibah yang menimpanya semata-mata agar memperoleh kebaikan. Adapula yang mengartikan bahwa maksud hadits itu adalah untuk menampakkan suatu kebaikan maka ditimpalah musibah pada seseorang. (Fatkhul Baari) Musibah Diampuni Dosa Hikmah berikutnya dari suatu cobaan adalah diampuni dosanya. Sebagaimana hadits Rasulullah yang didengar oleh Abu Ubaidah: رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : من ابتلاه الله ببلاء في جسده فهو له حطة “ Abu Udaidah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang diuji oleh Allah dengan suatu cobaan yang menimpa badannya, maka itu adalah pengampunan dosanya.” (tafsir Al Qurthubi). ” إذا أحب الله قوما ابتلاهم فمن صبر فله الصبر ومن جزع فله الجزع “ “Jika Allah mencintai suatu kaum mereka dicoba dengan musibah; apabila sabar dicap sebagai orang yang sabar, jika tidak akan ditimpa kegelisahan.” Musibah tak Terelakkan Musibah juga merupakan cobaan yang akan terus menimpa orang-orang beriman seperti hembusan angin yang menerpa pepohoanan. Karena orang-orang beriman akan selalu diujicoba. Sementara orang munafik cobaanya lebih berat. Dalam hadist yang lain, Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan musibah yang menimpa orang mukmin itu seperti tanaman. Tidak akan henti-hentinya diterpa angin. Sementara perumpamaan orang munafik se¬perti batang pohon yang kuat dan tak bisa digoyang oleh angin sehingga harus ditebang.” (Albayaan: 1580). Maaf untuk postinga ini ada karakter huruf arabnya, karena sengaja agar bisa dicek rujukannya. Wallahu a’lam. Sumber: Nuzhatul Majalis, Tafsir Al Qurthubi, Tafsir Ibnu Katsir, Albayan (Alquran/Hadits digital), Fatkhul Baari, Soheh Al Bukhary.   Repost dari Blogku

Salam Kompasiana