Kompasiana News
Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Sejarah Pilihan

Fragmen-fragmen Tragedi Mei 1998 dalam Cerita (2)

21 Mei 2018   11:38 Diperbarui: 24 Mei 2018   09:56 1311 6 0
Fragmen-fragmen Tragedi Mei 1998 dalam Cerita (2)
Mahasiswa merayakan kemunduran Presiden Soeharto di halaman Gedung DPR/MPR. (Foto: Arbain Rambey)

Kami akan menceritakan ulang tragedi Mei 1998 dalam beberapa fragmen  secara kronologis berdasarkan kesaksian. Kesaksian yang dihimpun dari sejumlah penuturan dan risalah tertulis yang bermodal ingatan.

Tulisan ini sekadar catatan (tentang) sejarah dari jejak-jejaknya  yang terserak, lalu kami pungut kembali. Semoga catatan ini mampu menjadi pengingat sekaligus. Semoga.

***

Universitas Trisakti, 12 Mei 1998

Siang  itu ribuan mahasiswa melakukan aksi damai di dalam kampus Universitas Trisakti. Perlahan bergerak maju Jalan S. Parman dan hendak menuju DPR. Namun selang berapa lama mahasiswa dihadang.

Mahasiswa dilarang untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya ada negosiasi antara petugas dan mahasiswa. Tawaran itu diterima baik oleh pihak mahasiswa yang kemudian melanjutkan aksinya di depan bekas kantor Wali Kota Jakarta Barat.

Aksi aman dan terkendali hingga sore. Polisi kemudian mamasang police line. Mahasiswa diminta mundur sekitar 15 meter dari garis tersebut. Kembali mahasiswa diperingati untuk kembali ke kampus, karena sudah pukul 5 sore.

Pinta mahasiswa kala itu hanya satu: agar pasukan yang berdiri berjajar mundur terlebih dulu. Kapolres dan Dandim menyetujui.

Perlahan mahasiswa bergerak kembali ke kampus, membubarkan diri. Tidak ada  apa-apa. Tertib. Kapolres bahkan senang dan mengucapkan terima kasih atas aksi damai tersebut. Hujan turun, cukup deras.

Namun, 15 menit kemudian terdengar suara tembakan dari arah barisan belakang mahasiswa. Mereka berlarian menyelamatkan diri masuk ke gedung kampus. Sedangkan dari luar petugas terus menembaki. Gas air mata bahkan puluhan kali dilempar ke dalam gedung kampus.

Sampai pukul 11 malam situasi kampus tegang. Tembakan, gas air mata dan ketakutan yang  luar biasa. Mahasiswa yang mengalami luka dilarikan ke rumah sakit. Sedangkan yang mendapat luka berat dibawa ke Rumah Sakit Sumber Waras.

***

Harian Kompas, 13 Mei 1998

Insiden di Universitas Trisakti, Enam Mahasiswa Tewas

Jakarta, Kompas - Enam mahasiswa Universitas Trisakti,n Jakarta, tewas terkena  tembakan peluru tajam yang ditembakkan aparat keamanan sewaktu terjadi aksi keprihatinan ribuan mahasiswa yang berlangsung di kampus Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat, Selasa (12/5). 

Keenam mahasiswa itu tertembak sewaktu berada di dalam kampus oleh berondongan peluru yang diduga ditembakkan oleh aparat yang berada di jalan layang  Grogol (fly over Grogol). Puluhan mahasiswa lainnya menderita luka-luka  berat dan ringan. (red: setelah diidentifikasi, ternyata 4 mahasiswa)

***

ilustrasi: Kembali terjadi bentrok antara massa dengan aparat. (Foto: Arbain Rambey)
ilustrasi: Kembali terjadi bentrok antara massa dengan aparat. (Foto: Arbain Rambey)

Jakarta, 13 Mei 1998

Bersama teman kampusnya, Anita Godjali membicarakan tentang kejadian kemarin. Ternyata mahasiswa yang tewas sebanyak 4 orang: Hery, Elang, Hendriawan dan Hafidhin. Selepas kuliah mereka merencanakan untuk melayat ke kampus Trisakti.

Ada seorang teman menawarkan mobilnya. Berangkat bersama dari kampus ke Trisakti. Anita Godjali menyarankan untuk naik angkutan umum saja, "karena kalau terjadi sesuatu di jalan kita bisa keluar lebih cepat," katanya.

Menjelang makan siang orasi dan aksi solidaritas yang dilakukan mahasiswa masih berlangsung. Banyak yang datang untuk mendoakan keempat mahasiswa, berbelasungkawa. Siang yang mengharubiru.

Anita Godjali pergi menemani temannya yang sedang hamil makan siang. Namun suara tembakan kembali terdengar. Suara itu berasal dari arah jembatan Grogol. Orang-orang berlarian. Tidak sampai lima menit, jalanan sepi. Lenggang.

Beruntunglah. Dalam kondisi seperti itu sebuah Metromini  91 (Tanah Abang - Batusari). Meski penuh, akhirnya ia dan temannya yang hamil itu diperbolehkan naik.

Baru beberapa meter Metromini bergerak, sudah dihadang barisan polisi. Mereka semua yang ada di dalam Metromini diminta keluar. Anita dan temannya hanya bisa berlari, menyelamatkan diri.

Suara tembakan masih terus terdengar. Temannya  yang hamil itu sampai menangis. Tapi mereka tidak berhenti berlari. Angkutan apapun, bajaj atau taksi sekalipun, tidak ada yang kosong untuk bisa dinaiki.

Dalam usahanya untuk menyelamatkan diri dan pulang, banyak  yang mereka lihat. Dari ketiga orang yang membuntuti sampai penjarahan. Secara bergantian orang-orang memanggul barang elektronik, pakaian atau  apa saja yang bisa dibawa. Bahkan sampai pembakaran beberapa gedung.

Meski sudah sampai di rumah kaki Anita Godjali tetap bergetar. Takut itu nyata.

***

Berthy Rahawarin melewati Kampus Tarumanegara dan Trisakti dengan bis Cikokol, Tangerang menuju Grogol. Hari masih pagi, sekitar pukul sembilan. Tapi  sisa-sisa kerusuhan kemarin seakan masih terasa di jalan itu.

Kemudian kerusuhan kembali terjadi di mana-mana. Asap tebal mengapung di udara Jakarta. Jakarta lumpuh total.

Barulah ketika sore Berthy Rahawarin bisa pulang menggunakan taksi. Sesampainya di runah, ia mengajak warga perumahan Mahkota Mas untuk berjaga di sekitar komplek. Ada yang dibakar sebelum dan sesudah dijarah.

***

ilustrasi: Penjarahan di daerah Glodok, Mei 1998. (Foto: Arbain Rambey)
ilustrasi: Penjarahan di daerah Glodok, Mei 1998. (Foto: Arbain Rambey)

Jakarta, 14 Mei 1998

Jakarta kini lebih sering sepi. Jalanan lengang. Tetap di rumah adalah pilihan terbaik. Namun hari itu Nugroho tetap bertugas seperti biasa. Ia hendak pergi ke Pintu III Kelapa Gading.

"Agak susah mendapat kendaraan umum," katanya, ketika menyadari sudah dua hari ini Jakarta memanas.

Sepanjang  jalan arah Priok dan sekitarnya itu ia melihat asap hitam membumbung. Tinggi sekali. Gerombolan massa bergerak. Ingin rasanya ia pulang, tapi hari itu ia terjebak dalam kerumunan (dan, kerusuhan).

Angkutan kota ia hentikan. Setelah di dalam baru ia menyadari sesuatu yang  janggal: penumpang lain meminum minuman kaleng dengan bentuk dan merek yang sama.

Ia turun untuk memastikan keadaan. Nugroho lalu melihat  apa yang terjadi di jalan Pemuda: massa tumpah ruah. Merusak, membakar,  menjarah, sampai tanaman pot di pinggir jalan dirusak!

Suasana semakin tidak kondusif. Nugroho ingin kembali ke indekos di daerah Mampang Prapatan. Polsek Matraman telah habis hangus dibakar. Sejauh mata memandang seakan-akan setiap sudut kota diisi kekacauan. Dan ketakutan.

Orang-orang  membawa apa saja yang ada dari dalam toko swalayan. Ketika ia melihat seorang membawa beberapa kotak susu untuk anak dengan dua kantung plastik besar, ada yang kemudian menghampiri orang itu sambil memohon. Wajahnya mengiba, "tolong, untuk anak saya di rumah."

***

Jakarta, 19 Mei 1998

Puluhan ribu mahasiswa dari puluhan perguruan tinggi di wilayah Jabodetabek  "menduduki" gedung DPR/MPR. Mereka bukan saja memadari pelataran DPR, tapi juga menaiki kubah gedung. Gedung DPR/MPR sudah dikuasai mahasiswa.

Ini merupakan demonstrasi terbesar yang pernah dilakukan mahasiswa sepanjang 30 tahun terakhir. Sampai malam mereka tetap bertahan di sana. Ada yang tetap orasi sampai di sudut-sudut pelataran gedung membacakan puisi.

Pada saat yang bersamaan di kawasan Thamrin-Sudirman-Silang  Monas mulai dipenuhi barikade kawat berduri, ban-ban bekas dan puluhan panser. Penjagaan mulai diperketat. Negara sudah siap berjaga, lewat  aparatnya "melawan" rakyatnya.

Sedangkan 100 mahasiswa kedokteran UI dan 30 dokter spesialis juga sudah bersiap di beberapa lokasi titik  rawan kerusuhan. Mereka tersebar bersama dengan 15 mobil ambulans.

***

Harian Kompas, 20 Mei 1998

Pak Harto: Saya Ini Kapok Jadi Presiden

Jakarta, Kompas - Presiden Soeharto mengemukakan, kedudukannya sebagai presiden bukanlah hal yang mutlak, karena itu tak masalah untuk mundur.

"Bagi saya, sebetulnya mundur dan tidaknya itu tidak menjadi masalah. Yang  perlu kita perhatikan itu, apakah dengan kemunduran saya itu, kemudian keadaan ini akan segera bisa diatasi?" ujar Presiden Soeharto, dalam  jumpa pers di Istana Merdeka.

***

Harian Kompas, 21 Mei 1998

Selamat Datang Pemerintahan Baru

Halaman muka Harian Kompas, 21 Mei 1998 (Foto: Arsip Harian Kompas)
Halaman muka Harian Kompas, 21 Mei 1998 (Foto: Arsip Harian Kompas)

*) Kembali ke bagian 1

(HAY)