Kompasiana News
Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Melihat Hubungan Orang Batak dengan Beras hingga Indonesia Surganya Durian

11 Maret 2019   08:08 Diperbarui: 12 Maret 2019   08:12 459 5 2
Melihat Hubungan Orang Batak dengan Beras hingga Indonesia Surganya Durian
ilustrasi: arga durian ditawarkan mulai Rp 80.000 per butir. Beberapa stan durian menjual durian dengan hitungan per kilogram. (Foto: KOMPAS.COM/WAHYU ADITYO PRODJO)

Dalam budaya Batak, fungsi beras bukan sekadar makanan pokok. Tetapi, lebih dari itu, beras memiliki fungsi simbolik penting dalam kehidupan orang Batak (Toba).

Felix Tani menjelaskan, beras dalam budaya Batak tentu berakar pada fakta sawah sebagai inti budaya etnik ini. Sejak komunitas pertama terbentuk, lanjutnya, orang Batak diketahui sudah menjadi "komunitas lembah bersawah".

Dengan menggunakan beras, nasi ataupun tepung beras yang merupakan turunannya, orang Batak memanjatkan doa. Oleh karena itu, sejak awal beras sudah menjadi bahasa simbolik dalam praktik budaya Batak.

Selain penjelasan budaya Batak dengan beras, masih ada cerita menarik lainnya di Kompasiana seperti kisah perempuan pendayung sampan di Damnoen Saduak, Thailand hingga film yang sudah lama ditunggu: Captain Marvel. Berikut 5 artikel populer di Kompasiana selama sepekan ini:

1. Bagi Orang Batak, Beras Bukan Sekadar Makanan Pokok

Felix Tani melihat desa-desa asli Batak sekeliling Danau Toba merupakan desa lembah dengan ekologi persawahan. Ada hamparan sawah, sungai dan "tali air" (saluran irigasi tradisional) yang bermuara ke Danau Toba, dan perkampungan dengan pagar bambu hidup di tengahnya.

Oleh karena itu Felix Tani beranggapan, bagi orang Batak (Toba) fungsi beras bukan sekadar makanan pokok.

"Lebih dari itu, beras memiliki fungsi simbolik penting dalam budaya Batak," lanjutnya.

Dalam kehidupan orang Batak ada isitilah boras si pir ni tondi yang artinya beras penguat jiwa. Karena makna simboliknya menunjuk pada suatu doa pengharapan akan kebaikan, maka pemberian boras si pir ni tondi tidak boleh sembarang.

"Ada aturannya. Harus dilakikan oleh pihak yang menyandang  status sosial-adat yang lebih "tinggi" (karena ditinggikan secara adat)," tulisnya. (Baca selengkapnya)

2, Sampah, antara Musuh atau Sahabat

Kampanye mengurangi sampah plastik (diet plastik) dengan tujuan agar sampah bisa dikurangi atau pun agar tidak menjadi persoalan yang berdampak kepada masyarakat luas.

Namun, menjadi sebuah paradoks ketika bahwa ada sebagaian masyarakat yang justru menggantungkan hidupnya dari sampah plastik.

Itulah yang kemudian menjadi penting ketika kesadaran yang masih minim bagaimana memperlakukan sampah pun sering kali diabaikan. Sampah-sampah dibuang seenaknya walau pun terkadang tersedia kotak sampah.

"Padahal banyak cara yang bisa dilakukan untuk peduli dan menjadi sahabat sampah, satu di antaranya adalah memilah dan memilih sampah-sampah menjadi sesuatu yang bisa bermanfaat," tulis Petrus Kanisius. (Baca selengkapnya)

3. Perempuan Pendayung Sampan dan Komodifikasi Sosial di Damnoen Saduak

Damnoen Saduak adalah pasar terapung terbesar dan tersibuk di Thailand. Setidaknya terdapat 12 pasar terapung yang diperkenalkan berbagai biro perjalanan di Thailand.

Kedatangan Leya Cattleya ke Damnoen Saduak menemukan bahwa di sana terdapat lebih dari 200 kanal. Hal inilah yang kemudian membuat pasar ini menjadi mengular di antara pasar lainnya.

Namun, yang menarik Leya Cattleya adalah hampir semua pendayung perahu sekaligus sebagai penjaja dagangan di Damnoen Saduak adalah perempuan.

"Perempuan-perempuan itu mendayung sampan, sebutan untuk perahu kecil, sambil berjualan makanan dan buah buahan di atas perahu," lanjutnya. (Baca selengkapnya)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2