Kompasiana News
Kompasiana News Editor

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Harapan, Rekonsiliasi, dan Evaluasi Pemilu Serentak 2019

29 April 2019   08:08 Diperbarui: 1 Mei 2019   23:00 316 5 0
Harapan, Rekonsiliasi, dan Evaluasi Pemilu Serentak 2019
Pasangan calon presiden dan wakil presiden, Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, berjabat tangan seusai debat perdana capres-cawapres Pilpres 2019 di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1/2019).  | Foto: KOMPAS/HERU SRI KUMORO 

Ada yang menjadi harapan banyak pihak pasca-pemilu serentak 2019 ini, yaitu terciptanya rekonsiliasi antar kedua kubu capres-cawapres.

Hal ini dianggap penting, apalagi efek polarisasi sejak sebelum atau saat kampanye pemilu telah terlalu runcing antar-masyarakat.

Rekonsiliasi ini, menurut Kompasianer Giri Lumakto, patut kita tunggu dan apresiasi. Sebab sejak dimulainya kampenye para kandidat, gesekan sudah mulai terasa seperti kentalnya politik identitas hingga gaduhnya linimasa media sosial dan efek pola pikir ala post-truth.

Selain itu, eveluasi pasca-pemilu 2019 juga dianggap tidak kalah penting kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai pihak penyelenggara. Sebagai contoh yaitu terus mengemukanya kesalahan input formulir C1.

Dari harapan dan masukan yang ditulis Kompasianer terkait Pemilu Serentak 2019 menjadi tajuk pilihan Kompasiana selama sepekan. Berikut 5 artikel terpopuler di Kompasiana:

1. Rekonsiliasi Rasa Polarisasi

Terkait wacana rekonsiliasi pasca-pemilu 2019 yang dilakukan oleh kubu Joko Widodo dan Prabowo Subianto, rasa-rasanya malah membuat Kompasianer Giri Lumakto sedikit pesimistis.

Pemilu yang membelah publik menjadi kubu 01 dan 02, lanjutnya, tidak akan luntur usai rekonsiliasi.

"Bagaimana jika nanti yang kita akan lihat malah polarisasi?" tulisnya.

Ada 3 hal yang membuat Kompasianer Giri Lumakto melihat wacana tersebut berpotensi membuat jurang disparitas sosial dan gejolak kebencian selalu ada. (Baca selengkapnya)

2. Pujian Tak Biasa Luhut untuk Prabowo

Luhut Binsar Pandjaitan menyebut, Prabowo Subianto merupakan sosok patriotik bagi bangsa Indonesia.

Selain itu, Luhut juga menyebut Ketua Umum Partai Gerindra tersebut sebagai sosok yang memiliki pemikiran rasional dan jernih.

Apa yang dilakukan Luhut ini, menurut Kompasianer Yon Bayu, memiliki posisi strategis ketika berusaha menemui Prabowo terlepas dirinya utusan Jokowi atau bukan. 

"Jika berhasil menemuinya, bukan mustahil Luhut akan bisa meluluhkan hatinya, minimal mendapat jaminan Prabowo akan mengakui apapun hasil keputusan KPU," tulis Kompasianer Yon Bayu.

Namun, mungkinkah Prabowo akan luluh hatinya karena sanjungan itu? (Baca selengkapnya)

Baca juga: Setelah Pemilihan Presiden 2019 Usai...

3. Gunakan Aplikasi agar Salah Input Tidak Jadi Tragedi

Proses perhitungan dan rekapitulasi suara Pemilu Serentak 2019 secara manual ini membutuhkan waktu 35 hari. Hal itu karena melibatkan segudang kertas fisik sebanyak 800 ribu lebih formulir C1 dan ratusan juta surat suara.

Walhasil, tulis Kompasianer Iskandarjet, selama itu pula kita menghadapi kisruh berulang bernama kesalahan input yang menjadi tragedi bagi pemilu itu sendiri.

"Mustahil proses yang lama ini hanya menghasilkan sekali kesalahan. Pasti berkali-kali. Dan ini menjadikannya tragedi," tulisnya.

Satu-satunya solusi untuk mengatasi lambat dan lamanya penghitungan suara adalah dengan menggunakan aplikasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2