Mohon tunggu...
Abdul Malik
Abdul Malik Mohon Tunggu... penulis seni budaya

penulis seni. tinggal di kebonagung, malang. blog: kebonagungadalahsurga.wordpress.com, ig:adakurakurabirudikebonagung. buku yang sudah terbit: dari ang hien hoo, ratna indraswari ibrahim hingga hikajat kebonagung

Selanjutnya

Tutup

Travel

Omahkayu di Malang

19 Agustus 2014   14:11 Diperbarui: 18 Juni 2015   03:10 0 2 2 Mohon Tunggu...
Omahkayu di Malang
1408406649112977338

TIGA TAHUN LALU, Enny Asrinawati dari Meizhtruation Performance, mengirimkan data tentang beberapa artspace di Malang. Tercatat: Dewan Kesenian Malang Jl.Majapahit 3, Anjungan Ken Arok Perpustakaan Umum Kota Malang Jl.Semeru, Forum Kebudayaan tiap tanggal 28 yang digelar Nashir, Poestaka Rakjat, Depan Stasiun Kota Baru Malang Jl.Sriwijaya, Mamipo (Malang Meeting Point) Jl.Kediri 4, Warung Apresiasi Jl.Blitar 8, Idea Circuit Jl Ki Ageng Gribig, dan beberapa kampus di Malang. Data tersebut saya kirimkan ke Indonesia Contemporary Art Network (iCAN) Jl.Suryodiningratan 39 Yogyakarta. iCAN mengolah data tersebut sebelum mereka hadir dalam diskusi seni rupa sekaligus peluncuran buku Teater Kedua Afrizal Malna yang diterbitkan iCAN. Syarifudin (Kurator), Dr. Djoko Saryono, MPd. (Pascasarjana Universitas Negeri Malang), Titarubi, Antariksa, Afrizal Malna hadir di Aula AVA, Gedung E 6 Lantai 2, Fakultas Sastra Universitas  Negeri Malang, Rabu, 6 April 2011. Panitia lokal saat itu Indra Suherjanto, Laboratorium Drama Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Selain Malang, diskusi seni rupa dan peluncuran buku Teater Kedua Afrizal Malna berlangsung di 6 kota di Jawa Timur: Mojokerto, Jombang, Jember, Surabaya, Nganjuk.

Menyimak data artspace yang didokumentasikan Enny Asrinawati tiga tahun lalu, hari ini saya memeriksa kembali nama-nama tersebut. Forum Kebudayaan yang digelar Nashir, Poestaka Rakjat sempat berpindah ke depan Universitas Brawijaya namun kini sudah tutup. Warung Apresiasi Jl.Blitar 8 tempat awal Komunitas Pelangi Sastra Malang (Ragil Sukriwul, Denny Mizhar dkk) menggelar diskusi dan Redy Eko Prastyo main jazz juga sudah tutup.

[caption id="attachment_353826" align="aligncenter" width="300" caption="Suasana pembukaan pameran ketjilbergerak �Ideologi Franchise dan Pajak Yang Belum Dibayar�, di Omahkayu, Malang,(19/3/2014) .(Foto; Aditya Keceng Sasongko)"][/caption]

Tema artspace mengemuka menjadi salah topik diskusi dalam jagongan bersama Aditya Nirwana (Keceng), mahasiswa Kajian Seni Program Pascasarjana ISI Jogja dan Arif Junaidi (Jempong), pengelolaOmah Kayu.

Artspace tak bisa dilepaskan dari masyarakat. Untuk itu dibutuhkan negoisasi,” Aditya Nirwana membuka perbincangan di Omah KayuJl.Sigura-gura Barat IV no.17 Malang (Kamis, 20/3/2014). Arif Junaidi sebagai pengelola Omah Kayu hingga saat ini masih melakukan pendekatan intensif pada warga sekitar Omah Kayu. Posisi OmahKayu berada pada ujung jalan sehingga parkir para tamu dikhawatirkan mengganggu aktivitas warga sekitar. Kekhawatiran itu kembali muncul saat pembukaan pameran ketjilbergerak “Ideologi Franchise dan Pajak Yang Belum Dibayar”, Rabu (19/3/2014). Tamu yang hadir melampaui ekspektasi, parkir sampai mendekati Jl.Sigura-gura. Padahal panitia tidak mencetak undangan maupun poster. Hanya publikasi di jejaring media sosial dan web ketjilbergerak.org.Jauh-jauh hari sebelum pembukaan pameran, Arif Junaidi telah melakukan pendekatan personal baik ke Ketua RT maupun warga sekitar OmahKayu. “Proposal pameran ketjilbergerak saya foto kopi dan saya bagi ke warga sekitar Omah Kayu,” kata Arif Junaidi.

[caption id="attachment_353827" align="aligncenter" width="300" caption="Musik akustik (Foto; Aditya Keceng Sasongko)"]

1408406762169772997
1408406762169772997
[/caption]

Lokasi Omah Kayu awalnya tanah kosong milik salah satu dosen Universitas Negeri Malang. Arif Junaidi berinisiatif mengolah tanah kosong tersebut dengan aktivitas yang menghasilkan uang alias “nyambut gawe”. Pak dosen setuju. Arif Junaidi lantas menguruk lahan kosong dan membangun Omah Kayu. Setelah WS tutup karena proyek pengembangan kampus UM, para pelanggan mulai mencari tempat ngopi yang baru. Ada yang ke WS lokasi baru di Jl.Ambarawa, sebagian ngumpul di Omah Kayu. “Awalnya semua yang datang bawa kopi bubuk sendiri-sendiri, baru diseduh di Omah Kayu. Lama kelamaan yang datang, banyak yang meminta tolong ke saya untuk dibuatkan kopi. Jadilah warung kopi,” cerita Arif Junaidi dengan rendah hati. Omah Kayu menjadi ruang pameran seni rupa pertama kali saat pameran bersama Kentjing Andjing tahun lalu. Yang pameran ya kawan-kawan Universitas Negeri Malang: Novan Tri, Agus Suga, Bobby Nugroho, Sigit, Yujin Sick, Wibi Asrob. Pameran berlangsung lancar. Meskipun begitu, Arif Junaidi dan kawan-kawan bersepakat untuk Omah menggelar pameran per tiga bulan di Omah Kayu.

[caption id="attachment_353828" align="aligncenter" width="300" caption="Jagongan santai ditemai secangkir kopi.(Foto; Aditya Keceng Sasongko)"]

14084068751240586154
14084068751240586154
[/caption]

Salah satu sosok penting dalam pameran ketjilbergerak di Omah Kayuadalah Aditya Nirwana. Lulus dari Universitas Negeri Malang, dia melanjutkan studi pada Kajian Seni Program Pascasarjana ISI Jogja. Kegelisahannya pada dunia seni menemukan rumahnya pada komunitas ketjilbergerak, sebuah komunitas anak muda di Jogja yang berkomitmen pada kerja-kerja budaya yang bersifat kolaboratif. Menghimpun anak-anak muda untuk membuat aktivitas dan kajian sosio kultural: seni rupa, musik, street art, collective art.  Setiap minggu ketjilbergerak mengadakan pameran, berpindah-pindah lokasi pameran. Program ketjilbergerak adalah Angkatan Perubahan, Kelas Melamun dan Ben Prigel. Aditya Nirwana pernah menjadi kurator pameran pada salah satu program ketjilbergerak. “Sebagai anak muda saya berhasrat untuk membuat pusaran sendiri. Memiliki gerakan anak muda dengan semangat anak muda, berdikari dan tak tergantung pada pemilik kuasa,” katanya bersemangat. Boleh jadi tokoh Minke dalam Tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer telah mendarah daging dalam tubuhnya. Dalam pameran ketjilbergerak di Omah Kayu, 19 hingga 25 Maret 2014, dapat disebut peran Aditya Nirwana adalah “networker”.

[caption id="attachment_353829" align="aligncenter" width="300" caption="Omahkayu salah satu tempat kongkow kongkow di Malang. Minum kopi, teh, ada pameran seni rupa, ada musik akustik. (Foto; Aditya Keceng Sasongko)"]

1408406956498267335
1408406956498267335
[/caption]

Kamis, 20 Maret 2014 saya berkesempatan hadir dalam pameran ketjilbergerak “Ideologi Franchise dan Pajak Yang Belum Dibayar”.Pertama. Poster pameran sungguh cerdas menafsir judul pameran, sebuah bangunan dengan warna salah satu “franchise” yang kini menjamur di sekujur negeri ini. Dan, Garuda Pancasila “mewakili” sosok ideologi. Saya tercenung dan merunut kembali apa-apa saja produk “franchise” di negeri ini. Paham demokrasi, marxis, kapital, agama, kuliner, teknologi komunikasi, pertanian, otomotif, lembaga pendidikan, dst. “Mestinya paham kejawen di-franchise-keluar negeri ya,” saya berseloroh pada Aditya Nirwana.

Kedua.Pameran disiapkan dengan serius, mulai catatan pengantar kuratorial, katalog, kemasan karya, display hingga eksekusi gagasan pada masing-masing perupa.

Ketiga.Masing-masing perupa menampilkan karya yang menarik. Yujin Sick (21), mahasiswa Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang menghadirkan 9 karya.Masing-masing berjudul: Garuda Bernyanyi Disaat Merah Bercampur Putih Menjadi Pink,Love Discount 2014, Make Art Not Liar, Youth Movement, I’m sorry Mr Fish, Nakai Coy, Psychology’s Dream, Didalam mimpi kita semua merindukan pasar tradisional, Penjara khayalan.

Karya Yujin Sick cenderung memvisualkan pendekatan personal atas apa yang dialaminya sehari-hari.

Bagus Priyo Beruang (27) menampilkan 6 karya. Bagus melakukan riset dalam bentuk wawancara dengan 6 sahabatnya di Surabaya dan Malang. Dari cerita-cerita sahabatnya tersebut, Bagus menafsirkannya dalam karya visual diatas kertas dan tinta cina. Karya-karya nya: Aku adalah Mikel Jakson, Orang Jawa Hade Euy, Kalah Judi Anak e Didol, No Cino, Kostum Antrian di Supermarket, Surat ijin keluar rumah.

Sita Magfira (23), menulis dalam catatan pengantar pameran bahwa di karya-karya Bagus, bahwa kita bisa menemukan enam hal berbeda yang berangkat dari kejadian-kejadian berbeda di dalam kehidupan subyek karyanya yang merupakan teman-teman Bagus sendiri. Di riset dan karya Bagus, kita dapat melihat, hadir kejadian-kejadian dalam keseharian teman-teman Bagus. Misalnya, karya No Cino tercipta sebab cerita dari kawan Bagus yang keturunan Cina dan sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan karena identitasnya itu. Ada juga Aku Adalah Mikel Jakson yang berangkat dari cerita seorangslow learner yang jadi bahan omongan orang-orang sekitarnya. Kejadian-kejadian itu muncul sebab adanya cara berpikir tertentu (yang kemungkinan bisa menyebar dari satu kepala ke kepala  lain).

ketjilbergerak featuring Robomontza menghadirkan 2 karya kolektif:Kultus Swasta dan Kultus Swasta 2. Kultus Swasta terbuat dari bahan resin berupa patung dari empat karakter 'kabe'. 'kabe' adalah singkatan dari nama empat karakter tersebut: 'k' untuk Kat si gadis cilik penyuka Metallica, 'a' untuk Are si street artist cilik, 'b' untuk Bit si pendiam yang suka buku-buku filsafat dan strategi perang, dan 'e' untuk Ebo si gendut lucu yang menyukai hiphop. Karya berjudul Kultus Swasta ini menampilkan empat karakter 'kabe' dalam bentuk yang tumpuk-tumpuk. Bentuk Kultus Swasta sepertinya mengisyaratkan kesadaran bahwa untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, anak muda harus tumpuk-tumpuk, saling dukung, bekerja sama. Sedangkan judul karya tampaknya memang dimaksudkan untuk mengultuskan usaha-usaha yang dibangun sendiri tanpa bantuan dari mereka-yang-punya-kuasa. Demikian catatan Sita Magfira, alumnus Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Akhir kata, selamat berpameran untuk ketjilbergerak dan doa tulus agar Omah Kayu artspace berusia lebih lama dari Warung Sari. SalamArs longa vita brevis.(*)

KONTEN MENARIK LAINNYA
x