Mohon tunggu...
Kristin Siahaan
Kristin Siahaan Mohon Tunggu... Observer

Mulai dan nikmati prosesNya.

Selanjutnya

Tutup

Diary

Laptop Baper

25 Februari 2021   09:13 Diperbarui: 25 Februari 2021   09:20 100 9 2 Mohon Tunggu...

Memasuki tahun kedua duduk di bangku perkuliahan, ibuku membelikan laptop untuk mendukung studi sampai di tahap akhir. Alat ini sudah banyak berjasa terutama saat penulisan skripsi. Namun, sama seperti barang elektonik lainnya yang memiliki batas kedaluwarsa dalam pemakaiannya, laptop milikku ini juga mulai memasuki masa pensiun pemakaiannya. Sinyal yang ditunjukkannya ialah beberapa huruf di keyboard tidak lagi bisa digunakan. Tidak hanya sampai disana kerusakannya, puncak kerusakan yang cukup serius terdapat pada port charger yang sudah mulai longgar. Karena itu, ada tips yang tepat untuk mengisi daya baterai laptop.

Tipsnya yaitu charger harus selalu di kabel yang tepat tersambung dengan port yang ada didalam laptop. Jika tidak tepat dengan kabelnya atau terkena senggolan seseorang, maka baterai laptop tidak akan mengisi. Dengan keadaan laptopku yang begitu, aku menyebutnya dengan "laptop baper (bawa perasaan)." Karena setiap hari harus menggunakan laptop, aku mulai kesulitan untuk mengisi daya laptop. Kurang lebih 30 hingga 40 menit harus kuhabiskan untuk sabar berulang-ulang mencabut dan menghubungkan charger ke dalam port charger. Beberapa kali aku siap menyediakan waktu untuk mengisi dayanya. Tetapi, aku mulai berpikir

"Kalau demikian waktu yang selalu kuhabiskan, sayang sekali waktu yang harusnya kugunakan untuk pekerjaan lainnya, hanya dihabiskan untuk mengisi daya laptop padahal lazimnya waktu untuk menghubungkan charger dan port-nya hanya butuh 30 detik saja. Duh... Akhirnya, aku tidak sabar dan membiarkan saja daya laptopku lemah."

Pernah kuingat satu kali aku sangat membutuhkan laptop untuk mengetik bahan ajar ibu, ternyata laptopku tidak bisa dinyalakan lagi sebab dayanya sudah habis dan harus segera di charger. Aku mulai berulang-ulang menyambungkan port charger dengan sumber listrik (stop kontak) tapi tak kunjung tersambung. Kemudian, aku meminta bantuan kedua adikku untuk menyambungkannya dan mereka juga menyerah.

"Gimananya laptopmu ini kak? Udahlah beli aja charger baru kak. Habis waktumu loh" sontak adikku.

Mendengar respon adik-adik, bukannya membeli charger baru, malahan semangatku jadi kembali terdorong untuk mengisi dayanya. Dasar aneh... udah dikasih kemudahan, kok cari yang sulit. Seketika terbersit dalam benakku dengan perkataan seseorang yang mengatakan bahwa:

"Ada ikatan batin yang tercipta antara pemilik dengan sesuatu yang dimilikinya, entah itu benda juga orang terdekatnya. Tapi apa betul ya kata orang itu? Ah...kucoba saja siapa tahu memang bisa kuterapkan untuk laptopku" pikirku dalam hati.

Karena itu, kesabaranku mulai terisi kembali dan kucoba untuk mengisi daya laptopku kembali. Aku mulai dengan metode pertama yakni dengan memindahkan dari satu stop kontak ke stop kontak lainnya dan sudah mulai menunjukkan hasil. Walaupun masih harus dipantau apakah terisi atau tidak, setidaknya ada beberapa persen yang masuk ke baterai laptop. Ternyata, dugaan kalau ada chemistry antara pemilik dan barang pemilikmya benar juga nih. Walaupun laptop itu adalah benda mati, ternyata dia seolah punya perasaan juga yang memerlukan hati yang sabar untuk menghadapinya. Duh...laptop baper. He he...

Sebenarnya, keinginan hati terdalam, aku sudah sangat ingin membawa laptopku ke tukang servis laptop untuk mendapat perbaikan, namun aku belum memiliki dana yang cukup untuk membawanya kesana. Alhasil kesabaran adalah pilihannya. Aku harus punya amunisi kesabaran yang banyak untuk tetap membuat si laptop sensitif tetap bertahan.

Satu pelajaran hidup dari laptop baper yaitu sabarlah dalam kesulitan hidup. Tetapi cukup laptopnya aja yang baper, pemiliknya gak loh ya. hi hi... Terimakasih laptop baper.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x