Mohon tunggu...
Kompasiana News
Kompasiana News Mohon Tunggu... Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana: Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Terpopuler: Jogja Serba Murah Hanya Mitos hingga Konsekuensi Indonesia Berstatus Negara Maju

27 Februari 2020   04:18 Diperbarui: 27 Februari 2020   04:15 2422 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Terpopuler: Jogja Serba Murah Hanya Mitos hingga Konsekuensi Indonesia Berstatus Negara Maju
sumber foto: kotajogja.com

Rupanya kita perlu membuang jauh-jauh stigma kalau harga komoditas di Jogja itu serba murah. Pasalnya untuk perhitungan anak kos dari daerah, itu sudah tidak relevan lagi.

Terutama apabila kita berbicara harga buah, merujuk kepada besaran UMR di wilayah Jogja yang terbilang rendah, akan terasa bila kalian menetap di Jogja tanpa penghasilan yang memadai.

Selain perihal harga komoditas buah yang diperdebatkan, tentunya ada topik terpopuler lain yang menarik di Kompasiana kemarin. Seperti konsekuensi Indonesia jika menjadi negara maju dan Konsep Dasar Penanggulangan Banjir di Belanda yang perlu kita tahu. Berikut daftarnya:

1. Lingkaran Setan Harga Buah-buahan di Jogja

Dokumentasi penulis: Abul Muamar
Dokumentasi penulis: Abul Muamar
Jogja serba murah itu mitos yang harus segera dibuang jauh-jauh. Kenapa harga buah di Jogja bisa mahal mengingat UMR di sini rendah?

Lingkaran setan ini sebenarnya bukan cuma ada pada harga buah. Pada harga-harga komoditas yang lain pun juga sama, yang mana frasa "lingkaran setan" itu berlaku bila mengacu pada besaran UMR di Jogja. Contohnya pada harga sembako seperti telur, ikan, dan masih banyak lagi. (Baca Selengkapnya)

2. Menakut-nakuti Anak soal Seks Tak Membuat Mereka Pintar
Ilustrasi (sumber foto via psychologicalscience.org)
Ilustrasi (sumber foto via psychologicalscience.org)
Menakut-nakuti anak, terutama dalam bidang seksualitas, tak lantas membuat mereka pintar. Justru anak akan terjebak dalam paradigma yang salah tentang konsep kehidupan. Bisa saja kelak ketika dewasa, dia menjadi sedikit egois dalam mempertahankan pemikirannya. (Baca Selengkapnya)

3. Rahmat HS Kecele, Banjir di Jakarta Tak Mengenal Hari Libur
Sumber: terasjakarta.id
Sumber: terasjakarta.id
Menyalahkan gubernur memang mudah. Tapi memuji dan mengunggulkan kinerja gubernur sepertinya jauh lebih mudah. Buktinya Rahmat HS masih setia dengan pembelaannya kepada Anies. Meskipun jelas-jelas di depan mata banjir datang lagi di hari kerja.

Apa susahnya mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dari pada menutup-nutupi apa yang terjadi? (Baca Selengkapnya)

4. Tiga Konsep Dasar Penanggulangan Banjir di Belanda: Tanggul, Pintu Air, dan Pompa
Foto: dok. International Association of Dredging Companies
Foto: dok. International Association of Dredging Companies
Upaya Belanda dalam menangani banjir bisa kita contoh, terutama bagi Jakarta. Dalam menghadapi atau menanggulangi fakta alam/air itu, Belanda tidak muluk-muluk berteori, tetapi hanya mengacu pada tiga konsep dasar: tanggul, pintu air, dan pompa. (Baca Selengkapnya)

5. Berstatus Negara Maju, Ini Konsekuensinya bagi Indonesia
Ilustrasi (Sumber: Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR)
Ilustrasi (Sumber: Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR)
Beberapa hari lalu United State Trade Representatif (USTR) atau perwakilan dagang AS, merilis pengumuman resmi bahwa Indonesia telah dicoret dari daftar negara berkembang, dipindahkan ke daftar negara maju.

Melihat kondisi Indonesia sekarang, status baru tersebut lebih mencerminkan sebuah beban berat daripada sebuah prestise yang sudah saatnya dibanggakan. (Baca Selengkapnya)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x